Part 36 - Try

9.9K 1.1K 57
                                        

Hana tertegun mendengar sapaan Ken yang meminta izin untuk bicara dengannya. Tangannya yang dari tadi sibuk mengetik seketika itu juga berhenti. Sebetulnya dia sedang menghadapi deadline. Naskah terjemahan yang sedang dia kerjakan harus dikirim malam ini juga. Tapi rasa penasaran akan apa yang diinginkan Ken membuatnya memilih menunda pekerjaannya.

"Masuk, Ken, ada apa?"

Ken membuka pintu, tersenyum agak gugup ke arah Hana. Dia mendekat dan mengambil tempat di depan Hana.

Ken merasa seperti sedang menghadap kepala sekolah karena telah berbuat nakal. Terutama ketika Hana menatapnya tajam.

Mata Hana yang bulat dan mirip sekali dengan mata Rein tak membantu sama sekali meredakan ketegangannya. Sebetulnya dia agak takut, tapi dia tahu hal ini harus dilakukan demi Rein, demi hubungan mereka.

"Tante, aku mau minta maaf," ucap Ken setelah terdiam cukup lama.

Alis Hana terangkat sedikit ketika Ken mengucapkan itu. Hana tahu persis arah pembicaraan Ken dan dia sangat tak suka membahasnya. Tapi diam-diam Hana mengacungkan jempol atas sikap Ken yang berani menghadapinya tanpa memakai jaket anti peluru dan helm anti huru-hara. Dia pemberani dan nekat, persis seperti ayahnya.

"Aku rasa Tante tahu aku minta maaf untuk apa. Aku cuma mau bilang kalau apa yang terjadi bukan cuma salah Rein. Tapi salah aku juga. I can not let her take all the blame. So, if you wanna mad at me too. I can accept that. I made a mistakes, I'm so sorry," lanjut Ken.

Hana menghela napas panjang.

"What on earth both of you were thinking?? You guys still a child!! Now you wanna make a child too??" seru Hana pelan dengan penekanan pada setiap suku katanya.

Sebetulnya Ken lebih bisa mengantisipasi teriakan marah daripada nada suara yang pelan tapi sarat dengan kekecewaan dari tantenya. Mendengar desisan mematikan seperti itu malah membuat dia merasa menciut jadi anak kecil yang ketahuan mencuri permen di toko. Padahal orang yang sedang menatapnya dengan tajam sekarang hanya setinggi 154 cm sementara Ken tingginya mencapai 185 cm.

"Maaf...." Hanya satu kata itu saja yang bisa terucap dari mulut Ken. Walaupun sebetulnya Ken sadar kalau kata maaf yang dilontarkannya tak ada artinya dan tak memberikan banyak perbedaan. Dia tak menyesal. Memiliki Rein adalah hal terbaik dalam hidupnya.

Dia hanya tak suka melihat sorot mata yang memandangnya dengan penuh rasa kecewa. Dia menyayangi tantenya, keluarga tambahannya dan tak mau melihat mereka sedih dan kecewa.

"Aku mencintai Rein. Yang kami lakukan jelas salah. Tapi aku mencintainya. I'm sorry if I let you down, aku bersedia melakukan apapun untuk menebusnya. Tapi Tante, tolong... biarkan kami tetap bersama," ucap Ken mantap sambil menatap mata Hana dengan berani dan penuh tekad.

Hana menatap tajam ke mata Ken mencari kebenaran dalam setiap kata yang diucapkannya. Anak itu memang sangat nekad dari dulu. Apapun yang dia inginkan harus dicapainya. Ken adalah orang yang keras hati dan keras kepala, juga bukan orang yang pandai mengontrol emosinya. Itu juga yang membuat Hana khawatir.

Dia sangat mengenal anak perempuannya yang dingin, tenang, dan biasanya sangat mengutamakan logika dalam setiap tindakan, persis seperti ayahnya. Walaupun dari segi penampilan, Rein lebih banyak mirip dengannya. Untuk itu Hana juga tahu satu hal berbahaya yang pasti diwariskan dari Tristan.

Tristan memiliki gairah yang menggebu-gebu di balik tampang dingin yang selalu ditampilkan dan sangat sulit untuk dikendalikan. Dia yakin Rein juga mewarisi hal yang sama yang membuatnya sekarang nekat melewati batas.

Somewhere Only We knowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang