Tristan mengecup kepala Rein berulang kali dan memeluknya erat sampai Rein merasa sesak napas.
"Papa... oke, I'm gonna miss you too... tapi aku sesak sekarang," seru Rein dengan suara tercekat.
Tristan mencium pipi Rein sekali lagi baru kemudian melepaskan Rein yang mundur sambil terbatuk-batuk, kemudian mengambil napas banyak-banyak, memenuhi paru-paru nya dengan udara karena Rein merasa seperti habis dibelit anaconda.
Setelah bisa bernapas normal, Rein menghampiri mama dan memeluknya, agak berhati-hati karena takut akan terkena belitan lagi. Tapi ternyata mamanya jauh lebih tegar dari papa Rein yang hanya memeluk dan mengecup pipinya ringan sambil memberikan banyak petuah soal menjaga kesehatan di negeri orang. Setelah memeluk kedua orang tuanya, Rein berputar memeluk Hans, Nindi, Bayu dan Ratna, mereka semua mengingatkan Rein untuk menjaga dirinya baik-baik dan mereka akan berkunjung suatu saat nanti. Jumlah pengiring Rein ke bandara memang fantastis, Rein serasa seperti orang yang akan berangkat haji dan diantar oleh satu kampung, tapi juga merasa bahagia karena mereka semua menyayanginya.
Rein menghadap ke adiknya yang dari tadi cengar-cengir tak jelas.
"Take care, Sis," ucap Zain sambil mencium pipi Rein dan memeluk sama eratnya dengan sang papa sampai Rein harus menginjak kakinya agar Zain melepaskannya. Zain baru berangkat lusa, jadi dia masih bisa mengantar Rein ke bandara.
"Onii...." seru Rein manja sambil memeluk kakak kesayangannya.
Rasya mengecup kening Rein.
"Tahun depan aku nyusul," kata Rasya sambil mengusap kepala Rein.
"Ga bisa lebih cepet lagi ya, Onii? Sepiiiiii...." bujuk Rein.
"Doakan skripsiku lancar ya... biar cepet nyusul."
"Ganbatte Oniisan!" Rein menyemangati.
Orang terakhir yang dihampiri oleh Rein adalah Ken. Dari tadi dia hanya terdiam, berdiri bersandar di tiang sambil memperhatikan Rein lekat-lekat. Rein paling tak suka mengucapkan perpisahan dengannya. Dia merindukan pelukannya walaupun sehari sebelum berangkat, Rein menghabiskan sebagian besar waktunya berpelukan dan berbagi kecupan di kamar Ken.
Mata mereka saling menatap dan sorot kerinduan mulai terpancar dari mata masing-masing. Ken melangkah mendekati Rein dan memeluknya erat.
"I miss you already," bisik Ken.
"Me too...."
Ken mengusap kepala Rein, lembut.
"Take care Rein, call me when you get there."
"I will," ucap Rein sambil melepaskan diri walau enggan dari pelukannya.
Ken menggenggam tangan Rein, dan tiba-tiba menariknya mendekat dan mencium Rein tepat di bibirnya, membuat keluarga mereka yang menyaksikan adegan tersebut terkesiap namun tak mampu berkomentar apa-apa saking terkejutnya sampai akhirnya Zain berteriak.
"Hey, keep your mouth out of my sister!!"
Ken tertawa, menghentikan ciumannya tapi tangannya masih menggenggam tangan Rein yang wajah merahnya mengalahkan kepiting rebus.
"Pa, Bunda, kenalin, pacar aku. Kan udah kubilang orangnya pemalu," ucap Ken sambil menyeringai jahil.
Hans, Nindi dan Tristan masih saja bengong sementara Hana dan Bayu tertawa.
"You'd knew??" tanya Tristan setelah bisa menemukan suaranya lagi ke Hana yang sekarang hanya tersenyum-senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Roman pour AdolescentsWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
