"You're good?" tanya Chika ke Rein ketika mereka duduk di pinggir lapangan bersama team basket IPA yang sedang bersiap untuk memulai pertandingan final.
"Gue ga pernah setegang ini seumur-umur," jawab Rein, wajahnya agak pucat.
"Udah kasih ciuman semoga berhasil buat Angkasa?"
Rein memelototi temannya yang kerap usil ini.
"Pasti berat jadi loe...pacarku, musuhku. Loe kan kudu dukung team IPA," tambah Chika lagi.
"Gue Harap Asa menang, jadi gue ga usah berurusan lagi sama Ken," sahut Rein sebal.
"Kamu bawa sial tau ga kalau ngomong begitu! Segitu takutnya aku deketin sih? " sambar Ken yang ternyata berdiri di belakang Rein.
Rein menengok dan mendelik sementara Ken tertawa melihat tatapan Rein yang seakan membunuh.
Ken mengulurkan tangannya mengusap pelan kepala Rein."Rein, kalau aku menang walaupun kamu sudah ngutuk aku buat kalah. Kamu harus mau ikut aku pergi ke pohon capek ya... give me a reward karena udah berusaha mati-matian buat kamu.."
"Ga mau!!" omel Rein.
"Jahat ih, aku janji setelah itu ga akan ganggu kamu lagi."
Rein menatap Ken sangsi. "Bener ya, ga akan ganggu dan ngomong yang aneh-aneh lagi!"
Ken mengacungkan dua jarinya membentuk peace sign. "Promise!!"
"Oke," jawab Rein pada akhirnya walau raut wajahnya terlihat tidak rela.
Ken tersenyum dan bergegas ke tengah lapangan bersama teman-temannya yang lain.Angkasa yang juga baru tiba di lapangan melambai ke arah Rein sambil tersenyum dan meniupkan cium jauh yang membuat para penonton berseru heboh.
Rein menutupi mukanya dengan tangan. Pacarnya berhasil membuatnya malu dengan berbagai macam cara hari ini. Tadi ketika pertandingan final putri pun begitu. Angkasa dengan cueknya memakai kaus bertuliskan, 'Go, Rein... Go!!' dan berteriak memanggil namanya setiap kali Rein melakukan dunk. Padahal dia duduk sebagai team lawan.
Belum lagi ketika akhirnya team Rein menang, Angkasa langsung lari ke tengah lapangan, memeluk dan mencium pipi Rein yang sontak merasa malu luar biasa karena satu sekolah memperhatikan mereka.
"Oh... I wish this game would be over soon," bisik Rein pelan ke Chika.
Wasit melemparkan bola pertama dan Angkasa dengan sigap langsung loncat merebut dan menembakkannya. Masuk, tiga poin untuk IPS membuat suasana memanas dengan cepat. Rein belum pernah melihat Angkasa bermain basket sebelumnya dan dia benar-benar hebat. Bergerak dengan lincah dan cepat sampai membuat Ken melakukan foul untuk menahan gerakannya.
Angkasa melakukan jumpshoot dan rebound yang langsung direbut oleh Ken. Dia ber-cross over membawa bola, bergerak cepat ke daerah lawan dan melakukan dunk. Membuat semua orang bersorak sorai gembira melihat pertandingan yang sangat seru ini. Penonton seperti disuguhi pertandingan NBA kelas atas akan permainan Angkasa dan Ken yang berlangsung sangat ketat.
Score mereka pun terpaut tipis di tiap babaknya, tak ada yang bisa menebak siapa yang akan keluar menjadi juara. "Gue ga nyangka Yuda sehebat itu mainnya, Rein," guman Chika, terpana.
"Gue juga ga nyangka," balas Rein.
"Loe ga tau, Rein? Yuda kan MVP player di high school-nya dulu," sahut Travis yang sedang beristirahat dan digantikan oleh Jared. Chika dan Rein melongo menatap Travis, meminta penjelasan lebih detail.
KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Only We know
Fiksi RemajaWhen your some kind of Brother fall in love with you, now you are in a serious trouble!!! ketika Rein menyadari kalau Ken si playboy, anak dari sahabat baik orangtuanya, yang tumbuh dan besar bersama sebagai musuh besar menyatakan kalau dia mencinta...
