part 41

181 27 12
                                        

Jong in berjalan cepat menuju ruangan tempat dimana Sehun meeting. sesampainya disana ia melihat meeting itu masih berlangsung. Sejenak jongin ragu, haruskah ia menunggu? tapi ia yakin sang tuan tidak akan menyukainya jika tahu berita apa yang akan ia sampaikan.

Menimang beberapa detik, Jong in memutuskan untuk mengetuk pintunya, kemudian masuk.

Sontak atensi para petinggi itu langsung beralih padanya, termasuk sehun. Namun ia tak peduli. Jong in berjalan ke arah tuanya kemudian membisikan sesuatu.

"Rapat hari ini selesai sampai disini, sisanya kita akan lanjutkan besok! " Tanpa menunggu jawaban sehun segera keluar dari ruangan.

"Bagaimana keadaanya?"

"Tuan muda masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisinya tidak sadarkan diri saat ditemukan. "

Sehun melangkah cepat dengan wajahnya yang dingin, menyembunyikan degup jantung yang sangat kencang dibaliknya.

Sesampainya diluar, pintu mobil sudah terbuka lebar, siap untuk dimasuki tuanya, sedetik berlalu mobil pun melesat menuju rumah sakit.

Sesampainya di UGD. Pintu itu masih tertutup rapat, tapi apa peduli sehun. Dengan sekali dorong, ia membuka pintunya. Membuat para awak medis yang sedang bertugas tersentak, dan langsung mengalihkan atensi mereka ke arah pintu.

Sehun terhenyak melihat tubuh Jungkook terbaring kaku penuh luka berdarah sembari dikelilingi para awak medis.

"Lanjutkan, selamatkan putraku! " perintah Sehun, seolah para petugas medis itu tak punya pilihan.

Sontak para petugas medis itu tersadar dan kembali melanjutkan tugas mereka, tak ada yang berani menegur sehun yang masih berdiri ditempatnya, yang mana sebenarnya pria itu sudah menyalahi aturan.

.

Jungkook sudah dipindahkan ke ruang ICU. Anak itu mengalami patah tulang serius dibeberapa bagian, serta pendarahan di kepala akibat benturan keras. kini Jungkook dinyatakan koma setelah sebelumnya ia menjalani operasi darurat selama 8 jam.

Ditemani dengan bunyi alat-alat medis, Sehun duduk selama puluhan jam. Sebuah monitor yang berada di samping ranjang putranya bagai belati yang bisa membunuhnya kapan saja.

Saat ini Jungkook, putranya. Sedang terbaring, dengan berbagai alat medis yang menentukan hidup dan mati.

"Bangunlah nak." Sehun mencium tangan Jungkook yang tertancap jarum infus.

"Maaf, seharusnya papa tidak pergi" Sehun menduga kecelakaan Jungkook terjadi saat anxiety sang anak kambuh tanpa ada seorang pun yang menemani, dan sekarang sehun menyesal telah pergi, membiarkan Jungkook menghadapi ketakutannya sendirian.

Menumpukan kening di punggung tangan Jungkook, sehun menangis,

Seumur hidupnya Sehun tak pernah menangis, bahkan ketika Luhan meninggal air mata tak juga menetes dari matanya.

Namun sekarang, pria yang dijuluki sebagai god father karena terkenal akan ketangguhan dan kekuasaannya itu, justru kini tengah jatuh sedalam-dalam, dengan menyaksikan putra satu-satunya tengah berada diambang Kematian.

Sehun bahkan tak berani beranjak barang sejengkal, karena takut Jungkook akan meninggalkannya saat sehun tak ada.

Jongin masuk ke dalam ruangan sembari membawa sebuah paper bag ditangannya.

"Tuan tolong makan dulu sedikit, anda belum mengisi perut sejak tadi. "

"Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan jongin, tapi aku akan mati kalau sesuatu yang buruk terjadi pada putraku!" Jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari Jungkook.

Jong-In tak bisa membantah lagi. Ia pun keluar sembari membawa kembali paper bag nya. Namun tak berselang lama pria itu kembali.

"Tuan, dokter Robert ingin bicara dengan anda."

Untuk yang ini Sehun tak bisa mengabaikannya, namun ia enggan meninggalkan Jungkook. Alhasil ia pun meminta jong in untuk tetap berada di sini dan segera member tahunya jika terjadi sesuatu.

Begitu pamit sebentar pada Jungkook, Sehun segera keluar, menuju ruang dokter Robert, psikiater khusus yang menangani sang anak.

"Silakan duduk tuan Jeon! " Ujar Robert begitu melihat sehun datang.

Robert memberikan dokumen penting tentang kesehatan mental Jungkook yang sudah ia pantau selama ini. Setelah membaca sega isi di dalamnya, kini sehun menatap Robert, meminta penjelasan lebih akurat.

"Tuan muda mengidap bipolar tingkat pertama, itu berasal dari trauma yang dialami sehingga membuat mentalnya hancur tanpa tuan muda sadari, saya menyusun pola melalui sikap tuan muda dan cerita yang Anda berikan pada saya."

Robert menjeda penjelasannya sejenak, seakan memberi sehun waktu sebelum ia mendengar fakta lain.

"Jadi bisa dipastikan kalau kejahatan yang selama ini tuan muda lakukan sebenarnya menyiksa dirinya sendri dari dalam, tuan muda merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan, namun ia juga tak tahu bagaimana harus mengatasinya. hingga tuan muda memilih menggunakan zat adiktif sebagai obat untuk mengatasi depresi, serta berbagai macam emosi lain yang ia rasakan, tuan muda juga menggunakan dopamine untuk mendapat efek bahagia. "

Robert membalik satu halaman baru di dokumen untuk ditunjukkan pada sehun.

"Sementara sikap abusive terhadap kim Taehyung adalah salah satu upaya tuan muda menunjukkan rasa sayangnya, secara umum tentu itu sangat tidak lazim. Namun bagi mereka yang memiliki issues tertentu, cara tersebut membuat mereka tenang dengan membuat orang itu ada dalam kendalinya, yang mana itu semua di dasari oleh ketakutan berlebih. karena sejatinya mereka sendiri tidak tahu bagaimana menunjukkan kasih sayang dengan benar.

Sementara monster-monster yang tuan muda ceritakan, adalah efek dari rehabilitas yang sedang tuan muda jalani, dimana sebenarnya monster monster itu adalah emosi yang sengaja ia kubur menggunakan zat adiktif.

Setelah tuan muda melepas ketergantungan, emosi yang semula terkubur perlahan mulai muncul kepermukaan dengan ditambah efek dari zat yang sebelumnya dikonsumsi, membuat otak menciptakan monster sebagai wujud dari emosi dan trauma tuan muda sendiri." Robert melirik Sehun yang sedari tadi hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, namun sedetik kemudian sorot matanya berubah tajam dan dalam ke arah Sehun.

"Karena sejatinya tuan muda ingin mati karena rasa bersalah yang menggerogoti namun ia juga ingin hidup untuk dicintai." Lanjut Robert dengan suara lebih pelan namun jelas dalam setiap katanya.

Mungkin Robert berpikir, apa jeon Sehun ini benar-benar menyayangi Jungkook sebagai putranya, atau ada maksud lain? mengingat bagaimana kejam dan sadisnya riwayat hidup pria ini, membuat ia berpikir mustahil Sehun memiliki kelembutan dihatinya.

Namun nyatanya tak seorangpun tahu sedalam apa duka yang coba Sehun sembunyikan dibalik topeng wajah dingin yang ia pasang.

-
-
-

Tbc

Don't forget to vote guys!
Cause your vote
Is very meant to me
Thank you

bad thingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang