34. Louis

153 22 15
                                    

Author pov

Siang berganti malam. Louis sudah melewatkan makan siangnya hari ini. Namun, mom Johannah tidak akan membiarkan putranya melewatkan makan malamnya juga, hanya karena tugas sialan itu.

Bahkan sekarang Louis sedang menyantap makan malamnya. Meskipun ia sambil mengerjakan tugasnya. Tapi yang terpenting, ia tetap harus makan teratur.

Selesai makan, ia menaruh alat makannya ditempat cuci piring. Kemudian ia mencucinya sendiri.

"Sibuk banget sih? Padahal seharian mama sama kamu ada dirumah. Tapi mama baru sekarang loh liat kamu,"ujar Mama yang entah sejak dari kapan, sudah berdiri disamping anak lelakinya.

Louis mengangkat bahunya ringan,"tugas Louis kan banyak, Ma. Kalo gak dikerjain cepet-cepet, ya biasa berantakan."

"Ya, Mama tau. Tapi kamu juga gak boleh terlalu sibuk kerjain tugas-tugas kuliah kamu. Jadinya gak ada komunikasi sama keluarga,"jawab mom Johannah, kemudian pergi dari dapur meninggalkan anak lelakinya.

Louis berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Mamanya tadi. Ah, tapi biarkan saja. Kemudian Louis kembali masuk ke dalam kamarnya.

Menatap jam dinding yang berada dikamarnya, ternyata sudah jam 11 malam. Memang tidak terasa, karena sedari tadi Louis hanya fokus pada tugasnya tanpa melihat waktu sesekali. Louis pun membasuh wajahnya dengan air bersih. Kemudian ia membereskan buku-buku mata pelajaran kuliahnya yang masih berserakan dikasurnya, lalu menutup MacBooknya, dan segera tidur karena mengingat adanya kelas pagi di kuliah besok.

***

Langkah Eleanor menelusuri koridor sekolah yang masih dipenuhi oleh murid-murid. Ada yang sedang sibuk berbincang, ada yang sibuk mengambil buku pelajaran untuk pelajaran hari ini, sama seperti dirinya.

Selesai mengambil buku yang berada di loker. Eleanor pun melangkah masuk ke dalam kelasnya. Didapatinya Perrie sedang mendengarkan musik lewat earphonenya sambil bersantai mengotak-ngatik ponsel kesayangan milik Perrie.

Eleanor mengahampiri sahabatnya itu, yang belum sadar akan kedatangannya,"Ekhm,"Eleanor berdeham.

Tentu saja Perrie tidak merespon, karena sedang mendengarkan musik.

Eleanor menepuk jidatnya, mengingat Perrie tidak akan mendengarnya sekeras apapun ia bersuara.

Dengan segera, Eleanor melepaskan satu earphone yang masih berada ditelinga Perrie. Perrie yang merasakan itu, jelas saja terlonjak kaget. Ia menghela nafasnya pelan saat tau pelakunya adalah Eleanor.

Perrie diam sebentar. Kemudian tiba-tiba memeluk Eleanor dan merekahlah senyumnya. Sifat lemot Perrie memang tidak pernah hilang!

Eleanor hanya tertawa melihat sikap sahabatnya, dan memeluk sahabatnya kembali,"Dasar! ditinggal 2 hari sifat lemot lo gak ilang ya,"ujar Eleanor terkekeh pelan.

Perrie melepaskan pelukannya. Kini tangannya mendarat mulus dikepala Eleanor.

"Awww! sakit tau!" ringis Eleanor sambil sesekali mengelus kepalanya sendiri dengan lembut.

"Biarin! Ngomong-ngomong udah gak sedih lagi dong sekarang?" tanya Perrie sekaligus meledek.

"Gak donggg. Bosen ah lagian, sedih-sedih terus,"jawab Eleanor tersenyum.

"Bagus deh. Ohiya, hampir aja lupa," seru Perrie lalu menepuk jidatnya.

Eleanor menatap Perrie bingung,"Lupa apa? kok tumben banget?"tanya Eleanor mengingat Perrie yang memang jarang sekali melupakan sesuatu yang penting seperti ini.

ObsessedDonde viven las historias. Descúbrelo ahora