Bagian 33

274 23 1
                                        

Arkan terdiam di bangku taman belakang sekolahnya. Di genggamnya piala di tangannya dan dengan tatapan kosong ia menatap piala yang bertuliskan" Lulusan terbaik SMA Alexandria, Kalandra Arkan Dewangga." Seharusnya, hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan, hari ini ia lulus dari bangku sekolah menengah atas dan menjadi lulusan terbaik, namun, kebahagiaannya seolah tak berarti sama sekali karena adik bungsunya kini tak berada di sampingnya dan tak bisa ikut menyaksikan dirinya lulus dari SMA hari ini.

"Arkan."

Arkan merasakan rangkulan di bahunya, begitu menoleh, ia bisa melihat sang kakak yang kini duduk di sampingnya.

"Kamu kok malah di sini? kenapa gak ikut teman-teman kamu foto-foto di dalam?"

Arkan hanya menggeleng pelan. Wajahnya terlihat begitu sendu.

"Aku kepikiran Bintang, Kak. Aku kangen sama Bintang."

Gavin tak menjawab, hanya helaan nafas berat yang terdengar setelahnya. Gavin menundukan kepalanya dalam, ia juga merindukan Bintang.

"Nanti kita hubungin Papa sama Mama ya, kita tanyain keadaannya Bintang sama Mama sama Papa," ucap Gavin. Arkan hanya mengangguk pelan, ia merindukan Bintang, setelah kejadian dimana mereka hampir kehilangan Bintang, kini Gavin dan Arkan terpaksa harus terpisah oleh jarak dengan Bintang karena Farah dan Bima membawa Bintang untuk melakukan pengobatan di luar negeri demi mengusahakan kesembuhan Bintang.



****

Flashback

Malam itu, tepat lima bulan yang lalu. Rasanya masih sama, perasaan keluarga Bintang masih di liputi ketakutan karena kondisi Bintang masih tak kunjung menunjukan perkembangan berarti. Anak itu masih setia dalam tidur panjangnya, hampir dua minggu Bintang masih berada di ruang ICU. Malam ini giliran Farah yang menjaga putranya, Gavin dan Arkan Farah biarkan tinggal di rumah, apalagi Arkan yang beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian nasional. Baik Farah maupun Bima ingin Arkan fokus pada ujian nasional yang akan menentukan kelulusan juga masa depannya nanti.

Farah telah memakai pakaian steril, tepat pada pukul tujuh malam, Farah bisa memasuki ruangan Bintang meski hanya dalam durasi lima belas menit, namun itu lebih baik daripada hanya melihat putranya dari luar ruangan. Farah ingin melihat Bintang secara dekat, Farah ingin berbicara pada Bintang, meski Farah tahu, putranya tak akan meresponnya sama sekali nantinya.

"Bintang," panggil Farah dengan lembut, di dekatinya ranjang Bintang lalu di usapnya lembut puncak kepala Bintang. Kedua mata Farah kembali meneteskan airmata, ia tak tega melihat kondisi putranya seperti ini.

"Bintang... maafin Ibu. Ibu tahu... Ibu tahu selama ini Ibu bukanlah Ibu yang baik buat Bintang. Ibu mohon.. kasih Ibu kesempatan untuk menebus segala kesalahan Ibu, Nak. Selama ini Ibu memang jahat. Ibu selalu gak peduli sama Bintang. Ibu selalu egois. Ibu selalu gak pernah perhatian sama Bintang. Ibu minta maaf.... Ibu minta maaf, Nak. Tolong bangun, Bintang. Kasih Ibu kesempatan untuk menebus segala kesalahan Ibu."

Hanya suara mesin EKG yang terdengar di sana. Rasanya, Farah seperti berbicara satu arah karena Bintang tak mungkin bisa membalas ucapannya , namun Farah tahu, di dalam alam bawah sadarnya, Bintang pasti bisa mendengar semua ucapannya.

"Sakit banget ya , Nak? Bintang boleh istirahat kalau memang sakit dan Bintang merasa capek. Tapi jangan lupa untuk bangun, Nak. Ibu kangen Bintang."

Farah lalu mencium lembut kening Bintang, airmatanya kembali berjatuhan. Penyesalan itu kembali datang, ia ingat dulu ketika Bintang sakit setelah di hukum Bima, anak itu ingin di temani olehnya dan ingin di rawat oleh Farah, namun Farah malah menganggap permintaan Bintang sebagai angin lalu. Demi mempertahankan keluarga barunya, ia malah melupakan Bintang dan tak mempedulikan Bintang. Farah bahkan tak pernah ingin tahu bagaimana perasaan Bintang dulu setelah kehilangan ayahnya. Dulu, ia hanya fokus pada kebenciannya pada Aryo, bahkan sempat tak peduli pada Bintang hanya karena Bintang selalu mengingatkannya pada mendiang Aryo padahal Bintang tak salah apa-apa. Bintang hanyalah seorang anak yang haus akan kasih sayang namun Farah tak pernah menghiraukan apa yang di inginkan oleh putra kandungnya sendiri. Sekarang Farah menyesal, ia menyesali segalanya, namun, apakah penyesalannya itu masih bisa di perbaiki?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BINTANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang