"Dek, Mommy udah masakin mam kesukaan adek. Cobain sedikit, ya?" bujuk Jennie lembut.
Lisa hanya menggeleng lemah.
"Yah, Mommy sedih lho kalau adek nggak mau makan," pancing Jennie lagi.
"Kalau Lisa nggak mau, buat aku aja, Mom!" sahut Rose yang sedang duduk di dekat mereka, mencoba menggoda adiknya agar mau bereaksi.
Jennie tersenyum tipis. "Ayo, buka mulutnya... Aaa... Mommy suapin, ya?"
Tapi Lisa tetap bungkam.
Paham kalau putrinya sedang tidak bersemangat, Jennie meletakkan kembali piringnya. Ia mengelus lembut pipi Lisa. Gadis itu menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa, sayang?" tanya Jennie hangat. "Mau peluk?"
Lisa langsung mengangguk pelan. "Sakit, Mom..." keluhnya lirih dengan suara serak yang memelas.
Jennie segera membawa Lisa ke dalam pelukannya dengan sangat hati-hati. Ia tahu betul tubuh putrinya penuh lebam yang membuatnya sulit tidur nyenyak.
"Kalau bisa, Mommy aja yang nanggung sakitnya, Dek," bisik Jennie, seolah sedang memohon pada Tuhan.
"Adek harus kuat, ya? Mommy, Daddy, sama Kak Rose bakal terus nemenin sampai adek sembuh."
"Sshh... perih banget..." rintih Lisa lagi.
Jennie mengangguk sedih. Bekas jahitan operasi di dada Lisa ternyata mengalami infeksi dan bengkak akibat benturan keras beberapa waktu lalu. Meski Yoona bilang hasil tes jantungnya aman, Jennie tetap tidak bisa tenang melihat kondisi putrinya seperti ini.
"Mau Kakak tiupin biar nggak perih?" tawar Rose sambil mendekat dan ikut memeluk adiknya.
Melihat perhatian Rose, Jennie tersenyum haru. Ia sedikit merenggangkan pelukan agar Lisa bisa bersandar lebih nyaman di dadanya.
"Mommy buka ya kancing bajunya?" tanya Jennie pelan. "Pelan-pelan kok."
Lisa mengangguk pasrah. Begitu kancing terbuka, terlihat bekas luka panjang di tengah dada Lisa yang tampak memerah dan membengkak. Rose sampai merasa ngilu melihatnya.
"Nanti Mommy kasih salep lagi biar mendingan," ucap Jennie.
Rose pun mulai menunduk, meniup luka di dada adiknya itu dengan sangat hati-hati.
"Dek, maaf ya tadi pagi Kakak sempat bentak adek," ucap Rose tulus di sela-sela kegiatannya.
Lisa hanya mengangguk kecil.
"Tadi Kakak serem nggak pas marah?" tanya Rose lagi, mencoba mencairkan suasana.
Lisa menggeleng pelan. "Enggak... Kakak nggak bakat marah."
Jennie terkekeh mendengarnya. Memanfaatkan suasana yang sedikit mencair, ia kembali mengambil sesuap nasi lagi.
"Dikit aja, sayang," bujuknya saat Lisa tampak ingin menolak lagi.
"Ya habisnya adek ngomong gitu," gerutu Rose manja karena merasa diejek tidak bisa marah.
"Maaf, Kak..."
Rose mengusap rambut adiknya. "Nggak apa-apa. Yang penting setelah ini adek harus sembuh, oke?"
Meski ragu dengan kondisinya sendiri, Lisa akhirnya mengangguk pelan.
***
Malam harinya, suasana di kamar Jennie terasa lebih sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan napas Lisa yang terdengar berat. Lisa sudah tertidur setelah tadi sempat dipaksa makan beberapa suap bubur.
Di sudut ruangan, Rose masih setia duduk di kursi samping tempat tidur, memandangi wajah adiknya yang masih pucat.
"Tidur, Kak. Udah malam," bisik Jennie yang baru saja masuk membawa selimut tambahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Light
Teen Fiction"Pelan-pelan de" "Sus mana Mom?" Jennie menuntun anaknya untuk duduk bareng bersama suami juga putri sulungnya. "Mommy sus mana~" rengek Lisa yang tadi dihiraukan Jennie. "Sus resign de, katanya gamau lagi ngurusin bayi gedenya"
