2. Sebagai Penutup Hari yang Buruk

3.7K 257 11
                                        


Warn!
Semua adegan kekerasan, suicide, dan harsh word tidak untuk ditiru!
Bijaklah dalam memilih bacaan!

Happy reading🐻



Aneh, padahal siang tadi begitu terik dan membakar kulit. Namun setelah beberapa jam, langit kembali menghitam, menampakkan awan gelap yang bergerak lebih cepat menutup sang surya di atas sana.

Gilang sudah tidak tahu, seberapa lama lagi ia harus menunggu disini. Disebabkan oleh si Keyla- sebutan untuk motor bebek butut kesayangan Gilang- yang tiba-tiba ngambek tidak mau jalan. Cowok berpenampilan awut-awutan itu menghela napas frustasi, menyesal karena menolak tawaran Shabin untuk berangkat bersama.

Kebisingan sore itu menemaninya selepas pulang sekolah. Menggenggam tas gitar kesayangan dengan wajah yang celingukan kesana-kemari menunggu angkot yang lewat. Ia tidak tahu, seberapa lama lagi harus berdiri disini. Terhitung sudah lebih dari dua puluh menit Gilang habiskan berdiri di depan gerbang sekolah. Anak itu mengusak kasar rambut hitamnya seraya meludahkan permen karet yang sedari tadi bersemayam di dalam mulut.

"Ini supir angkot lagi pada libur, apa emang gak niat nyari duit, sih?" gerutunya.

Ting!


Satu notifikasi masuk dari Sena. Mengabarkan bahwa mereka semua sudah berkumpul di studio tempat biasa. Pesan yang menambah rasa kesal Gilang berkali-kali lipat. Kalau sudah begini ia harus mempersiapkan diri untuk disemprot 3 teman sejawatmya itu setelah sampai nanti.

Sabar|
Otw|

Demikianlah kira-kira isi balasan pesan yang Gilang kirimkan.

Tak berselang lama. Dari kejauhan muncul satu unit angkot merah muda yang ia nanti-nanti. Seketika senyum merekah langsung terukir indah di wajah yang penuh luka itu.

Begitu si angkot berhenti, dipeluknya gitar kesayangan itu sebelum melangkah naik.

Anak itu menunduk dan tersenyum sopan pada ibu-ibu yang ada di dalam sana sebelum naik dengan cara yang sopan pula.


Nahas. Ketika separuh badannya sudah masuk ke dalam, tubuh Gilang limbung tatkala satu tangan menariknya keluar, menyeret tubuh kurus Gilang untuk mengikuti langkah besarnya.

Gilang yang tak siap menerima pergerakan yang tiba-tiba itu akhirnya terjatuh. Anak itu bahkan memekik kencang saat dagunya bertubrukan dengan aspal. Membuat beberapa pasang mata yang ikut menyaksikan berteriak histeris.

"Bangun!" hardiknya. Tangan besar itu kembali menarik tatkala tak mendapati si pemuda kecil menuruti perintahnya untuk berdiri.

"Diam disana! Ini urusan saya dengan anak ini!" Leo. Ayah kandung dari Gilang itu menunjuk beberapa orang dewasa di sana yang terlihat ingin mendekat. Dan gertakan dari pria itu mampu membuat nyali mereka ciut seketika.


Merasa ada kesempatan saat sang ayah lengah, Gilang berdiri dan lari dari sana. Tak peduli mau kemana, yang jelas ia harus terbebas dari rengkuhan sang ayah, apapun caranya.

Namun agaknya sia-sia. Leo mengejar dan mampu mencapai tas ransel Gilang, sedang tangannya yang lain ia gunakan untuk meremas kerah seragam yang Gilang kenakan untuk ditarik paksa mengikuti langkahnya, lagi.

REDAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang