part 42

122 23 19
                                        

Sebuah mobil mewah mercedes-benz E300l baru saja tiba di halaman mansion. Sehun keluar dari dalam mobil dan langsung bergegas menuju kamar Jungkook. Namun sesampainya disana sosok yang ia cari tak ada. Sehun pun mulai menjelajahi mansion untuk mencari keberadaan putranya

Yang ternyata anak itu tengah berada di satu ruangan yang Sehun buat khusus untuk mengenang mendiang sang istri, Luhan.

Anak itu duduk di kursi roda, menghadap jejeran photo Luhan yang terpajang rapi memenuhi dinding.

Sehun jalan mendekat, berdiri di samping Jungkook, ia mengusap halus puncak rambut putranya, kemudian turut menatap photo pria manis di hadapan mereka.

"Dia orang yang bagaimana? " Tanya Jungkook dengan mata tertancap pada photo luhan yang tengah tersenyum lebar sembari memeluk perutnya yang tengah hamil besar.

"Luhan,-" Sehun menggantung ucapannya, seolah ia tengah mengingat bagaimana sang istri.

"Dia sosok yang lembut dan penyayang, selalu memandang segala sesuatu dari sisi yang positif. Dia juga sangat pemberani, tak pernah takut dengan apapun." Sebuah senyum kecil terbit di bibirnya, Hatinya selalu merasa hangat ketika mengingat kenangan tentang sang istri.

Saat koma di rumah sakit, Jungkook bermimpi ada di sebuah taman indah bersama pria yang kini sedang ia tatap.

Dia duduk di sampingnya sembari mengusap kepalanya dengan sangat lembut, sorot matanya teduh penuh cinta ketika mengatakan ia Merindukannya. Yang mana saat itu Jungkook merasa hal yang sama, walau seumur hidup ia tak pernah bertemu dengan pria itu. Namun Jungkook tetap merindukannya, seolah mereka pernah terikat sebelum sesuatu memisahkan mereka dengan paksa.

Dalam pelukannya yang hangat, Jungkook menangis entah untuk apa. Namun disaat bersamaan ia merasa sangat tenang, merasa Damai, hingga Jungkook berharap moment ini terjadi untuk selamanya, namun entah dari mana, tiba-tiba suara sehun bergeming, ayahnya meminta ia untuk pulang.

Jungkook tak mau, ia tak rela tangan hangat yang kala itu menggenggamnya harus terlepas. Namun pria itu meyakinkan dirinya untuk kembali pada sang ayah, dan berjanji suatu hari nanti ia akan kembali dan menjemput Jungkook untuk ikut bersamanya.

"Itu sebabnya kau mencintai mama?" Tanya Jungkook lagi dengan suara parau.

Jungkook merindukan Luhan! sangat-sangat merindukannya. Ia masih ingat bagaimana hangatnya usapan Luhan dikepala yang mampu mengangkat segala kegundahan dalam hatinya. Namun ketika ingat ia tak bisa merasakannya lagi membuat Jungkook ingin menangis.

"Kurasa begitu! " Sehun tak yakin, karena faktanya sehun mencintai Luhan lebih besar dari yang ia kira, terlepas dari seperti apa sosoknya yang sehun tahu ia hanya mencintai pria manis bernama Luhan.

"Kau bilang hidupmu penuh bahaya, ku pikir hanya orang tangguh yang mampu bertahan bersamamu. "

"Kau benar, ibumu tetap setia di sisiku. Bahkan ketika tubuhnya terluka berkali-kali, ia tak gentar, sekalipun kematian seringkali menyapa kami, ia tetap disisiku."

"Dia hebat!" Puji Jungkook tulus.

Sehun tak membantah, karena memang Luhan adalah sosok yang luar biasa.

"Apa kau pernah berpikir untuk menikah lagi?" Jungkook mengepalkan tangan guna melampiaskan ketakutan yang tiba-tiba menghampiri. Bukan apa, ia hanya takut kehilangan segala afeksi yang selama ini ia dapat dari sehun. Katakanlah Jungkook egois, tapi ia tak rela cinta sang ayah terbagi pada orang lain. Jungkook ingin cinta ayahnya itu hanya untuk dirinya dan sang ibu.

"Bagaimana bisa aku kembali mencintai, jika hatiku sudah terkubur bersama ibumu. "

Sehun tak dapat melihatnya ketika bibir tipis Jungkook menarik senyum tipis yang samar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

bad thingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang