Play music-nya yaa! :)
[Trishya]
Sinar matahari seolah bisa menembus ke mata Trishya yang tadinya terpejam rapat, sekarang terbuka. Ia melirik jam yang terpampang di ponselnya, sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Setelah tadi malam waktunya ia habiskan dengan menangis sembari mendengar lagu-lagu mellow di ponselnya, ia tertidur dengan nyenyak.
Trishya melihat ke sekitar kamarnya. Banyak sekali tisu berhamburan di lantainya. "Ugh, banyak banget sih," gumamnya sambil memungut tisu-tisu di lantai kamarnya.
Setelah semuanya sudah beres-begitu juga Trishya yang sudah mandi, Trishya baru menyadari sesuatu. Rumahnya sunyi sekali. Tidak ada orang. Mungkin Bunda sama Ayah lagi cari sarapan, pikirnya.
Trishya kemudian duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya. Ternyata ada beberapa pesan dari Bundanya.
Bunda: Tris, Bunda ke Bandara sama Papa dan Kembar.
Bunda: Sebenernya Bunda berat buat ngomong ini, tapi hari ini Ardan sama keluarganya berangkat ke Makassar dan gak tau kapan bakal main-main ke Bandung lagi.
Bunda: Maafin Bunda ya, baru bilang sekarang. Oh, dan jangan coba-coba buat nyusul ke Bandara, Bunda tau kamu pasti bakal ngebut.
Trishya terdiam membaca semua pesan dari Bundanya. Entah kenapa hatinya terasa begitu ngilu. Perlahan air matanya mulai menetes, ia berusaha untuk menghapusnya dengan punggung tangannya. Namun, usahanya tak berhasil, tangisnya malah semakin kencang.
Trishya mencoba menghubungi Ardan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali telponnya tak kunjung diangkat. Akhirnya, Trishya mencoba menelpon satu kali lagi dan ... diangkat!
"Ha-halo?"
[][][]
Sejak tadi, Ardan berusaha mengabaikan ponselnya yang terus-terusan berdering. Ia tahu, itu panggilan masuk dari Trishya, dan ia berusaha mengabaikannya.
Ardan sudah terlanjur kecewa, ia takut kalau nantinya Trishya malah bercerita tentang dinner romantisnya dengan Yogi.
Tapi akhirnya, saat panggilan keempat, pertahanannya runtuh juga.
"Ha-halo?"
Ardan terdiam mendengar suara Trishya. Trishya nangis?
"Ya?"
"D-dan, lo dimana? Lo beneran ke Makassar?"
Ardan bingung harus menjawab apa, lama ia terdiam, lalu akhirnya berkata, "Di airport. Tenang aja Tris, gue udah pindah ke Makassar kok, jadi udah nggak ada yang gangguin lo lagi. Oh, dan juga selamat ya lo sama Yogi, semoga dia nggak nyakitin lo lagi. Gue tutup ya, gue udah mau naik pesawat."
"Dan! Gue gak balikan sama Yogi, jangan di tutup dulu, gue mau ngomong sesuatu."
"Buruan, gue udah mau naik pesawat," jawab Ardan.
"Dan, gue sa-sayang sama lo."
Ardan tersenyum, bukannya senang tapi hatinya malah ngilu. "Maaf Tris, udah telat. Maybe I will found another girl who will appreciate my feelings. Gue naik pesawat dulu ya, dah."
Ardan kemudian memutuskan sambungan telpon sepihak.
Ardan bohong saat mengatakan ia sudah mau naik pesawat. Ia buru-buru memutuskan sambungan telponnya karena takut air matanya akan menetes lagi.
"Dan?" Arfin datang dan menepuk bahu Ardan.
Ardan menoleh, lalu berpura-pura tersenyum. "Hm?"
"Siapa tadi yang nelfon?"
"Oh, itu, temen, hehe."
"Lo tau kan, Dan, lo gak bisa bohong sama gue."
"Trishya, Bang. Dia barusan bilang kalau dia sayang sama gue."
"Telat banget. Udah, lo cari cewek lain aja di Makassar."
Ardan mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian ia menyusul Arfin yang sudah duluan masuk ke ruang tunggu.
Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya Ardan benar-benar naik pesawat. Sebelum take off, ia menyempatkan mengirim pesan untuk Trishya.
Ardan: Makasih, Tris udah ngasih gue pengalaman berharga selama kurang lebih dua tahun gue di Bandung. I love you, but it hurts.
[Trishya]
Hai hai hai! Ku tidak menyangka sudah menulis sampai 30 part, dan mungkin sebentar lagi cerita ini akan selesai:)
Vote and comments? Makasih :)
10/7/2016
Athalia Alamanda
KAMU SEDANG MEMBACA
Trishya
Teen Fiction[COMPLETE] Selama 15 tahun hidupnya, Trishya belum pernah memiliki sahabat laki-laki. Hingga akhirnya, Ardan Azhar, anak dari teman orang tuanya itu datang kepadanya dan menawarkan persahabatan. Namun, siapa sangka bahwa Ardan akhirnya akan jatuh ci...
