Part 25 - Perfect??

8.3K 1K 93
                                        

"Rein, pass me the salt, please," gumam Ken, dan tanpa banyak bicara, Rei menyerahkan tempat garam yang berada di depan matanya.

Ken membubuhkan garam ke mashed potato-nya dan mengaduk-ngaduk tanpa semangat.

Sudah sebulan ini dia dan Rein tak saling bicara dan hasilnya menimbulkan ketegangan serta rasa penasaran dari orangtua mereka pada pertemuan rutin keluarga yang sekarang berlangsung di rumah Bayu.

Telpon Rein berbunyi, Tristan langsung menegurnya.

"Rein, no cellphone while we were eating."

Rein melirik ponselnya, melihat nama Chika tertera di sana. Dia mengabaikan lalu menonaktifkan ponselnya.

"Sorry." Rein meminta maaf pada semuanya dan cepat-cepat menghabiskan makanannya.

Setelah semua selesai makan, Rein kembali menyalakan ponsel dan menghubungi Chika.

"Sorry, gue tadi lagi makan, you know my dad rules."

"Iya, gue tau. Maap gue lupa kalau sekarang loe lagi kumpul keluarga."

"Ada apa?"

"Makalah biologi harus dikumpulin besok."

"What????? Bukannya harusnya hari Rabu? Loe bercanda kan? Chika, bilang loe bercanda."

"Ga, beneran. Tadi Dean telpon gue So, loe harus dateng ke rumah gue ya. Dean sama Sean lagi otw."

"Oke, fine, cuma mungkin agak lama ya... gue di rumah Rasya."

"Ga papa, yang penting loe dateng."

"Oke bye... "

"Bye..."

Rein segera menghampiri Rasya yang duduk mengobrol dengan semua orang.

"Oniiiiii...." seru Rein dengan nada manja.

"What's up??" sahut Rasya.

"Onii... boleh minta tolong...." Rein duduk di sebelah Rasya dan menyenderkan kepala ke bahunya.

"Minta apa coba? Ini kalau manja-manja begini, pasti ujungnya ga ngenakin deh," sahut Rasya sambil mengacak-ngacak puncak kepala Rein.

Rein nyengir. "Minta anterin ke rumah Chika. Ada tugas yang mendadak harus dikumpulin dan kelompok aku belum ngerjain sama sekali."

"Aku ngantuk, Rein... baru pulang jam 7 pagi abis buat penelitian. Mana tadi abis makan. Yang ada bahaya di jalan. Maaf ya...." ucap Raysa sambil menepuk-nepuk perutnya yang agak buncit efek kekenyangan.

"Oniiii...." keluh Rein, sedih.

"Kenapa ga minta jemput Angkasa?" sambar Hana.

Rein menatap mamanya dengan ekspresi malas.

"Asa pacar, Ma, bukan driver. Lagipula dia ada pertemuan keluarga juga sekarang."

"Trus aku apa dong?? Diminta nganterin? Driver??" sahut Rasya keki.

"Kakak yang sayang adik," jawab Rein, polos, membuat dia mendapat toyoran di kepala.

"Abis Angkasa mirip pacar siaga sih, siap antar jaga banget. Setiap kamu nelpon minta dijemput atau dianterin ke manapun pasti langsung diturutin," ucap Hana lagi.

"Ya begitu deh, Ma... pacar rangkap driver. Lebih hebat ketimbang uber," jawab Rein sambil tertawa.

"Persis Hans dulu ya...supir kita-kita," sambar Bayu.

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang