23 | Di Udara

2.3K 142 3
                                        


"Tak ada yang tahu sejauh apa kamu bisa terbang. Kamu takkan tahu hingga kamu mengepakkan sayapmu dan tinggal landas."  

Langit melihat ke bawah, semuanya terlihat kecil. Pohon-pohon, rumah, semuanya terlihat kecil. Maggie tersenyum bahagia, ia sekarang merasakan bagaimana rasanya berada di udara. Robinson pun merasakan hal yang serupa. Langit sudah terlalu sering merasakan pengalaman terbang, namun merasakan bagaimana ia menjalankan pesawat maka baru kali ini terjadi dalam hidupnya. Dia menghela nafas.

"Kenapa Sky? Kau harusnya senang kita sudah bisa terbang sekarang," tanya Maggie.

"Iya, kalian memang patut senang. Tapi, aku tidak bisa setenang itu dan sesenang itu. Perjalanan kita masih jauh, entah halang rintangan apalagi yang ada di hadapan kita kelak," jawab Langit.

"Ya, ya, ya. Aku mengerti koq," ucap Robinson. "Kami akan mengikuti segala petunjukmu, Sky."

"Berapa lama perjalanan kita nanti?" tanya Maggie.

"Mungkin tujuh sampai delapan jam. Atau mungkin lebih. Kuharap bahan bakarnya cukup. Kalau pun tidak, kita akan mendarat dan melanjutkan dengan jalan kaki," ujar Langit.

Maggie mengernyitkan dahi, "Kau tak bercanda kan?"

"Tidak," jawab Langit.

"Yang benar saja, bagaimana aku bisa berjalan?!" protes Maggie.

"Maka dari itu, sebaiknya kita berharap bahan bakarnya cukup," kata Langit. "Mesin aviasinya sudah canggih, terlebih bahan bakarnya juga yang paling baik. Kita hanya berharap pada dua hal itu. Dan juga semoga aku tak lelah memegang kemudi."

"Oh, ayolah Sky!" gerutu Maggie.

"Maggie, kau seperti tidak mengerti sifat bocah itu. Dia tak bisa diajak bercanda!" gelak Robinson.

"Kurasa memang benar apa yang dikatakan Robinson, bahwa selera humormu itu sangat rendah Sky. Sekali-kali kamu berikan kami sesuatu guyonan yang bisa membikin perut kami kejang," ledek Maggie.

"Masalahnya, aku tak pernah tahu seperti apa guyonan yang bisa membuat perut kejang," ucap Langit.

"Aku bisa memahaminya koq," ucap Robinson.

Mereka masih berada di negara Jerman. Bahkan untuk bisa keluar dari Berlin butuh beberapa menit lagi. Perjalanan mereka akan jauh dan memakan waktu serta tenaga. Langit menoleh kiri dan kanan berjaga-jaga kalau-kalau ada yang mengikuti mereka.

Penerbangan ini akan membutuhkan waktu yang lama karena kecepatan pesawatnya juga tak seperti pesawat jet karena mereka menggunakan tenaga motor turbo fan. Lagipula siapa pula yang akan mengerjar mereka? Teknologi pesawat jarang dipakai atau bahkan sudah tidak dipakai lagi karena bahan bakarnya yang boros. Mungkin hanya negara-negara yang punya kekayaan lebih yang akan memakainya. Tapi negara manapula yang masih mampu untuk memakai pesawat? Langit dan teman-temannya sangat beruntung mendapatkan puing-puing pesawat ini.

Setelah meninggalkan udara Berlin, mereka kemudian mendapati sebuah daratan yang tak berpenghuni dengan tanah putih merata tertutupi salju. Sepertinya sama sekali tak ada tumbuhan sama sekali di tempat ini. Apakah ini pengaruh iklim global yang sudah berubah? Mereka sekarang seperti berada di atas nampan raksasa yang terhidang tepung yang sangat luas. Warna putih itu seakan-akan tak ada ujungnya.

Setelah beberapa jam kurang lebih mereka terbang Langit melihat ke bawah melihat sebuah daratan berwarna hijau. "Lihat! Zona hijau!"

Maggie dan Robinson melongok ke bawah. Mereka mendapati sebuah tempat yang terdapat rumput hijau dengan tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang terlihat dari atas. Ada yang aneh, bahwa sepertinya tempat ini tidak turun salju. Dari semua tumbuh-tumbuhan yang ada di bawah tidak terlihat salju turun di atas mereka.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang