Aku terbangun ketika langit masih gelap. Udara pagi menempel di kulit seperti kabut dingin yang enggan pergi. Mataku perih—sisa air mata semalam masih terasa seperti garam yang belum sempat larut.
Aku bangkit perlahan, menyeret langkah menuju kamar mandi. Lantai terasa dingin di telapak kaki, dan air yang mengguyur tubuhku membuatku menggigil. Tapi mungkin bukan dinginnya yang membuatku diam lama di bawah pancuran, melainkan pikiranku yang terlalu berisik.
Selesai mandi, aku kembali menatap meja di kamarku. Di sana masih ada gelas susu yang tak tersentuh dan sticky note dari Elea. Tulisan kecilnya membuat dadaku menghangat, meski masih terasa nyeri di dalamnya.
Rasa sakit semalam belum hilang, tapi kini ada sesuatu yang membungkusnya—semacam lapisan tekad yang pelan-pelan tumbuh. Aku sadar, Elea, Anna, dan teman-temanku menyayangiku bukan karena apa yang kupunya, tapi karena siapa aku. Jika aku terus terpuruk, bukankah itu sama saja dengan mengecewakan mereka?
Aku meraih gitar di sudut ruangan. Memangkunya, lalu duduk di balkon. Udara pagi mulai terasa hidup ketika matahari perlahan menyingkap sisa-sisa malam.
Nada-nada pertama terdengar pelan, seperti percakapan yang tak ingin terdengar siapa pun. Semua emosi semalam—kekecewaan pada ayah biologisku, kemarahan pada Mama, sekaligus kelegaan setelah mendengar penyesalannya—mengalir jadi melodi. Kadang tersendat, kadang mengalun begitu saja.
Gitar selalu tahu cara menjawab tanpa bertanya. Saat aku senang, ia bernyanyi riang. Saat aku sedih, ia menangis bersamaku.
Bahkan ketika aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku, gitar selalu mengeluarkan nada yang tepat—seolah ia berbicara untukku.
Karena itu, setiap kali aku kehilangan arah, alat musik ini selalu jadi yang pertama kucari.
Pagi ini pun sama. Setelah bertemu seseorang yang membuatku penasaran begitu lama, aku malah kehilangan kata-kata. Mungkin aku kecewa, tapi juga lega. Aku kehilangan harapan, tapi syukurlah tidak banyak berharap dari awal.
Tidak memiliki ayah sepertinya bukan hal besar. Tapi… bukankah akan menyenangkan kalau punya ayah seperti orang lain?
Aku mendesah pelan. Padahal dia hanya laki-laki brengsek yang menyakiti Mama—orang yang menulis naskah paling buruk dalam hidupku. Tapi anehnya, dia masih betah di kepalaku, membuat berisik di sana, lebih berisik dari petikan gitar yang belum berhenti sejak satu jam lalu.
Hingga sebuah sentuhan lembut di bahuku membuatku terlonjak.
Aku refleks berdiri, menyembunyikan gitar di belakang tubuh ketika melihat Mama. Wajahnya tenang. Aku menatapnya waspada, bersiap mendengar omelan. Tapi yang keluar justru suara lembut.
"Ada temen kamu di bawah. Sekalian ajak sarapan, Mama udah masak."
Hanya itu. Lalu ia pergi.
Aku masih berdiri di tempat, tak percaya.
Tidak ada kemarahan, tidak ada kata-kata pedas, bahkan tidak ada tatapan tajam seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, aku merasa... Mama sungguh sudah berubah.
Setelah melamun beberapa saat, aku meletakkan gitar kesayanganku di tempatnya dan segera turun. Rasa penasaran membuat langkahku lebih cepat. Tapi ketika melihat ruang tamu, mataku langsung membesar.
Bukan satu atau dua orang—melainkan enam!
Serius? Pagi-pagi begini satu tim datang semua?
"Kamu kelas berapa?"
"Kelas sembilan, Kak," jawab Elea santai sambil menuangkan minuman.
"Punya pacar nggak?"
"Liam! Lo mau nyari pacar kek gimana juga terserah, tapi jangan adik gue!" seruku cepat.
"Liam! Lo mau nyari pacar yang kek gimana juga terserah, tapi jangan adek gue!" seruku cepat sampai menarik perhatian mereka. Enak saja adikku yang pintar, cantik, baik hati, dan tidak sombong itu mau sama alien macam mereka. Apalagi adikku itu kan masih polos sekali.
"Minta nomornya, dong?"
"Bang! Berantem ajalah kita sini!" Aku menghampiri bang Haidar dengan cepat. Berkacak pinggang tepat didepannya. Mereka semua langsung tertawa. Elea malah nyengir sambil beranjak ke dapur.
Bang Jun menimpali dari sofa, "Posesif banget, Ji."
"Anak kecil nggak boleh pacaran, ya!" sungutku. Pokoknya aku tidak akan membiarkan Elea memiliki pacar terlalu cepat. Apalagi dengan mereka, sampai kapanpun, tidak. Karena aku sudah terlampau hafal dengan tingkah mereka.
"Lo juga masih kecil udah pacaran," ledek bang Navis.
"Gue udah delapan belas tahun!"
"Masih kecil itu," timpal bang Marvin ikut mengompori.
"Udah punya KTP, ya!"
"Ngegas mulu, cil. Tumben," ujar bang Jen.
Aku mendengus. "Kalian, pagi-pagi udah grebek rumah orang. Ngapain coba?"
"Orang diundang nyokap lo," bang Jun berujar santai sembari menikmati kukis yang kubeli bersama mama di super market kemarin. Padahal aku berniat menyimpannya sendiri, hanya lupa belum diambil saja. Mama malah menyuguhkannya untuk mereka. Ya sudahlah. Aku jadi tertarik ikut duduk dan menikmati kukisnya.
"Maksudnya nyokap gue yang ngundang?"
"Iya, pagi-pagi banget nyokap lo telpon gue. Katanya suruh ke sini. Sekalian sarapan bareng." Liam yang sedang sibuk dengan ponselnya menjelaskan seadanya.
"Boong banget." Tentu aku tidak percaya. Mana mungkin mama melakukan itu. Untuk apa?
"Nggak percaya, yaudah."
Aku terdiam.
Mama... yang mengundang mereka?
Suasana rumah pagi itu jadi luar biasa ramai. Tawa mereka terdengar sampai dapur, bercampur dengan aroma masakan Mama. Aneh, tapi hangat. Kupikir pagi ini akan canggung dan sepi setelah semalam yang penuh air mata, tapi ternyata tidak. Mungkin Mama sengaja membuat rumah ini ramai. Entah untukku, atau untuk dirinya sendiri.
Yang jelas, aku melihat Mama tersenyum beberapa kali hari ini—dan rasanya, itu lebih berharga dari apa pun.
Menjelang pukul sembilan, kami berangkat ke perusahaan untuk membahas proyek berikutnya. Di ruang latihan, suasananya jauh lebih serius, tapi tetap akrab. Kami mendengarkan demo lagu title track dari perusahaan; lagunya menyenangkan, penuh semangat. Aku bisa membayangkan betapa serunya nanti saat kami membawakannya di atas panggung.
"Tapi kita butuh satu lagu lagi, yang punya rasa. Sesuatu yang lebih menyentuh," ujar manajer.
"Ada yang punya ide?"
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.
"Aku… mungkin ada sedikit melodi. Dapetnya tadi pagi."
"Kamu bikin lagu sendiri?"
"Cuma dua bait reff, sih. Belum selesai."
Bang Jen langsung menyodorkan gitar.
Aku menatapnya ragu, tapi akhirnya memainkan melodi itu. Petikan pertama terasa pelan, seperti mengulang pagi tadi. Aku bernyanyi lirih, nada demi nada mengalir tanpa kupaksa.
Aku jatuh lagi, tapi langit tak pergi,
Masih ada cahaya meski redup di sini.
Dunia mungkin kejam, tapi hatiku tahu,
Ada tangan yang selalu menunggu.
Aku luka lagi, tapi tak sendiri,
Ada suara lembut menuntunku berdiri.
Mungkin hidup tak selalu memberi arti,
Tapi cinta membuatku berani lagi.
Ketika selesai, ruangan menjadi hening.
"Udah, itu doang," kataku cepat, merasa malu.
Tapi respon mereka membuatku tertegun.
"Nanggung banget, Ji, lanjut dong!"
"Gila, dapet banget feel-nya."
"Kamu bisa selesain secepatnya? Ini bagus banget."
Aku tersenyum kecil. "Kalau satu minggu, mungkin bisa."
"Oke. Kita tunggu."
Entah kenapa, aku merasa sesuatu di dadaku menghangat.
Lagu itu lahir dari rasa sakit semalam, tapi pagi ini justru membuka pintu baru.
Mungkin memang begitu cara luka bekerja—kadang, dari rasa sakit, lahir sesuatu yang indah.
9/10/25
KAMU SEDANG MEMBACA
Anak Mama
FanfictionKata orang, aku terlalu penurut. Menjadi penurut juga melelahkan sebenarnya, aku hampir menyerah. Tapi, apa salahnya menuruti ucapan orang tua? Hanya karena mama selalu mengaturku dan aku menurutinya lalu mereka akan memanggilku anak mama? Pedul...
