Pagi-pagi sebelum jam 6, Ken sudah datang ke rumah Rein pada hari Minggu dan dengan kurang ajarnya meminta Hana membuatkan nasi goreng untuk sarapan.
"Tante... aku kangen nasi goreng, Tante," rengek Ken.
"Jangan diturutin, Ma! Pagi-pagi buta kok udah nongol minta sarapan," gerutu Rein yang kesal karena Ken menggedor-gedor pintu kamarnya pagi-pagi buta.
Dia baru saja bangun dan belum mandi dan sekarang sedang melakukan tugas rutin setiap pagi saat weekend, bebenah rumah.
Rein menyodorkan lap ke arah Ken dan menyuruhnya membantu dia mengelap-ngelap perabotan sementara menunggu Hana selesai memasak.
Ken walau ngedumel, tetap menuruti permintaan Rein dan membantunya mengelap-ngelap.
"Pagi-pagi banget sih?" omel Rein.
"Numpang sarapan," jawab Ken singkat.
Rein menoyor kepala Ken kemudian beranjak ke lantai dua dan menugaskan Ken untuk bertanggung jawab di lantai satu.
Setelah selesai, Rein mengecek pekerjaan Ken. "Hmmm... bersih. Ada untungnya juga sih kamu dateng, kaca jendela yang di sebelah atas bersihinnya jadi gampang, tinggi badan ga sia-sia ya."
Ken menarik rambut Rein yang dikuncir kuda dan panjangnya sudah hampir mencapai pinggang. "Mandi sana! Kita kan mau berangkat pagi-pagi, nanti keburu panas."
Rein menyepak kaki Ken kesal lalu melesat ke kamarnya. Ketika dia selesai, dilihatnya Ken sudah duduk manis di meja makan dengan kedua orangtuanya.
"Dad, I'm applying to MIT, Camberidge, Berkeley and Tokyo," ucap Rein ketika mereka mulai makan.
Tristan menghela napas dan menaruh koran yang sedang dibacanya. "Papa kan sudah bilang, tidak sekarang, Rein."
"Kalau aku diterima di MIT, kan aku bisa tinggal sama Zain."
"Not now, Rein!"
"That's not fair at all," keluh Rein.
"You are my only girl, Papa tak suka kalau kamu jauh dari pengawasan Papa sekarang. I've been there before, dan tinggal sendiri itu tidak menyenangkan. Zain tidak masalah karena dia orang yang fleksible dan gampang menyesuaikan diri, tapi kamu... hmm... I'm worried, Rein, kamu terlalu baik seperti mama kamu, jadi lebih rentan ditipu," jawab Tristan blak-blakan.
Ken mendengus tertawa di balik piring nasi gorengnya dan Rein langsung menginjak kakinya.
"Fine... tapi biarkan aku apply semua universitas itu, aku mau tahu aku akan lolos atau tidak." Rein mengalah.
"You are my kids... ga mungkin kamu ga lolos. Tapi tetap, Papa tak akan membiarkan kamu pergi walau kamu diterima. Nanti saja kalau kamu ambil Master."
"Kalau Ken mau kuliah di mana?" tanya Hana mencoba mencairkan ketegangan di meja makan.
"Bunda ga ngasih aku keluar, Tante. Nanti aja kalau mau ngambil specialist katanya."
"Kamu tetep mau jadi dokter?" tanya Hana lagi.
Ken mengangguk.
"Padahal aku mau masuk kedokteran NSU, toh kan Singapore ga terlalu jauh, tapi aku kan masih setahun lagi, siapa tau Bunda ngasih izin kuliah ke luar walaupun aku ga berharap banyak juga."
Hana dan Tristan tersenyum memaklumi. Ken anak tunggal Nindi dan Hans. Setelah melahirkan Ken, Nindi terkena miom yang menyebabkan rahimnya harus diangkat padahal mereka menginginkan banyak anak dalam keluarga. Tak heran kalau Hans dan Nindi sangat protektif dan cenderung memanjakan Ken. Merekapun sangat perhatian dengan Rasya, Rein, serta Zain dan menganggap ketiganya seperti anak sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Teen FictionWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
