34 | Pulau di Atas Awan

2.2K 151 9
                                        


Kumpulan uap air di udara itu pun akhirnya ditembus oleh Langit. Wajahnya serasa basah karena uap air yang menggumpal itu. Dia pernah terbang lebih tinggi dari ini ketika masih di desa bersama Sarah. Kali ini ia bisa melihat lautan awan yang sangat luas. Terbang di atas awan memang sesuatu yang sangat ia rindukan sejak sayap-sayapnya dipatahkan oleh Raphael. Kini ia bisa terbang bebas seperti tanpa beban. Langit memejamkan matanya meresapi kebebasan yang bisa ia rasakan sekarang. Dia tak akan tahu seandainya ia hanyalah manusia biasa. Apakah sensasi seperti ini bisa dirasakannya ataukah tidak.

Matanya pun terbuka. Pandangannya sekarang terarah ke depan. Ia harus mencari keberadaan pulau yang melayang itu. Tapi di mana? Langit mengernyitkan dahi ketika ia melihat gumpalan awan yang lebih tinggi. Dia sampai mendongak melihat ujung awan itu.

"Ada awan lagi di atas awan!" gumamnya.

Dia yakin pasti di situ tempatnya. Sekali lagi ia kepakkan sayapnya untuk menembus awan itu. Ketika memasuki awan itu ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Tapi hanya sesaat karena setelah ia jauh masuk ke dalamnya terlihatlah sesuatu yang membuatnya terkagum-kagum. Sebuah daratan.

"Daratan!" serunya.

Daratan yang ada di hadapannya ini luas membentang seperti sebuah pulau. Ada padang rumput, hutan, bahkan gunung. Langit mengucek-ucek matanya serasa tak percaya tapi hal itu benar-benar terjadi. Dia mencoba melihat dasar dari daratan itu. Benar-benar melayang. Tapi ia terlalu penasaran ingin melihat dasar dari pulau tersebut. Ada apa di bawahnya?

Dia kepakkan sayapnya lagi untuk bisa melihat apa yang ada di bawah pulau. Dengan kecepatan terbangnya dengan mudah ia sudah sampai di bawah pulau. Di bawahnya adalah sebuah bebatuan cadas yang keras. Langit mencoba untuk menyentuh bebatuan itu dengan tangannya. Kekuatan yang dimiliki Alexis benar-benar luar biasa. Tak pernah ia sadari sebelumnya kalau ternyata ada orang yang memiliki kekuatan seperti itu di dunia ini.

Langit kemudian terbang lagi mengitari pulau tersebut. Dia mencoba melihat seluruh isi pulau. Ternyata pulau itu cukup besar, paling tidak luasnya seluas Kota Absolut. Kalau misalnya pulau itu sampai jatuh ke bumi, bakal terjadi bencana hebat pastinya. Di sekeliling pulau itu tak ada pembatas, hanya sebuah tebing. Siapapun yang tak bisa melihatnya akan jatuh terjun bebas ke bawah. Langit menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangannya kepada sebuah titik di tengah pulau. Ada sebuah bangunan besar yang tampaknya seperti sebuah istana. Apakah istana itu adalah bangunan yang diceritakan oleh Syaikh Mehmet? Istana milik Alexis?

Rasa penasaran pun akhirnya membuat Langit kembali terbang mendekat, tapi ia tak berani untuk langsung mendekat. Ia takut kalau-kalau Alexis ada di tempat itu. Akhirnya ia hanya mendarat di tempat yang tak terlalu jauh dari istana. Kedua kakinya mendarat di atas tanah dan kedua sayapnya mengatup. Saat ia berjalan mengendap-endap, tiba-tiba matanya secara tak sengaja melihat ke sesuatu benda. Sebuah batu pipih berukir sebuah nama. Di batu tersebut bertuliskan sebuah nama Claire Elizabeth Graham.

Langit menelan ludah. Itu makamnya! Dia pun kemudian mendekat ke makam itu. Batu nisan itu hanya bertuliskan nama saja tanpa tanggal. Jadi dia tidak tahu sudah berapa lama batu nisan itu dibuat. Namun dari lumut yang tumbuh di dekatnya bisa diketahui bahwa usianya pasti sudah lama, terlebih warna batunya lebih kusam.

Bocah ini tak tahu seandainya ia bisa berbicara dengan Claire apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. Berusaha mengubah Alexis kah? Atau membiarkan keadaan dunia kacau seperti sekarang ini? Namun dari penuturan cerita Syaikh Mehmet, Claire pasti tidak menginginkan Alexis seperti ini. Tapi tentu saja dia tidak mengerti bagaimana caranya agar Alexis bisa sadar, bisa berubah. Kehilangan orang-orang yang dicintai memang menyakitkan, Langit bisa menyadarinya sebab dia pernah berada di dalam kondisi itu.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang