"Kenapa sih cemberut aja? Ga enak makanannya?" tegur Rasya ketika mereka menikmati pancake dengan ice cream. Heran melihat Rein seperti malas-malasan padahal dari kemarin dia yang ribut memalak pancake.
"Belum sempet cuci mata soalnya," sahut Rein sekenanya.
Rasya tertawa. "Aku bawa obat tetes mata, mau?" goda Rasya.
"Ah, Oniisan, ikutan nyebelin deh," gerutu Rein.
"Kamu tuh, kalau ketemu Ken bawaannya bete terus. Digodain lagi emangnya?" selidik Rasya yang tahu kalau Ken sering kali menggoda Rein untuk memancing emosinya yang biasanya datar-datar saja.
"Ga sih,I saw him kissing another girl. Again!! Ganggu aja."
"Hah? Kenapa ganggu? Kamu cemburu??"
Rein melotot seketika, memasang wajah sangar.
"Ya ga lah! Cuma dia tuh selalu making out di semua spot-spot favoritku buat baca. Kan ganggu!" Rein memukul meja. "Mana ceweknya beda-beda terus. Ga takut digebukin apa?" lanjutnya berapi-api.
Tangan Rasya terulur mengacak-ngacak rambut Rein, gemas.
"Ya kamu juga salah. Kenapa baca buku di tempat-tempat sepi? Udah tau kalau tempat sepi tuh spot-nya orang pacaran. Makanya punya pacar, biar tau."
"Ga minat!! Ga ada yang keren."
Tawa Rasya kembali pecah. "Si Ken keren ngakunya."
"Dih, dia aja yang narsis! Ogah!Ga minat sama anak kecil!"
"Sok tua kamu, kalian kan cuma beda hampir setahun."
"6 bulan! Onii kenapa sih? Malah jadi ngebahas Ken. Ga ada topik bahasan yang lebih keren lagi ya? Oniisan pacarnya siapa gitu sekarang?"
"Hmm... ngeledek, sekarang lagi nge-date sama kamu kan, cuma yang diajak nge-date mukanya ditekuk sembilan. Ga asik banget."
"Gomen," (maaf) kata Rein yang akhirnya bisa tersenyum juga dan mulai bercerita panjang lebar tentang kegiatannya sementara Rasya mendengarkan dengan penuh perhatian.
Rasya mengantarkan Rein pulang dan Rein merasa heran melihat mobil Ken ada di parkiran.
"Si Ken ke rumah ngapain ya?" tanya Rein.
"Main kali sama Zain, Zain baru balik minggu depan kan?"
Rein diam saja, tak mau tahu apa yang sedang Ken lakukan di rumahnya.
"Bye Onii... makasih kuenya ya...." Rein memeluk Rasya dan Rasya mengecup puncak kepalanya.
"Bye pumpkin." Pumpkin adalah julukan kesayangan untuk Rein karena dulu Rein pernah alergi serbuk bunga yang menyebabkan wajahnya menjadi oranye.
Benar saja, ketika Rein masuk ke rumahnya dia mendengar suara orang bermain basket dengan penuh semangat. Rein melongok-longok dan mendapati rumahnya sepi. Mamanya pergi entah ke mana dan berdasarkan pembicaraan dengan Rasya, dia tahu papanya akan pulang malam karena diajak berdiskusi setelah seminar sekaligus makan malam.
Rein menaruh sepotong shortcake strawberry yang dibelikan Rasya di kulkas kemudian bergegas ke kamarnya untuk merapikan diri. Selepas itu menunaikan tugasnya bebenah rumah pada sore hari. Papanya yang pecinta kebersihan bisa marah jika melihat debu walau setitik.
Terbiasa tinggal di luar negeri membuat mereka tidak pernah memiliki asisten rumah tangga kecuali memanggil tukang kebun dua minggu sekali. Hanya berbagi tugas masing-masing dengan hukuman keras pemotongan uang saku kalau ada yang melanggar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Teen FictionWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
