Neng tag mature ya... Yang merasa belom cukup umur silakan cari cerita teen yang lain.
Neng nulis cerita ini base on kebanyakan nonton seri remaja luar jadi mohon dimaklumi.
And again, sekedar ngasih tau. Neng bukan penulis cerita religi. So, maaf kalau ceritanya terlalu dewasa. 🙇🙇🙇
----------
"Kamu sudah siap buat tanding voli hari ini?" tanya Angkasa ketika menjemput Rein berangkat sekolah.
"Hmmm, I'm ready...." jawab Rein singkat seperti tak fokus.
Angkasa melirik Rein, pacarnya akhir-akhir ini terlihat tidak bersemangat dan dia tak mau memberitahu apa penyebabnya. Besar kemungkinan karena pria berengsek dan menyebalkan bernama Ken.
Dua minggu lalu Rein pergi dengannya dan hari berikutnya Rein berubah murung.
Angkasa bertanya bagaimana 'date' mereka? Rein hanya menjawab singkat, biasa saja. Hanya jalan dan makan tanpa bercerita lebih detail sehingga membuat Angkasa frustrasi.
What did you do to my girl, asshole???
---------
Ken menepati ucapannya dengan tidak mengganggu hubungan Angkasa dan Rein. Dia tak pernah menghubungi, ketika bertemu di sekolah pun hanya tersenyum menyapa kemudian berpaling, asyik dengan kegiatannya sendiri seakan kencan mereka tak berarti. Rein harusnya lega, tapi entah kenapa dia merasa sedih.
Terutama ketika kemarin dia dan Chika pergi ke ruang klub basket untuk meminjam bola dan mendapati Ken sedang mencumbu Easther.
Chika meledek Ken, "Get a room!!"
Ken menjawab singkat sambil tertawa sementara Easther langsung buru-buru keluar ruangan dengan wajah merah karena malu.
"This is my room before you enter. Mau ngapain sih?"
"Minjem bola," jawab Chika.
Ken mengambil kunci dari laci dan membuka box tempat mereka menyimpan bola.
"Butuh berapa?" tanya Ken.
"Empat," jawab Rein singkat tanpa berminat menatap Ken.
Ken menyerahkan dua bola ke Chika yang langsung pergi menuju lapangan meninggalkan Rein untuk membawa sisanya. Rein bergerak maju ke tempat penyimpanan, ingin mengambil sendiri tanpa bantuan Ken.
"It's not what you think it is," bisik Ken pelan sambil menutup kotak penyimpanan dan menguncinya lagi.
Rein memberanikan diri menatap wajahnya dengan ekspresi poker face andalannya.
"You don't need to explain anything to me, Ken, I don't care at all," jawab Rein, datar.
"Rein...." tangan Ken menahan lengannya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu saat Rein menatapnya tajam tapi bibirnya tak bisa berucap.
"Permisi, Ken, aku ditunggu." Rein menatap tangan Ken yang mencengkram lengannya.
Ken hanya bisa menghela napas dan melepaskan Rein perlahan.
Dia menatap nanar punggung Rein yang menjauh. Damn!! He miss her so much, he miss her lips, miss her scent, miss her hug. Ken dan perilaku gilanya yang berharap bisa mencari pengganti Rein dalam waktu singkat.
Bisa dipastikan dia gagal total. What were you thinking Ken? Padahal kau tahu kalau Rein tak bisa tergantikan dengan siapapun. Pikir Ken penuh penyesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Fiksi RemajaWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
