Part 16 - Pride

7.7K 1K 32
                                        

Ken tak berkonsentrasi sama sekali saat berlatih untuk team IPA-nya. Sepertinya menunjuk Rein sebagai kapten adalah keputusan yang salah. Rein seharusnya tidak satu team dengannya karena berlatih di dekat Rein mengalihkan perhatiannya.

Seperti saat ini, ketika wajahnya malah terkena bola yang dilempar Dean ke arahnya karena asik memperhatikan Rein yang sedang meliuk-liuk kan badannya yang sexy saat melakukan stretching di pinggir lapangan.

"Woi Ken... konsen sih!" gerutu Dean mencoba mengembalikan Ken ke kenyataan.

"Iya... iya... sorry," sahut Ken, buru-buru meminta maaf dan mencoba memusatkan perhatiannya kembali.

Angkasa menghampiri Rein yang sedang beristirahat di pinggir lapangan setelah berlatih selama satu jam.

"Rein, kamu masih belum selesai?"

"Belum. Si Ken spartan deh. Latihannya berat banget. Capeeee... udah lama ga olahraga," keluh Rein sambil mengusap keringatnya dengan handuk kecil.

"Aku tunggu kamu ya...."

"Ga usah, Asa, masih lama kayaknya. Kamu bukannya besok ada test?"

"Nanti kamu pulangnya gimana?"

"Ya ampun, aku biasa pulang sendiri kok. Tenang aja, masih banyak angkot ke rumah."

Angkasa tersenyum, sepertinya Rein mengerti kalau dia tak mau Rein pulang diantar Ken. Angkasa mengusap pipi Rein pelan, berlama-lama menaruh tangannya di sana.

Tiba-tiba ada bola terlempar ke arah mereka, untung saja Angkasa dapat menangkap bola itu dengan sigap. Rein dan Angkasa menengok, mencari tahu siapa yang melempar bola, ternyata Ken sedang memperhatikan mereka berdua, raut wajah terlihat kesal.

"Rein, break-nya udah selesai, ayo mulai lagi!" teriak Ken.

Rein menghela napas panjang, merasa sebal karena Ken bersikap kekanak-kanakkan.

"Aku latihan lagi ya...."

"Oke, aku pulang duluan. Kabarin aku kalau kamu sudah sampai rumah."

Rein tersenyum dan mengangguk. Dia tak menyangka sama sekali Angkasa akan bersikap sama menyebalkannya ketika dia membungkuk dan mencium pipi Rein di hadapan semua orang membuat wajah Ken langsung merah padam karena kesal.

Angkasa mengusap kepala Rein kemudian melemparkan bola basket yang dipegangnya ke ring dan masuk! Padahal jaraknya hampir 20 meter dari tempat dia berdiri, kemudian pergi sambil tersenyum ke arah Ken.

'Ughhhhhh... boys... kapan mereka akan dewasa?' gerutu Rein dalam hati melihat tingkah Ken dan Angkasa yang terlihat seperti hewan yang berebut teritori.

----------

Rein pernah iseng bertanya pada Angkasa saat dia menjemput Rein berangkat sekolah.

"Asa, kamu di Washington ikut team basket sekolah ya?"

"Iya."

"Kenapa disini ga ikut?"

"Karena sudah kelas 12. Lagipula aku lebih berminat sama design ketimbang fokus ke olahraga lagi."

"Tinggi kamu bukannya cuma 185 cm? Pasti posisi kamu sebetulnya bukan center. Terlalu pendek untuk jadi center kalau di luar."

Angkasa tertawa mendengar perkataan Rein yang kelewat jujur. "Iya, aku point guard atau shooting guard biasanya."

"Kenapa di sini jadi center?"

"Kayaknya seru aja kalau berhadapan sama Ken," jelas Angkasa sementara Rein langsung cemberut.

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang