THE LAST DAY (33)

194 22 3
                                        

Rumah sakit malam itu berbau getir—bau antiseptik yang menempel bersama rasa takut yang menggantung terlalu berat. Hujan turun perlahan menampar jendela, seolah ikut menahan napas.

Di kamar inap, Jimin duduk bersandar pada tumpukan bantal, napasnya pendek-pendek. Wajahnya pucat seperti kertas. Pipinya yang dulu berisi kini kembali tirus. Ada sisa darah yang belum sempat dibersihkan di bawah hidungnya, garis tipis yang meninggalkan bukti bahwa tubuhnya kembali menolak untuk bertahan.

Namun ia tersenyum kecil ketika melihat Seokjin masuk dengan langkah gelisah.

“Hyung,” suara Jimin serak, “kamu terlihat lebih tua sejak tadi pagi.”

Seokjin mendengus, duduk di tepi ranjang, memeriksa wajah adiknya seolah mata saja tidak cukup untuk memastikan Jimin masih hidup.
“Kim Jimin, aku bersumpah… kalau kau masih sempat bercanda di keadaan begini, aku—”

“—akan tetap mencintaiku, kan?” Jimin menyelesaikan kalimat itu sambil tersenyum kecil.

Hyung-nya menutup wajah dengan tangan, bahunya bergetar. “Jangan pakai candaan itu lagi… tubuhmu sudah seperti drama sejak dua minggu lalu.”

Di luar, Hana dan Jihoon menunggu kabar sambil memeluk satu sama lain. Mereka sudah terlalu sering menangis, tapi tidak malam itu. Malam itu, mereka hanya bisa berharap.

“Bagaimana dia?” Hana bertanya begitu Seokjin keluar sebentar.

“Masih mencoba tidur,” jawab Seokjin, “tapi pusingnya datang lagi. Dokter bilang… selnya tumbuh lebih agresif sekarang.”

Hana memejamkan mata. “Tuhan… kenapa anakku lagi…”

Jihoon merangkulnya lebih erat, tak mampu mengucapkan kata-kata penghibur apa pun. Mereka telah menghabiskan separuh hidup tiga berpisah dengan putera bungsunya , dan Mereka tahu semua ini belum selesai ,monster itu kembali tumbuh setelah  enam bulan jimin kembali berkumpul dengan mereka .

Tapi tiba-tiba, suara langkah cepat perawat terdengar.

“Dokter memanggil keluarga Kim! Suster Anna masuk ruang bersalin, proses bersalin sudah berjalan!”

Semua orang terbelalak.

“Anna—? Sekarang?!” Seokjin tersentak.

Perawat mengangguk tergesa. “Air ketubannya pecah. Bayinya akan segera lahir malam ini!”

Hana memekik kecil, antara panik dan bahagia. “Oh Tuhan… cucu pertamaku…”

Jihoon memegang bahu Seokjin. “Cepat pergi temui istrimu seokjinie ... .”

Seokjin membeku sejenak. Menoleh pada kaca persegi di pintu rawat jimin

“seokjin…” Hana memandang putra sulungnya. “Jimin akan akan baik-baik saja humm ... temani anna dan pastikan menantu ku selamat nak ...” hana tersenyum menatap seokjin yang akhirnya mengangguk dan berjalan menjauh dari sana

Jihoon dan hana kembali masuk ke kamar, Jimin sudah berdiri—atau tepatnya, berusaha berdiri sambil menopang tubuh di sisi ranjang. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Jimin! Kau mau kemana nak ?!” jihoon menghambur mendekat. Diikuti hana

Jimin membalas dengan senyum tipis. Lemah… tapi hangat.

“suster anna akan melahirkan keponakanku ayah , ibu … aku harus lihat apakah suster kesayanganku tetap sehat ?. Aku… harus ketemu bayi itu dulu”

“Jimin, tubuhmu—”

“ayah ”
Jimin menatapnya. Matanya basah, tapi bukan karena sakit.
“Aku ingin hidup. Kalau aku punya alasan baru untuk bertahan… aku ingin melihat putera pertama jin hyung....”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 15 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE LAST DAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang