Rein duduk di tempat tidur sambil memainkan gitar asal-asalan sementara Chika yang tiduran di sebelahnya terus saja mengoceh soal artikel fashion terbaru.
"Rein, loe dengerin gue ga sih??" gerutu Chika karena Rein bengong dan tampak tidak fokus.
"Eh... sorry, ga denger," jawab Rein sambil nyengir malu-malu.
Pertengkarannya tiga hari lalu dengan Ken menyita pikirannya. Dia masih kesal dengan pria itu, tapi juga sangat merindukannya. Namun egonya menghalangi dia untuk berbicara dengan Ken. Padahal Ken berpesan melalui voice mail karena Rein tak menjawab telponnya, meminta untuk menghubungi dia dengan segera kalau Rein sudah tak marah dan bersedia bicara dengannya.
"Masih keki sama Ken?" selidik Chika.
Rein diam saja tak menanggapi. Segera setelah dia pulang ke rumah dan mandi, Rein langsung menelpon Chika dan berkeluh kesah soal perilaku Ken yang posesif dan mengarah ke sociopath.
"Gue tau loe kangen sama dia, ngomong aja sih... ketimbang loe jadi planga-plongo gini," desak Chika.
Rein mencibir, kekesalannya karena Ken tak mempercayainya masih menggunung di kepalanya. Padahal mereka akan berjauhan, bagaimana kalau yang terjadi adalah mereka bertengkar setiap hari karena Ken terlalu curigaan? Tak mungkin kan Rein membawa tongkat ukur kemana-mana untuk memastikan tak ada pria yang mendekatinya dalam jarak satu meter!!
Ibunya memang memberi hukuman paling kejam dengan membuat keduanya berpisah jarak padahal tahu persis kalau Ken adalah orang yang posesif.
Pintu kamar Rein diketuk dan tak berapa lama Ken muncul dari balik pintu.
"Rein, makan siang nya udah siap tuh... kamu sama Chika diminta turun."
Chika melompat bangun dan berlari keluar kamar menuju meja makan. Perutnya sudah kelaparan dari tadi karena dia belum sarapan sebelum datang ke rumah Rein.
Ken tampak menunggu Rein untuk ikut turun bersamanya. Rein menaruh gitar, berjalan melewati Ken yang menahan pintu terbuka untuknya tanpa bicara sepatah katapun, memandang Ken saja dia tak bersedia, membuat Ken mengeluh dalam hati. Rein masih saja marah!! Untung saja keluarga mereka punya agenda rutin untuk berkumpul setiap bulan jadi Ken memiliki alasan untuk datang walaupun Rein berpesan kalau dia tak ingin bertemu dengan Ken dulu.
Mereka turun beriringan di tangga dan Ken tak tahan untuk tidak mengusap kepala Rein.
"Sayang, maaf...." ucap Ken perlahan. Nada sedih di suaranya membuat kemarahan Rein menguap. Sentuhan ringan Ken pada kepalanya membuat Rein ingin melemparkan diri ke pelukannya. Dia sangat merindukan Ken. Tapi Rein yang kadang bisa menjadi sama egoisnya, menahan diri dan tetap memasang wajah datar seakan tak menyadari Ken ada di sebelahnya. Dia memilih untuk mempercepat langkahnya dan langsung mengambil tempat di sebelah Chika yang duduk di sebelah Zain. Ken menyusul dalam diam dan duduk di depan Zain.
"Chika kuliah dimana?" tanya Hans ke Chika yang sedang meminta Zain mengulurkan piring udang goreng mentega.
"Di Monash Om, ambil mikrobiologi"
"Hah... Chika ngapain ke Monas? Bersihin emas?" sambar Zain membuat Chika mendelik.
"Duh, Zain, jayus deh, batal nih dijadiin future boyfriend."
Zain tertawa dan langsung membungkuk meminta maaf.
"Maafkan aku future girlfriend.." katanya sambil menunduk ala orang Jepang ke arah Chika.
"Oke..kau dimaafkan dan masuk list lagi."
"Hanya list?? Teganya..memangnya aku di urutan keberapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Teen FictionWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
