21. Kontras Dengan Mentari Pagi Yang Cerah.

1.3K 130 21
                                        

Warn!!!
Adegan kekerasan!!!






Di udara pagi yang hangat, langit biru menampakkan cerahnya kala hangat di pagi itu terasa menyengat.

Seorang remaja 12 tahun tampak berjalan beriringan mengikuti langkah anak-anak dari sekolah lain yang ikut berpartisipasi di festival yang sekolahnya selenggarakan. Anak itu memasang ekspresi terbaiknya kala tubuh kecilnya menyempil, menerobos rombongan yang sepertinya 1 atau 2 tingkat di atasnya itu.




"Permisi, permisi..." ujarnya sopan sambil melempar pandang ke arah wajah-wajah di sana.

Langkah mungilnya membawa dirinya ke lantai 2, tempat di mana kemungkinan sahabatnya tengah berada. Di kelas 8 A.

Anak itu─Galang─mengintip ke dalam. Semua pandangan otomatis mengarah padanya.


"Kakak-kakak ada lihat Gilang, nggak?" tanya anak itu sopan pada beberapa siswi yang tengah ngerumpi di dalam sana.

Awalnya tidak ada yang menjawab, tapi saat Galang mengarahkan pandangannya pada seorang siswi berkacamata yang duduk di bangku paling depan, buru-buru gadis itu menggeleng.

Salah seorang gadis yang Galang kenali bernama Raya tampak mengedarkan pandangan. "Nggak ada," jawabnya.

"Coba cari di gedung theater. Dia 'kan hari ini ikut lomba." Salah satu gadis dengan rambut cepol kuda ikut menimpali.

Galang diam sebentar, tampak berpikir. Rasanya tidak mungkin Gilang ada di gedung yang sudah dipastikan sekarang penuh sesak itu. Karena sejauh Galang mengenalinya, Gilang itu alergi keramaian. Apa mungkin anak itu ada di atap?

───────

Suara musik dengan hentakan-hentakan kuat menguasai indera pendengar Gilang saat tubuhnya ia gerakkan sesuai irama. Panas dari matahari yang naik sepenggalan itu tak mengganggu konsentrasinya sama sekali. Berputar, melompat, serta menggerakkan tubuh dengan gerakan yang sudah ia ciptakan sendiri, dan sudah Gilang hafal di luar kepala.

Begitu sampai di killing part, tubuh Gilang sontak berhenti saat musik yang ia putar lewat speaker bluetooth mendadak berhenti. Menoleh ke belakang, presensi Dean adalah yang ia lihat pertama kali.


"Gue udah peringatkan lo buat ngundurin diri, gue gak main-main sama omongan gue, Gilang."

Gilang menghembuskan napas malas. Ia usap keringat yang membasahi pelipisnya dengan lengan baju sambil berjalan santai ke tempat di mana Dean berada, kemudian menyetel musiknya kembali. Mengabaikan Dean yang merasa kesal bukan main sebab diabaikan.

Gilang kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, sebelum suara benda pecah menguasai indera mereka. Speaker bluetooth kecil itu kini sudah hancur berkeping-keping akibat dibanting oleh Dean.



Gilang yang terpancing emosi langsung menghampiri dan mendorong tubuh Dean hingga punggungnya menghantam pintu atap.

"Gue gak pernah ganggu lo, bangsat!"

Dean meringis saat punggungnya terasa nyeri terkena gagang pintu. Menatap Gilang nyalang dan balik mendorong tubuh anak yang lebih tinggi hingga termundur beberapa langkah ke belakang.

"Dengan lo ikut-ikutan semua yang gue ikutin, secara gak langsung lo itu udah ganggu gue!"

Gilang melongo tak percaya, "Apa lo bilang? Gue yang ngikutin lo? Gak salah denger nih gue?" Gilang bertepuk tangan, menatap Dean dengan mulut terbuka, takjub.

REDAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang