Atas permintaan Rein, Ken pulang terlebih dahulu walaupun dia enggan meninggalkan kekasihnya sendirian di kamar hotel. Tapi Rein meyakinkannya kalau Chika akan datang sebentar lagi dan mereka ingin makan siang bersama terlebih dahulu. Ken boleh saja ikut bergabung bersama mereka kalau mau, tapi Ken langsung menolaknya dan buru-buru angkat kaki setelah mencium Rein lama.
Dia tahu kalau dia yang akan menjadi objek pergunjingan Chika yang suka ikut campur. Ken lebih memilih untuk tak mendengar apa-apa, wanita yang bergosip selalu membuatnya ngeri.
Ken meledek Rein dan berpesan agar Rein menceritakan hal-hal baik saja tentang performanya di ranjang dan meminta dengan sangat untuk tidak menjatuhkan harga dirinya di hadapan sahabat baik Rein. Rein hanya mencibir lalu menoyor kepala Ken, kesal.
Rein baru saja menyelesaikan administrasi untuk check out ketika Chika datang menghampirinya.
"Look at you... you look shining but tired, Ken makes you work hard, is'nt he??" ledek Chika sambil tersenyum jahil.
Rein mendelik dan membekap mulut sahabatnya.
"Shut up!! Jangan kenceng-kenceng sih, malu kan," gerutu Rein.
"Halah, gue yakin orang di kamar sebelah denger loe mendesah-desah. Mau lunch di mana?" tanya Chika setelah bisa melepaskan diri dari bekapan Rein.
"Di mall aja, sekalian gue mau cari buku."
"Apa? Buku kamasutra?" ledek Chika lagi.
"Bukan!!!! Astaga!!!"
--------------
"So?" selidik Chika setelah meminum milkshake.
"So apa??" jawab Rein ogah-ogahan dia masih sibuk mengunyah pizza.
"Semalem gimana?"
"Hmmmm... ya gitu deh."
"Ih, loe mah! Kan gw penasaran!!" seru Chika sambil menoyor-noyor kepala Rein.
"Ya harus bilang apa coba? Btw, kenapa loe niat banget ngaturnya sih? Bikin malu tau ga!!" protes Rein.
"Sebetulnya loe mau berterima-kasih kan sama gue, pake malu-malu segala," ledek Chika.
"Kan ceritanya give a memories, sebelum loe pergi ke Tokyo. Pasti unforgettable deh," lanjut Chika sambil cekikikan yang membuat wajah Rein memerah.
"Loe tau ga? Berita soal loe nge-date sama Ken udah kesebar loh," ucap Chika tiba-tiba.
"Hah??" tanya Rein tak mengerti.
"Semalem Ken nyium loe di prom kan? Ada yang ngambil fotonya loh... trus kesebar dan jadi gossip hot di sekolah kita."
"What the hell!!" teriak Rein.
"Wajar lah, loe sama Ken itu kan beken. Udah gitu kalian ga pernah kelihatan pacaran sebelumnya, biasanya berantem doang. Tau-tau nempel aja kayak perangko pas di prom. Banyak yang patah hati tapi gara-gara Ken jalan sama loe, fans ceweknya kan banyak bener. Untung aja loe udah lulus, kalau enggak, bisa capek loe disinisin sama cewek-cewek di sekolah," jelas Chika.
"Ken terkenal sih... playboy-nya," gumam Rein, enggan.
"Setelah sama loe, udah tobat kali dia."
"Gue harap sih begitu."
"Percaya sama Ken. Dia ga mungkin mengkhianati loe walaupun loe jauh nanti. Nyari yang body-nya sebahenol loe susah soalnya."
"Sompret!!!"
Chika tertawa riang. "Trus gimana? Kalian resmi pacaran kan? Bakal bilang ke keluarga kalian ga?"
"Hmmm, kayaknya gue belom siap deh, rasanya jengah aja kalau keluarga gue tau. It's weird."
"Ya ampun, Rein. Kalian kan cuma pacaran. Ga perlu juga ngasih tau soal detail sex kalian ke mereka juga kali!" sambar Chika sebal.
"Tapi kan Mama gur tau, Chika... dan she gave me a warning about that. Rasanya susah untuk dapet restunya. Makanya gue dikirim jauh-jauh dari Ken. Dia minta gue untuk ga ngelanjutin hubungan kami lagi.
Tunggu sampai gue selesai kuliah kalau kami mau bersama, sampai kami benar-benar dewasa dan sadar sepenuhnya akan tanggung jawab, atau dia ngancam akan cerita ke Papa soal kami yang really cross the line. I can not take that risk, Ken bisa mati beneran."
"It's already happen, Rein. Keperawanan loe kan ga mungkin balik, nyokap loe juga tau kok. Rasanya ga adil aja untuk ngelarang loe berhubungan sama Ken kalau kalian sudah sejauh ini deh... besides, you love each other right?"
"It's all about trust, Chika. Gue rasa nyokap udah ga percaya lagi sama gue Apalagi gue berulang kali melanggar kepercayaan dia. I don't know what to do. Ken pun protes. He said, it's hard to be near me but can not tell people that that he love me."
Chika tersenyum. "Ken itu romantis ya."
Rein tersenyum malu-malu. "Iya," jawabnya pelan.
"Ga nyangka deh. Abis anaknya kan iseng dan jahil gitu, atau dia cuma romantis kalau sama loe doang?"
Rein hanya menunduk tersipu malu tanpa mau menjawab. Lebih memilih fokus dengan makanan di hadapannya.
"Ken is great. That's why, gue ga mau ngerusak apa yang ada sekarang. I can not take the risk of losing a man that I loved once again, Chika. Gue ga mau menjalani perasaan yang menyakitkan itu lagi. Gue ga sanggup. Ken makes me believe in love again, he taught me how to love again. I can not lose him, Chika... I just can't," ucap Rein sedih dan Chika memeluknya untuk menenangkan Rein.
Chika tahu pasti apa artinya ditinggalkan oleh orang yang paling dicintai, ditinggalkan oleh orang yang sudah menjadi segalanya baginya. Untuk itu, maka Chika bertindak sebisa mungkin untuk menyatukan Ken dan Rein lagi.
"Don't worry, Rein... you'll be together. I will guarantee that. Kalau perlu, gue arrange lagi next honeymoon untuk kalian berdua."
"Ga harus begitu juga kali!" gerutu Rein setelah melepaskan diri dari pelukan Chika.
"Sekalian lah... btw, gue penasaran? How's Ken in bed? Oke ga? Pasti oke dong? Dia kan rajin olahraga. Staminanya pasti poll!"
"Chikaaaaaa!!!!!!"
------------
Ken membaca pesan dari Rein yang mengatakan kalau dia masih di Mall dan berniat menemani Chika membeli baju ketika Ken menanyakan kabarnya. Woman and clothes, pasti akan makan waktu berjam-jam pikir Ken.
Ken turun dari mobilnya dan membuka pintu gerbang. Dia baru saja tiba di rumah Rein sehabis mengganti pakaiannya di rumah. Untung saja Rein masih lama kembali karena Ken yakin Rein tak akan menyetujui tindakan yang akan dilakukannya sekarang.
Ken mengetuk pintu dan Zain membukanya.
"Heh,ngapain loe??" tegur Zain.
"Sejak kapan gue perlu alasan buat ke sini?" gerutu Ken sementara Zain nyengir.
"Tante Hana ada?" tanya Ken.
"Ada, di ruang kerja. Kenapa?" tanya Zain heran.
"Gue ada perlu," jawab Ken sambil lalu dan beranjak ke kamar kerja Hana meninggalkan Zain bengong keheranan.
Ken menghela napas panjang saat berdiri di depan pintu. Dia memberanikan diri kemudian mengetuk dua kali.
"Tante, ini aku, Ken. Boleh minta waktunya sebentar?"
----------
Luv,
NengUtie
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Fiksi RemajaWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
