Malam sudah cukup larut saat mobil bang Haidar sampai di depan rumah yang baru mulai dihuni lagi pagi tadi. Sebelum aku membuka pintu mobil, bang Haidar sempat memberi semangat dan sedikit melontarkan candaan. Aku benar-benar berterimakasih padanya juga pada teman-teman yang lain. Mereka datang ketika aku merasa duniaku sudah runtuh.
Setelah menata hati, aku membuka pintu rumah perlahan. Sempat takut sudah terkunci, tapi ternyata tidak— aku bisa masuk dengan mudah. Tidak ada suara sambutan. Tidak ada tanya kenapa aku pulang terlambat. Hanya lampu ruang tengah yang masih menyala, dan suara TV yang dibiarkan mengisi keheningan.
Mama duduk di sofa, menonton berita yang sepertinya tidak benar-benar dia ikuti. Sesekali menyeruput teh perlahan. Wajahnya datar. Tidak marah. Tidak lembut. Hanya ... kosong.
Aku berdiri di ambang pintu sejenak, sebelum akhirnya melepas sepatu pelan-pelan dan berjalan masuk. Inginku berjalan melewati mama dan langsung pergi mengistirahatkan tubuh di kamar. Tapi, entah mengapa langkah kakiku terasa berat. Ada tanya yang teramat ingin ku lontarkan. Sayangnya tertahan cukup lama di ujung lidah.
"Ma ...," akhirnya satu kata berhasil keluar dari mulutku, meski terdengar serak dan hampir seperti berbisik.
Mama menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar TV.
"Hm?"
"Aku ketemu orang itu. Yang katanya... ayah kandungku."
Mama tak bereaksi. Hanya satu detik jeda, lalu anggukan kecil. "Oh."
Aku terduduk di lantai, bersandar pada dinding. Rasanya aku tidak memiliki tenaga lagi. Tapi, rasa penasaranku begitu besar.
"Dia nggak tahu apa-apa, Ma," kata-kataku terdengar lirih. "Dia bahkan nggak tahu kalau Mama hamil setelah berhubungan dengannya."
Mama tidak menjawab. Mungkin memang sudah tahu.
"Aku ... cuma pengen tanya satu hal." Aku menegakkan posisi dudukku, menatap punggung mama.
"Kenapa Mama membiarkan aku lahir?"
Mama akhirnya mematikan TV. Suasana makin sunyi.
Aku melanjutkan meski suaraku semakin bergetar, "Kalau Mama nggak siap, kalau semuanya menyakitkan, kalau aku cuma jadi pengingat kesalahan masa lalu... kenapa Mama tetap melahirkan aku?"
Mama masih tak menjawab. Aku tak bisa mengartikan keterdiamannya.
Aku menunduk. Suaraku mulai sulit dikeluarkan. "Ma, aku bukan anak yang Mama banggakan. Nggak pernah bisa jadi yang Mama mau. Dan aku ... aku bahkan bukan anak dari orang yang Mama nikahi."
Aku menarik napas panjang, berusaha mengempaskan rasa yang terlalu lama kusimpan.
"Jadi, aku cuma pengen tahu … aku ini apa buat Mama? Harusnya aku ada nggak sih di dunia ini?"
Sunyi.
Lalu Mama akhirnya bicara, dengan suara lelah tapi jelas.
"Kamu anakku, Jidan. Itu saja."
"Tapi kenapa?! Kenapa Mama tetap memilih melahirkanku, padahal semuanya—"
"Aku nggak tahu!" Mama membentak. Suaranya pecah. "Aku ... nggak tahu, Jidan!"
Aku membeku.
Mama berdiri. Tubuhnya gemetar. Tapi kali ini berbalik, matanya menatapku langsung. Ada amarah. Tapi ada juga luka yang sangat tua di sana.
"Aku umur dua puluh, hidup sendirian, dicaci keluarga, ditinggal orang yang harusnya tanggung jawab! Aku nggak punya siapa-siapa waktu tahu kamu ada di dalam perutku! Aku takut. Aku muak. Aku marah!" Suaranya pecah menjadi isak.
"Aku pengen gugurin kamu. Aku sempet ke klinik. Tapi... aku nggak bisa. Aku lihat layar USG waktu itu dan... dan itu kamu."
Aku hanya bisa terdiam. Hanya menarik napas dan menghembuskannya dengan cepat, berusaha tidak runtuh di tempat. Padahal aku sudah menangis sampai puas bersama bang Haidar tadi. Kenapa, rasanya masih menyesakkan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Anak Mama
FanfictionKata orang, aku terlalu penurut. Menjadi penurut juga melelahkan sebenarnya, aku hampir menyerah. Tapi, apa salahnya menuruti ucapan orang tua? Hanya karena mama selalu mengaturku dan aku menurutinya lalu mereka akan memanggilku anak mama? Pedul...
