Bagian 32

268 24 2
                                        

Bintang terbangun tengah malam saat merasakan sakit di perutnya yang begitu menyiksa, ia juga merasa perutnya begitu mual dan perih, seolah ada yang menyayat-nyayat dan mengkuliti perutnya dari dalam. Ia terduduk, berniat pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, namun gerakan Bintang rupanya membangunkan Gavin yang memang mudah sekali terbangun dengan gerakan kecil sekalipun.

"Bin, kenapa?" tanya Gavin dengan suara seraknya. Tak ada jawaban dari Bintang dan Gavin juga bisa melihat Bintang yang tengah menutup mulut dan beranjak cepat turun dari ranjang lalu berlari cepat keluar dari kamar menuju arah kamar mandi. Karena khawatir, Gavin segera berlari menyusul Bintang dan benar dugaannya, di dalam kamar mandi yang pintunya terbuka itu, Gavin bisa melihat Bintang tengah muntah-muntah di depan westafel dengan suara muntahan yang terdengar begitu menyedihkan. Dengan cepat, Gavin mendekat, ia berdiri di samping Bintang sembari mengurut pelan leher Bintang yang terasa basah oleh keringat.

"Muntahin aja, Bin."

Bintang hendak berbicara namun rasa mual yang menyiksa kembali memaksanya memuntahkan isi perutnya. Rasanya, seperti ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk perutnya saat ini dan tubuh Bintang pun terasa begitu lemas, kepalanya pun terasa berat.

Gavin memejamkan mata sesaat, ia benar-benar tak tega melihat Bintang seperti ini.

"Kak... d-darah?"

suara lirih Bintang membuat Gavin terkejut. Ia lantas mengalihkan pandangan ke arah westafel dan betapa terkejutnya Gavin melihat westafel putih itu telah berwarna merah, Bintang baru saja memuntahkan darah dari perutnya.

"Bintang, Bin... Kakak disini," Gavin mengintrupsi karena ia bisa merasakan tubuh Bintang bergetar hebat setelah anak itu melihat apa yang baru saja keluar dari perutnya. Gavin pun sama terkejutnya, namun ia tak ingin menunjukannya di depan Bintang dan membuat Bintang semakin merasa ketakutan.

"Arghhh... Kak... p-perut gue... s-sakit, Kak," erang Bintang kesakitan sembari meremat perutnya. Tubuh Bintang nyaris saja ambruk jika saja Gavin tak menahannya. Tak lama, Bintang kehilangan kesadarannya.

"Bintang! Ya Tuhan... Bintang!!" pekik Gavin yang panik begitu melihat Bintang tiba-tiba tak sadarkan diri.

"PA!! MA!! TOLONG!! BINTANG PINGSAN!! PA!! MA!!" teriakan Gavin menggema di dalam keheningan malam. Teriakan itu membangunkan seluruh penghuni rumah penginapan yang semula tengah tertidur lelap. Bima, Farah, bahkan Arkan juga terbangun dan menghampiri asal suara yang berasal dari kamar mandi yang berada di dekat dapur. Mereka yang baru saja datang begitu di kejutkan begitu melihat apa yang terjadi, bagaimana Bintang yang tak sadarkan diri dalam dekapan Gavin dengan darah yang menghiasi mulut juga sebagian wajahnya.

"Ya Tuhan, Bintang!! Vin.. Bintang kenapa?!" panik Farah. Gavin hanya menggeleng lemah, tubuhnya sedikit gemetar ketakutan.

"B-Bintang muntah darah, Ma, terus dia pingsan," gumam Gavin.

"Kita bawa ke rumah sakit aja ya. Ma, Arkan, tolong siapin barang-barang Bintang dan juga baju ganti buat Bintang. Biar Papa sama Gavin yang bawa Bintang ke mobil."

Arkan dan Farah hanya mengangguk lemah, mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi namun tetap menuruti ucapan Bima.

Di keheningan malam itu, liburan keluarga yang seharusnya membahagiakan justru berakhir dengan kepanikan karena kondisi si bungsu yang tiba-tiba saja melemah dengan sesaat.

****

Suasana lorong UGD itu begitu sendu. Suara tangis mengisi di depan sebuah ruang UGD di mana Bintang tengah di tangani di dalam sana. Bintang langsung di larikan ke rumah sakit terdekat karena kondisinya yang tiba-tiba memburuk.

Arkan terlihat menangis, jiwanya seolah kosong, tak jauh berbeda dengan Gavin, Farah juga tak henti menangisi putranya di dalam rengkuhan Bima. Farah menyesali segalanya, jika saja sejak dahulu ia lebih peduli pada Bintang, jika saja dahulu Farah lebih memperhatikan Bintang, mungkin saja penyakit Bintang bisa di ketahui lebih awal dan Bintang tak akan menjadi seperti ini.

"Bintang, maafin Ibu.. maafin Ibu Bintang, tolong kasih Ibu kesempatan untuk menebus segala kesalahan Ibu Bintang. Ibu mohon bertahan, Nak," lirih Farah di sela isak tangisnya. Tak lama pintu ruang UGD itu terbuka menampilkan seorang dokter yang sejak tadi menangani Bintang, berjalan keluar di ikuti dua orang suster di belakangnya. Farah, Bima, Gavin dan Arkan segera menghampiri sang dokter yang menampilkan raut wajah yang tak terbaca.

"Bagaimana kondisi putra saya, Dokter?" tanya Farah dengan suara seraknya.

"Pasien dalam kondisi kritis, Bu. Maaf sebelumnya, tapi saya sarankan supaya pasien di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar supaya mendapatkan perawatan yang terbaik karena rumah sakit kami terbilang kecil Pak, Bu, peralatan di rumah sakit ini juga tidak terlalu lengkap."

"Saya akan bawa anak saya ke rumah sakit Medika, Jakarta, Dokter. Biasanya Bintang di rawat disana," ucap Bima yang di setujui sang dokter.

"Saya akan persiapkan ambulans dan surat rujukannya, Pak."

Dan malam itu, liburan keluarga yang seharusnya menyenangkan malah berubah menjadi kesedihan karena bungsu keluarga Dewangga malah berakhir dalam kondisi kritis dan seolah berada di antara hidup dan matinya.

****

Malam itu terasa begitu kelam, ruangan itu terlihat begitu menyeramkan kendati Arkan dan Gavin hanya bisa melihatnya dari balik sebuah kaca kecil yang menempel di pintu. Air mata mereka tak henti menetes begitu melihat adik mereka terbaring lemah di dalam ruangan ICU dengan berhiaskan berbagai alat medis yang mengerikan. Kondisi Bintang kritis dan bahkan dokter Doni bilang harapan hidup Bintang sangat tipis, namun baik Gavin, Arkan maupun Farah dan Bima masih terus berharap bahwa keajaiban itu masih ada untuk bungsu mereka.

Malam ini Gavin dan Arkan yang bertugas menjaga Bintang, keduanya tak tega melihat Farah yang nampak kelelahan dan begitu kacau karena terus menangis, untuk itu keduanya memaksa Farah untuk pulang dan beristirahat malam ini di temani Bima di rumah. Bintang sendiri telah berada di ruang ICU selama empat hari, namun kondisi Bintang tak menunjukan perkembangan apapun. Kondisinya masih sama, anak itu seolah tertidur begitu nyenyak dan seolah tak ingin kembali.

"Ar, besok kamu sekolah aja ya. Kamu udah beberapa hari di sini. Kamu bentar lagi ujian. Kakak gak mau kamu terus bolos sekolah," ucapan Gavin membuat Arkan menolehkan kepala pada sang kakak lalu menggeleng pelan.

"Tapi, aku mau jaga Bintang di sini."

"Ada Kakak yang jaga Bintang. Besok Mama juga bakal kesini. Lagian Bintang gak bisa di kunjungi setiap waktu. Kamu bisa datang kesini saat jam besuknya Bintang nanti."

Arkan membuang nafas panjang, pada akhirnya ia hanya bisa menuruti sang kakak.

"Kak... Bintang... Bintang bakal bangun kan?" lirih Arkan. Gavin terdiam, kedua netranya menatap kosong ke dalam ruangan. Menatap kosong tubuh lemah Bintang di dalam sana.

"Kakak gak tahu, Ar. Tapi.. Kakak yakin Bintang itu kuat. Bintang pasti kembali sama kita."

"Aku... aku bahkan belum bisa jadi Kakak yang baik buat Bintang. Aku takut, Kak. Aku takut Bintang memilih menyerah. Aku takut Bintang pergi ninggalin kita."

Gavin hanya bisa terdiam, di rengkuhnya bahu sang adik. Keduanya hanya bisa memanjatkan doa kepada Tuhan untuk kesembuhan adik mereka. Keduanya tak rela kehilangan Bintang.












Hai... Bintang kembali... Maaf menghilangnya begitu lama. Aku lagi kehilangan minat menulis beberapa bulan ini, gak tahu kenapa rasanya ide untuk menulis benar-benar stuck makanya aku memilih untuk hiatus dulu walau sepertinya terlalu lama. Aku lagi berusaha menamatkan cerita-cerita aku karena aku tahu di gantung itu gak enak. Maaf juga untuk bab kali ini pendek dulu, karena aku lagi tes ombak dulu, kalau book ini masih ada peminatnya insyaallah aku bakal up lagi secepatnya. Aku ada rencana buat tamatin book ini beberapa bab lagi , paling banyak mungkin 3-4 bab lagi , semoga mood menulisku balik lagi dan ideku berdatangan dengan deras..

Terima kasih sebelumnya buat yang udah menunggu cerita ini meski authornya kadang suka ngilang gak jelas..wkwk

BINTANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang