Part 32 - Chance

10.3K 1K 41
                                        

Rein menggambar kelopak mata Zain dengan eyeliner, membuat matanya terlihat ala gothic. Hukuman bagi Zain karena kalah bermain catur, satu-satunya permainan kecerdasan yang bisa membuat Rein menang darinya.

"Buat yang bener, biar aku keliatan keren," gumam Zain yang sedari tadi memejamkan mata.

"Diem ga! Kalau ga mau diem, aku colok nih," ancam Rein kemudian melanjutkan menggambar mata Zain yang sekarang malah terlihat seperti panda karena Rein membubuhkan eyeliner terlalu tebal pada mata bawahnya.

"What are you guys doin'?" tanya Chika yang baru saja tiba kemudian tertawa melihat Zain.

"Rein!! What did you do to my future boyfriend??" seru Chika sambil tertawa terbahak-bahak.

Zain nyengir dan menyapa Chika.

"Hai, future girlfriend?" ledeknya.

"Heh?? Future boyfriend? Ogah banget gue jadi kakak ipar loe!!"

"Ah, terima saja kemungkinan itu... ya ga, Zain?"

Zain mengacungkan jempol tanpa bisa melihat Chika karena sekarang Rein menambahkan eyeshadow ke matanya.

Chika dan Zain memang kerap bercanda kalau mereka akan menjadi pasangan suatu saat nanti, kalau jakun Zain sudah tumbuh dan kalau Chika berhenti tumbuh ke atas karena Zain tak mau tersaingi tinggi badannya. Saat ini tinggi Chika sudah mencapai 178cm, sementara Zain tingginya 183cm.

"Coba tambahin gliter gold deh, Rein, biar kelihatan lebih oke!!" usul Chika yang sekarang ikutan mendandani. Zain cuma bisa pasrah jadi korban keisengan mereka berdua.

Chika menambahkan lipgloss di bibir Zain sebagai sentuhan akhir dan tertawa-tawa melihat hasil akhirnya, Zain benar-benar tampak seperti banci salon.

"Oh my God. You look pretty, Zain." seru Chika girang.

"Masa sih?" Zain meraih kaca dan tertawa melihat tampangnya yang super girly.

"Buahahaha, foto dulu, foto dulu..." seru Zain bersemangat tanpa tahu malu.

Hana yang melintas ke ruang keluarga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang jahil.

"Yakin, Zain? Nanti kalau kesebar ke sosial media kamu bisa ga punya temen pas masuk MIT loh!" Rein menanyakan kewarasan adiknya.

"Udah ga papa.." jawab Zain sambil menarik Rein dan Chika mendekat untuk selfie bareng yang di upload dengan hashtag me and my monsters sister.

"Zain, loe ngapain manggil gue kemari?" tanya suara familiar di belakang mereka.

Mereka bertiga menengok dan Ken mengumpat kencang saking terkejutnya ketika melihat Zain.

"WHAT THE FUCK!!!"

"Loe mau ngamen di mana?" serunya setelah berhasil menguasai dirinya.

"Gue cakep ya?" tanya Zain sambil mengedip-ngedipkan bulu mata.

"Najis!!!" Ken bergidik ngeri.

"Jangan bilang orientasi seksual loe jadi berubah," ledek Ken.

"Ya ga lah... gue masih demen cewek!!" seru Zain bersungut-sungut.

"Ngapain loe manggil gue kemari?" tanya Ken mendekat tapi tak mau memandang Rein yang mendadak bersikap kaku dan hanya menunduk memandangi kakinya.

"Minta anterin."

"Ogah! Nanti gue kasih nomor telpon taksi."

"Bantuin lah," bujuk Zain.

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang