"Rein ada di kelas kan?" tanya Ken ke siswi yang duduk dekat pintu masuk membuat sang siswi melongo, menunjuk tempat duduk Rein yang terletak di pojok tanpa suara.
Disapa oleh idola satu sekolah membuat dia merasa gugup.
Ken tersenyum ke arah siswi itu dan bergegas menghampiri Rein yang menunduk sibuk mencatat entah apa.
"Rein...." sapa Ken dan Rein yang mengenali suara Ken mendongak, memasang ekspresi wajah kesal.
"Mau apa lagi sih, Ken?" sahutnya ketus, perilaku Ken kemarin belum bisa dia lupakan. Bocah kurang ajar itu ingin sekali dia hajar sampai babak belur saking kesalnya.
"Tiap ketemu aku, kenapa tampang kamu selalu jutek gitu sih?"
"Ini setelan muka wajib tiap lihat kamu tau!" sahut Rein sekenanya.
"Padahal kamu cantik banget loh kalau lagi senyum," goda Ken.
Rein tersenyum masam. "Dih, jadi cowok kok hobby ngegombal. Mau apa kamu kemari?"
Ken tersenyum, menaruh sekotak strawberry ke meja Rein.
"Nih, buat ganti yang kemaren. Maaf ya...."
Rein terbengong-bengong melihat strawberry yang ada di depan matanya. Sebelum Rein sempat mengucapkan apa-apa Ken dan kakinya yang panjang sudah melesat pergi dari kelasnya.
"Si Ken ngapain kemari? Bikin heboh satu kelas aja," tanya Chika, teman Rein yang duduk di sebelahnya saat melihat reaksi teman-teman perempuannya lain yang heboh membicarakan Ken.
"Ganti strawberry," jawab Rein.
Chika mengerutkan keningnya keheranan.
"Emang dia ngabisin strawberry loe hampir sekilo? Gantinya kok banyak amat sampe satu box makan siang?"
"Cuma satu sih. Dia pikir gue ngasih bunga kali sampe ganti sebanyak ini."
"Loe tuh tiap deket Ken bawaannya bete terus, kenapa sih? Padahal banyak cewek-cewek yang dying pengin banget disapa Ken."
"Ga ngerti, emang sebel aja. Mungkin karena kenal dari kecil kali ya dan dia dari dulu nyebelin. Setiap tahun kan dia berkunjung ke rumah. Kerjanya ganggu aja, jail gitu, tapi cengeng! Dasar anak manja!" seru Rein berkeluh kesah.
Chika tertawa.
"Hati-hati loh Rein, jangan suka kelewat sebel sama orang, apalagi cowok. Bisa-bisa nanti naksir loh, apalagi Ken kan cakep," godanya.
"What? Serupa sama adek gue gitu... ogah ah! Mereka kan udah kayak kutu sama rambut kalau lagi berdua. Seminggu ini kudu ngelus-ngelus dada deh ngeliat Ken di rumah terus bareng Zain."
"Oh, Zain lagi balik ya? Ah, main ke rumah loe dong... pengin ketemu Zain," seru Chika bersemangat.
"Ya ampun... that's my brother, Chika! Please deh."
Chika tertawa riang. "Adek situ ganteng sih. Saya suka! Saya suka!"
Rein memasang wajah horor ke arah sahabatnya yang masih tertawa-tawa.
"Not my brother, Chika! Anak kecil ga boleh digodain!
--------
"Ken!!!" teriak Rein ke arah Ken yang asyik bermain basket ketika jam istirahat.
Ken seketika itu juga berhenti bermain dan menghampiri Rein dengan senyum lebar tersungging di bibirnya. Jarang-jarang Rein mau menyapa dia ketika di sekolah.
"Kenapa cantik?"
Wajah Rein mengernyit tak senang, tapi mengabaikan godaan dari Ken. Ini lah salah satu alasan Rein selalu spaneng tiap di dekat Ken. Dia benci cowok gombal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Genç KurguWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
