Part 37 - Friction

10.6K 1.1K 69
                                        

Bunyi beep beep dari laptop Rein yang menyala mengalihkan perhatian Rein dari kegiatan rutin dia sebelum tidur, bertelepon ria dengan Ken.

"My skype calling, pasti Chika," ujar Rein, berniat menyudahi pembicaraan mereka.

"Memangnya kalian ga cukup ngobrol tadi siang?" gerutu Ken.

"Gosip tak pernah ada habisnya, Ken. Kamu kan ga bisa kuajak membicarakan pakaian atau cat kuku keluaran terbaru."

"Gezzzz... woman."

Rein tertawa. "Your woman. Goodnight, Ken."

"Jangan tidur terlalu malam dan jangan lupa untuk memimpikan aku. I miss you love, Goodnight."

"Love you, " seru Rein buru-buru lalu melesat ke depan laptopnya saat Ken mematikan sambungan telepon dan tertegun melihat siapa yang menghubunginya malam-malam.

'Asa....' pikir Rein keheranan. Melihat namanya tertera di layar laptop Rein membuat dia merasakan cubitan rasa nyeri di hatinya. Apa yang dia inginkan? Mereka praktis tak pernah berkomunikasi sejak Angkasa pergi ke New York kecuali ketika Angkasa mengirimkan sketsa ke Rein.

Itupun Rein tak kuasa memberi tanggapan. Toh dia juga tahu kalau Angkasa tak memerlukan jawaban karena sadar nasib hubungan mereka sudah mutlak, tak akan pernah dibiarkan bersama. Sekarang sketsa itu tergolek berdebu di sudut lemari penyimpanan Rein karena Ken tak suka jika Rein masih memajangnya. Pacarnya yang posesif memang tak bisa menilai work art yang keren, atau hanya karena itu karya Angkasa, membuat penilaian Ken jadi kelabu.

Jemari Rein agak bergetar ketika dia memutuskan untuk menjawab panggilan Angkasa.

"Reinnn...." sapa Angkasa.

Mau tak mau Rein tersenyum melihatnya. Rambut ikalnya lebih panjang dan sedikit berantakan, wajahnya tampak lelah seperti orang yang tidak tidur semalaman tapi senyumnya masih sehangat yang Rein ingat. Senyum yang dulu memikat hatinya.

"Maaf menghubungimu malam-malam. Aku mengganggu waktu tidur kamu ya?"

Rein menggeleng. Masih belum mampu bersuara setelah mendengar suara Angkasa yang dulu pernah dia rindukannya.

Lama mereka berpisah tanpa pernah saling bertukar kabar. Berbulan-bulan waktu yang diperlukan Rein untuk bangkit dari keterpurukannya akibat perpisahan mereka. Dan sekarang Angkasa hadir tanpa diundang, membangkitkan memori lama yang sudah terkubur.

"I need your help. Kamu tahu cara menurunkan demam pada anak ga?" tanya Angkasa tiba-tiba.

"Eh...." Rein tertegun, tak menyangka Angkasa akan menanyakan pertanyaan itu. Rein mendadak tertawa. 'Looks like daddy is in a serious trouble,' pikirnya.

Rein menyingkirkan pikirannya yang sudah berkelana ke semua arah karena Angkasa dan berusaha fokus pada pertanyaannya.

"I'm not a doctor, Asa... tapi ada apa?"

Terdengar tangisan bayi dan Angkasa berpamitan sebentar untuk menenangkannya. Tangisannya tak kunjung reda akhirnya Angkasa memutuskan untuk membawa anaknya ke depan laptop. Baru kali ini Rein melihat anaknya. She's pretty dan matanya yang berwarna abu-abu sangat mirip dengan mata Angkasa. Dia menangis riuh rendah dengan wajah memerah dan sulit untuk ditenangkan walaupun Angkasa mencoba memberikan sebotol susu padanya. Tak tega melihat Angkasa yang kerepotan Rein langsung memberi perintah.

"Hold and Rock her."

Angkasa langsung menurutinya kemudian Rein mulai bernyanyi la vie en rose untuk menenangkannya. Ibunya selalu menyanyikan lagu itu untuk Rein dan Zain setiap mereka mau tidur ketika mereka kecil dulu dan nadanya selalu membuat Rein merasa tenang.

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang