Langit malam itu tenang, tapi dada Jimin justru terasa sesak. Ia menggenggam gelas air hangat sambil berdiri di dapur, berusaha menenangkan degup jantungnya yang berlari liar. Sudah tiga kali hari ini ia merasa pusing. Dua kali mimisan. Dan satu kali hampir jatuh ketika bangun dari sofa.
Ia mengusap wajahnya dan memaksa diri tersenyum sebelum kembali ke ruang keluarga.
“jim?... ” tanya Hana sambil menoleh.
“aku baik-baik saja bu .”
Jimin duduk lagi di sebelah Seokjin, menabrakkan bahunya ke kakaknya itu dengan manja. “Drama-nya sudah selesai? Aku cuma ambil air sebentar.”
Seokjin menatapnya lama — tatapan meneliti, curiga, penuh kecemasan yang ditutupi oleh wajah malas pedulinya.
“Kau terlihat pucat,” gumam seokJin.
Jimin menatapnya sambil terkekeh. “Aku memang terlahir pucat, hyung.”
“Tidak. Ini pucat yang berbeda.”
Jimin pura-pura mendesah keras. “Hyung, aku sehat, oke? Tolong Jangan menjadi psikiater 24/7, please.”
SeokJin mendengus, bersedekap. “Aku kakakmu sebelum jadi psikiater. Itu artinya aku punya hak untuk cerewet.”
Hana tertawa kecil. “Kalian tidak pernah berubah. Dari dulu sama saja.”
“Tentu saja,” ujar Seokjin. “Adikku ini memang menyebalk—”
Jimin menyikutnya. “Ya Tuhan, hyung! Kau tidak bisa jadi romantis seperti oppa-idaman dalam drama?”
“Tidak, karena aku sibuk menjaga bocah keras kepala yang suka bohong.”
Tatapan Seokjin menusuk, seolah-olah ia baru saja hampir membuka semua penyamaran Jimin.
Jimin menunduk sedikit, lalu menarik napas perlahan. “Hyung… tolong. Aku benar-benar sehat kali ini .”
Jin memandang wajah adiknya lama sekali… lalu menghela napas, menyerah untuk malam itu.
“Kalau kau pingsan lagi, aku akan benar-benar memukulmu.”
Jimin tertawa. “Ya ya, Dr. Kim.”
Tawa itu indah.
Tapi di baliknya, kepalanya kembali berdenyut.
---
Beberapa hari setelahnya, Jimin menyadari kondisinya semakin sering memburuk. Pusing datang tanpa aba-aba. Hidungnya kembali berdarah saat ia sedang mencuci piring. Bahkan saat tidur, terkadang dadanya terasa sesak seperti ada beban besar menekan.
Namun ia tetap tersenyum.
Tetap membantu ibu memasak sarapan
Tetap membantu ayah mengurus taman kesayangan ibu .
Tetap menggoda Seokjin setiap pagi hanya untuk melihat tatapan malas tapi penuh kasih itu.
Malam itu, ketika Hana dan Jihoon sudah tidur, Jimin duduk di dapur sambil menelan obat penghilang sakit yang rupanya tidak terlalu membantu.
Seokjin masuk tanpa suara, hanya lampu kulkas yang menyala.
“jim?”
Jimin terlonjak. “Hyung? Kau mengagetkanku.”
“Aku tidak mengagetkanmu. Kau saja yang terlalu fokus menahan sesuatu.”
Jimin menggigit bibir. “Aku hanya… kepalaku sedikit berat.”
“Sudah seminggu ini kau bilang ‘sedikit’, ‘sedikit’, ‘sedikit’ ...”
Jin berjalan mendekat, suaranya melemah. “jim… lihat aku.” Jimin menatapnya.
Seokjin meraih dagu adiknya pelan, mengangkat wajah itu agar sejajar dengannya.
“Apakah kau… benar-benar merasa sehat?” tanya seokJin, pelan tapi tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LAST DAY
Fanfictionketika aku membuka mata di pagi hari bisakah aku melihat senyum mu yang tak pernah ku dapatkan sejak dulu ? maafkan aku Hyung -park Jimin ketika aku melihatmu , sesungguhnya saat itu pula aku mengingat semua yang telah berlalu dimana kau dan ibumu...
