Part 17 - Problem

6.9K 990 10
                                        


Ken benar-benar merubah sikap setelah Rein menegurnya. Dia meminta maaf ke seluruh anggota team dan mulai bersikap seperti biasa lagi. Dia bahkan meminta maaf secara personal ke Easther dengan cara mendatangi kelasnya dan mentraktirnya makan siang di kantin saat jam istirahat yang menyebabkan kehebohan tersendiri pada anak-anak perempuan kelas 10.

Easther sudah lama naksir Ken. Dimarahi oleh idolanya membuat dia kecil hati dan merasa terpukul. Tapi mendapati Ken menghampirinya dan meminta maaf membuat dia senang sekaligus gugup.

"Easther, aku benar-benar minta maaf ya..." ucap Ken sekali lagi setelah menelan sesuap mie goreng yang tadi dia pesan.

Easther yang duduk di depan Ken hanya bisa mengangguk dengan wajah merah padam dan mendadak kehilangan kemampuan untuk mengunyah. Yang dia lakukan sekarang hanya memainkan garpu ke spaghetti​ tanpa memakannya.

"Kenapa? Kok ga dimakan? Ga enak badan?" tanya Ken keheranan.

"Eh, ga papa, Kak," sahut Easther buru-buru dan memaksakan diri untuk mengunyah makanan sementara Ken tersenyum simpul melihat kegugupan Easther.

Mungkin Easther gugup karena pernah memasukkan surat cinta ke dalam lokernya tapi tak pernah Ken tanggapi karena Rein sangat menyita pikiran saat itu. Bukan hanya saat itu, tapi sampai sekarang ini.

Padangan Ken tiba-tiba terpaku pada pasangan yang baru saja masuk ke kantin.

Easther mengikuti arah pandangan Ken dan tersenyum melihat Rein dan Angkasa yang duduk tak jauh dari mereka. Dilihatnya Angkasa memesankan makanan dan minuman untuk Rein kemudian mereka terlihat berdiskusi seru sambil menunjuk-nunjuk buku tebal yang dibawa Rein ketika menunggu makanan mereka datang.

"Aku selalu suka melihat mereka. Such a lovely couple," bisik Easther dengan mata berbinar-binar saat memperhatikan Rein dan Angkasa.

Ken mendengus tak senang.

"Kak Yuda baik banget orangnya. Aku pernah jatuh, terkilir, dan dia mau nganterin aku ke UKS sampai bikin dia telat masuk kelas padahal di jam pertamanya ada test. Kak Rein juga baik dan ramah banget. Ga nyangka, karena dia kelihatan pendiam dan ga ramah," lanjut Easther.

Ken tersenyum mendengar pendapat Easther soal Rein. Banyak orang yang sering salah paham melihat Rein yang cenderung suka bersembunyi dari keramaian sehingga dia terlihat tak ramah. Padahal aslinya dia paling asyik diajak bertukar pikiran, ramah, perhatian, dan juga baik hati.

"Rein is perfect," gumam Ken.

"Kak Ken...." Easther tampak ragu-ragu ingin bertanya, tapi dia sangat penasaran setiap kali dia melihat Ken berinteraksi dengan Rein.

Ken terlihat sangat menyayangi Rein.

Seperti pada saat mereka sedang melakukan pemanasan, sepatu Rein terbang sebelah dan mengenai kepala Ken dari belakang. Ken menengok, melihat siapa yang kurang ajar melempar kepala dia dengan sepatu.

Easther berpikir Ken akan marah besar melihat Rein yang berjinjit sambil nyengir-nyengir meminta maaf. Tapi Ken hanya tertawa. Dia mengambil sepatu Rein, menghampirinya dan langsung berjongkok memakaikan sepatu Rein kembali bahkan mengikat ulang tali sepatu Rein yang sebelah lagi agar kencang.

Semua orang di lapangan langsung bersuit-suit meledek. Ken tak peduli dengan semua itu bahkan mengabaikan Rein yang wajahnya merah padam karena malu dan meminta Ken untuk membiarkannya memakai sepatunya sendiri.

Ken hanya berkata singkat sambil mencubit pipi Rein setelah dia selesai, 'Aku ga mau ambil resiko digetok pakai sepatu kamu lagi.' Kemudian dia berbalik, meminta semua orang untuk berlatih lagi dan bersikap seakan-akan tak terjadi apa-apa.

He treat her like a princess dan itu membuat Easther iri.

"Ya?" tanya Ken sambil menaikan alisnya.

"Do you like Kak Rein?"

Ken hanya bisa tersenyum tipis ketika dia menjawab. "Yes. Who doesn't?"

---------

"Sayang, kamu latihan voli kan hari ini?" tanya Angkasa.

"Harusnya, tapi aku ga bisa ikut. Hari ini jadwal kamu latihan basket juga kan?"

"Iya. Kupikir nanti kita bisa pulang bareng kalau kita sama-sama latihan. Udah lama deh aku ga nganter kamu pulang, aku kangen."

"Manja deh kamu. Kita kan ketemu setiap hari, Asa," ledek Rein.

"Kamu ngengemesin sih. Keseringan olahraga jadi makin keliatan sexy," ucap Angkasa sambil memperhatikan Rein lekat-lekat dari atas sampai bawah, membuat Rein malu dan mencubit lengannya gemas.

"Maaf aku ga bisa pulang sama kamu dan sepertinya berangkat juga ga bisa untuk dua hari ke depan." Rein mendadak salah tingkah ketika menyampaikan hal yang agak memberatinya dari kemarin.

"Kenapa?"

"Aku pulang ke rumah Ken," jawab Rein pelan sambil menunduk.

"WHAT??" Angkasa berseru marah.

"Papaku yang minta... please, jangan marah," bujuk Rein melihat pacarnya tampak naik pitam.

"Kok bisa Papa kamu nyuruh kamu ke sana?"

"Papa diundang ke CERN dan dia ngajak Mamaku ikut. Mereka pergi sekitar lima hari dan aku ga boleh tinggal sendiri di rumah."

"Aku cuma di rumah Ken sampai Zain datang, sekitar 2 atau 3 hari kok. Zain mau ngurus visa student ke USA. Pilihannya antara rumah Ken atau Rasya, tapi Oniisan rumahnya agak jauh dari sekolah, lebih praktis kalau di rumah Ken karena kita satu sekolah," jelas Rein lagi.

"Why??" tanya Angkasa keheranan.

"Mmmmm...soalnya ada kamu," jawab Rein salah tingkah.

"Eh... maksudnya??"

"Ya, karena aku punya pacar dan Papaku selalu bertindak berlebihan dalam melindungi anak perempuannya. Anggap aja begitu," seru Rein jengah, merasa sebal juga dengan Papanya yang overprotective.

Mau tak mau Angkasa tertawa mengetahui pemikiran Papanya Rein yang ingin melindunginya sedemikian rupa. Angkasa sudah berapa kali bertemu dengannya setiap kali dia bertamu dan Tristan agak mengintimidasinya dengan tatapan mata yang tajam dan penuh penilaian. Untung saja mama Rein sangat easy going dan ramah, membuat Angkasa agak heran bagaimana dua orang yang berkepribadian jauh berbeda itu bisa bersama.

"Your dad didn't trust me enough," keluh Angkasa.

"Jangan merasa kecil hati, Papaku memang tidak mempercayai pria manapun pada umumnya."

"Tapi dia mempercayai Ken. Memangnya Papamu tak sadar kalau Ken sama berbahayanya?" gerutu Angkasa lagi.

"He's part of a family, Asa. He's my brother."

"Oh come on, Rein...bahkan kamu pun tak percaya akan hal itu ketika kamu mengucapkannya. He's fall for you... and it's obvious," gerutu Angkasa tak bisa lagi menutupi rasa cemburunya.

"Can we not talk about it? Pembicaraan ini membuatku tak nyaman."

"Kenapa? Kamu juga suka sama dia?" tanya Angkasa, tajam.

"Aku menyayanginya seperti aku menyayangi Zain, kuharap kamu mau memaklumi," bujuk Rein sambil menggenggam tangan Angkasa yang terkepal.

"Kuharap akan terus seperti itu," gerutu Angkasa.

Rein mengusap-usap pipi Angkasa untuk menenangkannya dan mengatakan kalau dia mencintainya sampai Angkasa bisa tersenyum lagi dan balas mengusap pelan rambut Rein.

"Kenapa kamu ga latihan voli hari ini?" tanya Angkasa lagi.

"Soalnya mau nyiapin acara ulangtahun Om Hans hari ini," jawab Rein takut-takut.

Dan wajah Angkasa mendadak berubah menjadi merah lagi karena kesal.

-----------

Luv,
NengUtie

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang