51

937 229 9
                                        

Tiga puluh menit berlalu sejak Yoona menyelesaikan prosedurnya. Kamar yang tadinya tegang berangsur-angsur tenang. Obat antinyeri dosis tinggi yang masuk lewat infus tampaknya mulai bekerja dengan ajaib.

​Jennie masih setia duduk di sisi ranjang, mengusap punggung tangan Lisa yang kini sudah tidak sekaku tadi. Ia memperhatikan bagaimana napas putrinya mulai teratur dan dalam, tidak lagi pendek-pendek menahan sakit. Bibir Lisa yang tadinya pucat pasi pasi dan terkatup rapat, kini sedikit terbuka, relaks.

​"Mom..."

​Panggilan lirih itu membuat Jennie tersentak dari lamunannya. Ia mendekat, menempelkan pipinya ke pelipis Lisa.

"Ya, Sayang? Ada yang sakit? Bilang sama Mommy."

​Lisa membuka matanya perlahan. Tatapan kosong dan sayu yang tadi pagi membuat jantung Jennie serasa berhenti, kini sudah hilang. Mata bulat itu perlahan mulai jernih, meski masih terlihat sisa kelelahan di sana.

​Alih-alih menjawab, Lisa perlahan menggerakkan tangannya yang bebas dari infus, meraih ujung kaus Jennie, lalu menariknya pelan.

​"Mau peluk... yang beneran peluk," gumam Lisa, suaranya masih parau, tapi nada bicaranya sudah jauh lebih manja, sangat khas Lisa yang biasa.

​Jantung Jennie berdesir hebat. Perubahan nada bicara itu seperti air sejuk yang menyiram tanah gersang di hatinya.

​"Boleh, Sayang. Boleh banget," ucap Jennie, suaranya bergetar menahan haru.

​Dengan gerakan super hati-hati, Jennie menyusupkan lengannya di bawah leher Lisa, memposisikan tubuhnya sendiri agar bisa memeluk putrinya tanpa menindih dada yang baru saja diobati. Ia naik ke ranjang, berbaring miring di samping Lisa, menyelimuti tubuh ringkih itu dengan tubuhnya sendiri.

​Begitu posisi mereka nyaman, Lisa langsung menduselkan kepalanya ke dada Jennie, mencari posisi paling hangat di ceruk leher ibunya.

Jari-jemari kecilnya meremas pelan baju Jennie di bagian punggung.

​"Kangen Mommy..." bisik Lisa manja, benar-benar melupakan kalau beberapa jam lalu ia baru saja melewati momen kritis.

​Air mata yang sejak semalam ditahan Jennie akhirnya luruh juga, jatuh tanpa suara dan membasahi rambut Lisa. Tapi ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata lega yang luar biasa. Rasanya seperti baru saja mendapatkan kembali dunianya yang sempat hilang.

​Jennie menciumi puncak kepala Lisa berkali-kali, menghirup aroma sampo bayi yang biasa digunakannya untuk Lisa—aroma yang selalu menenangkannya.

​"Mommy di sini, Sayang. Mommy kangen Adek juga," balas Jennie sambil mempererat pelukannya, namun tetap waspada dengan selang infus.

​"Wangi Mommy enak," igau Lisa pelan, matanya mulai terpejam lagi, tapi kali ini karena rasa nyaman yang menidurkan, bukan karena rasa sakit yang mematikan.

​Jennie tersenyum dalam tangisnya. Ia mengusap punggung Lisa dengan gerakan ritmis. Di dalam hatinya, ia bersyukur tiada henti. Melihat Lisa bisa kembali bersikap manja dan 'cerewet' seperti ini adalah keajaiban terbesar baginya setelah ketakutan semalaman.

​"Tidur ya, Sayang. Mommy nggak akan ke mana-mana. Mommy pegangin terus," bisik Jennie hangat, ikut memejamkan mata, menikmati momen manis yang sangat berharga ini.

Perasaannya begitu penuh, begitu damai, seolah beban berat yang menghimpit dadanya baru saja diangkat paksa.

***

Satu jam berlalu dalam keheningan yang damai, sampai akhirnya Lisa mulai menggeliat. Rasa kantuk dari obat antinyeri itu perlahan memudar, digantikan oleh kesadaran penuh—dan rasa tidak nyaman yang mulai ia sadari.

My Little LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang