7 | Membuka Dunia

3.4K 219 7
                                        

From author: Maaf bagi yang tidak suka narasi panjang. Bab kali ini tanpa dialog. Mungkin akan banyak bab tanpa dialog nantinya. Tapi menurut penilaian saya, bab-bab tanpa dialog seperti ini lebih menarik karena lebih membuat orang banyak berimajinasi, terlebih lagi ini adalah cerita fantasi. OK, selamat membaca.

Langit terbang tanpa melihat sampai dimana dia. Sayapnya mengembang laksana elang yang sedang terbang tinggi di langit. Malam hari salah satu waktu yang bersahabat. Penerbangan malamnya tak bisa dilihat oleh manusia. Langit terbang dengan ditemani bintang-gemintang yang gemerlapan di malam hari. Tak tampak bulan malam ini. Sementara itu angin menderu kencang membuat rambutnya berkibar-kibar. Langit tak begitu bisa melihat daratan, tak ada listrik, tak ada penerangan. Ia hanya bisa mengandalkan insting untuk terbang. Yang jelas ia terbang ke tempat matahari terbenam meninggalkan tempat kelahirannya.

Lama terbang membuatnya lelah. Ia memperlambat laju terbangnya, mencoba untuk mendarat. Langit tahu bahwa mungkin saja di bawah sana ia akan mendapati manusia yang lain. Tapi mau tak mau ia harus istirahat. Dia mencoba mencari tempat-tempat persembunyian yang cocok untuknya. Matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan, sekarang ia tahu kalau di bawah sana adalah hutan lebat. Pepohonan yang rimbun dengan suara dedauan gemerisik, serta sebuah suara gemercik air yang deras. Air terjun, itu jawabannya. Langit bisa istirahat di sana.

Kepakan sayap Langit mulai melemah. Dia mendarat dengan aman. Matanya melirik kiri kanan mencoba mencari sesuatu. Dia pun mulai mempertajam pendengarannya. Yang pertama yang ingin dia lakukan adalah mencari air untuk diminum. Suara air terjun pun menuntunnya untuk segera menuju ke tempat itu. Malam makin larut dan udara semakin dingin. Bintang-bintang membentuk gugusan garis galaksi bima sakti seperti sebuah hiasan batu-batu mulia yang tertata rapi di langit malam. Langkah kaki Langit mulai melambat ketika kakinya sudah menyentuh pinggiran sungai. Ia pun segera meraih air sungai itu dengan tangannya. Ia meminum hingga dahaganya hilang. Setelah itu dia mencari batu untuk duduk.

Untuk sesaat ia teringat lagi dengan bibinya. Hal itu tentu saja membuatnya menangis. Bagaimana pun juga ia masih 10 tahun. Dia harus bertahan hidup, bagaimana pun caranya. Bibinya telah memberinya banyak buku untuk belajar. Setidaknya ia telah melahap dan menghafal semua buku-buku itu. Dia akan gunakan semua pengetahuannya selama ini untuk bertahan hidup. Bagaimana caranya bertahan hidup? Ia telah lakukan langkah awal untuk bertahan hidup, yaitu mencari air. Sekarang bagaimana cara menemukan makanan? Ah, biar pun ia lapar tapi hari masih gelap. Ia tak mungkin mencari makanan di malam hari. Air terjun yang ada di hadapannya ini begitu deras airnya. Ditambah lagi suara binatang malam yang bersahut-sahutan.

Langit terhenyak, ia baru menyadari kalau sekarang ia berada di alam bebas. Bisa jadi ada binatang buas di hutan ini. Ia tak mungkin berdiam diri di tempat ini. Ia harus bergerak atau istirahat di tempat yang tinggi. Dengan cepat ia mengepakkan sayapnya lagi sehingga tubuhnya melesat ke udara.

Langit mencari tempat yang tinggi, hingga ia kemudian menemukan sebuah bukit yang cukup tinggi. Dia lalu mendarat di atasnya. Dari atas bukit itu dia bisa melihat sejauh mata memandang, tapi semuanya gelap. Mungkin nanti kalau matahari sudah terbit ia akan bisa melihat semuanya.

Lelah, itulah yang dirasakan olehnya sekarang. Mau tak mau dia harus mengatupkan sayapnya, membaringkan badannya dan memejamkan matanya. Ia yakin di atas bukit ini ia akan aman dari ancaman predator. Setidaknya tempat ini lebih tinggi daripada rumah pohonnya.

Tak lama kemudian langit pun tertidur. Ia sudah tak peduli lagi akan ada bahaya apalagi. Baginya kejadian hari ini cukup. Ia akan lihat apa yang akan ia dapatkan esok hari. Malam pun menyelimutinya. Angin malam tak membuatnya takut, bisikan-bisikan dari gesekan pohon dan ranting tak dia hiraukan sama sekali. Semuanya telah senyap ketika Langit sudah terlelap dalam tidurnya. Dengkurannya halus, nafasnya teratur, semua rasa lelah yang ia rasakan mulai menghilang. Dia masih teringat bibinya, dan di dalam tidurnya ia memimpikan bertemu dengan bibinya.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang