Langit masih menyimpan sisa-sisa jingga di ujung sana, tapi bayangan sudah mulai memanjang di sepanjang jalan. Udara masih sedikit hangat, meski perlahan berubah menjadi dingin seiring berhembusnya angin malam. Lampu-lampu jalan juga sudah menyala. Suara kendaraan pun terdengar lebih tenang daripada siang tadi.
Setelah berjalan beberapa saat mengikuti langkah kaki, aku merasa seperti tersesat. Tempat ini, aku yakin jalan yang kulewati tadi siang. Tapi entah kenapa terasa sangat asing. Dunia ini terasa aneh, seperti ada yang bergeser tanpa suara, tapi aku tidak tahu pasti apa yang berubah. Aku masih bernapas, jantungku juga masih berdetak, tapi semuanya terasa hampa.
Aku tidak tahu lagi harus melangkah ke mana. Semuanya menjadi abu-abu. Kupikir aku sudah cukup sial menerima fakta bahwa papa bukanlah papa kandungku. Ternyata aku masih bisa lebih sial lagi dengan mengetahui fakta bahwa ayah kandungku bahkan tidak pernah tahu ada seorang anak yang terlahir hasil dari benihnya. Rasanya seperti menemukan pintu yang selama ini kucari, hanya untuk menemukan bahwa pintu itu tidak pernah dibuat untukku. Emang boleh hidup se-sial ini?
Sialan. Aku benar-benar terlahir hanya karena kesalahan. Dari awal tidak pernah ada yang mengharapkan aku terlahir ke dunia ini. Takdir sialan ini kenapa harus terjadi padaku?
Sibuk meratapi nasib, aku sampai terkejut bukan main ketika seseorang menepuk bahuku. Saat aku menoleh, seorang pemuda berusia duapuluhan menatapku penuh simpati. Apa aku terlihat seperti gelandangan? Duduk tanpa alas di ubin teras Alfamart. Padahal tepat di belakangku ada bangku. Entahlah, aku hanya asal duduk saja tadi. Sepertinya ada yang salah dengan otakku.
“Dingin, Mas. Duduk di bangku, ayo!” Aku mengikuti ajakannya begitu saja. Kami duduk berseberangan. Dia meletakkan sebotol kopi kemasan yang kutahu harganya sangat terjangkau.
“Ngopi, Mas?” tawarnya berbasa-basi sebelum menyesap kopi dinginnya.
“Silakan ….” Aku mengangguk saja.
“Ngerokok nggak?” Kali ini dia menyodorkan bungkus rokok beserta koreknya.
“Enggak, Bang. Makasih,” tolakku dengan halus. Kemudian aku memperhatikan dia yang mulai menyulut rokoknya. Setelah menghembuskan asap rokok, dia nampak menarik napas dengan berat lalu menghembuskan napas panjang.
“Hidup nih makin ke sini makin ke sana, ya?”
“Hah?” Aku menatapnya bingung.
“Ada aja gebrakannya.”
Aku tidak begitu paham perkataannya, tapi entah mengapa cukup mengerti. Nyatanya, aku juga sedang mempertanyakan makna kehidupan. Kenapa aku terlahir? Apakah aku masih pantas hidup?
“Walaupun masalah anak SMA kayak lo biasanya paling soal percintaan atau mungkin tentang pendidikan, tapi gue nggak bakal menghakimi lo dan bandingin masalah lo sama masalah gue. Karena nggak ada yang berhak menilai masalah siapa yang lebih berat. Setidaknya, saran gue minimal lo harus tetap hidup. Walaupun hidup kadang se-bercanda itu, pada akhirnya semuanya bakal berlalu. Temukan tujuan hidup lo dan fokus sama itu aja, udah,” ujarnya menasihatiku atau mungkin sedang menasihati dirinya sendiri juga. Karena setelah mengatakannya, dia tertawa getir kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Boleh minta satu nggak, Bang?” Melihat abang itu tampak menikmati benda yang penuh asap itu, aku jadi penasaran ingin mencoba.
“Ambil aja.”
Aku mengambil satu batang setelah dipersilakan. Mengapitnya di bibir, kemudian menyalakan korek, menyulutnya sambil menyesapnya perlahan—meniru apa yang dilakukan pemuda itu tadi. Sayangnya, belum apa-apa aku sudah terbatuk-batuk. Jujur, selama ini aku tidak pernah mencoba merokok. Meski beberapa kali teman-teman mencoba mengenalkanku dengan benda itu, aku sama sekali tidak tertarik. Tapi kali ini aku tergiur mencari ketenangan lewat benda itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anak Mama
FanfictionKata orang, aku terlalu penurut. Menjadi penurut juga melelahkan sebenarnya, aku hampir menyerah. Tapi, apa salahnya menuruti ucapan orang tua? Hanya karena mama selalu mengaturku dan aku menurutinya lalu mereka akan memanggilku anak mama? Pedul...
