28 | Imajinasi

2.1K 135 1
                                        


Kesembuhan Alexis merupakan anugerah. Edward dan Rachel kembali lagi tersenyum, mereka sangat bahagia dengan kesembuhan Alexis. Lambat laun mereka pun mulai melupakan bahwa Alexis pernah merasakan sakit. Hari demi hari berlalu dan Alexis tumbuh menjadi anak yang cerdas serta punya banyak teman. Satu hal yang dipelajari oleh Alexis, ia harus menahan diri dari berbicara. Karena sekali ia salah bicara maka akan fatal akibatnya. Dia melatih dirinya, menyembunyikan kekuatannya dari orang-orang di sekitarnya. Lagipula ia telah mendapatkan apapun yang diinginkannya. Keluarga, kekayaan, teman, apalagi yang dia butuhkan?

Tahun demi tahun berlalu Alexis pun tumbuh menjadi pemuda yang disegani. Bukan saja karena dia tampan, tetapi juga baik hati. Setiap orang mengenalnya sebagai seorang pemuda yang humble. Dia juga dermawan sebagaimana perilaku keluarga Maxvile pada umumnya. Keluarganya memang terkenal sangat dermawan yang mana menjadi donatur tetap panti asuhan serta beberapa lembaga sosial lainnya. Sedikit demi sedikit keluarga Maxvile mendapatkan kekayaannya lagi. Alexis pun masuk ke sekolah yang diinginkannya, melanjutkan lagi pendidikan seperti yang dia inginkan. Tapi itu saja tidak cukup, seolah-olah angin keberuntungan selalu menyertainya selalu bahkan ia pun punya teman-teman yang baik, yang selalu mengelilinginya seperti semut yang mengerubuti gula.

Ini tahun kedua Alexis masuk ke SMU. Sebenarnya Alexis sudah tak memerlukan kekuatannya itu lagi. Sebab apapun yang diucapkannya bakal menjadi kenyataan bukan? Ia hanya harus menahan diri untuk tidak mengucapkan hal-hal aneh, terlebih ketika ia sudah masuk ke SMU. Sejak kecil dia selalu serius dalam mengerjakan sesuatu agar ia tak mengucapkan apapun yang ingin ia ucapkan. Ingin marah kepada orang pun dia tahan. Ia tak mungkin juga menghina orang, bahkan kalau sampai ia menghina orang dengan sebutan yang jelek maka orang itu akan mendapatkan apa yang ia ucapkan. Tentunya dia tak mau menyebut seseorang dengan sebutan kepala besar, sebab hal itu akan menyebabkan orang itu kepalanya benar-benar besar. Atau mengatai seseorang seperti babi, maka orang itu akan menjadi babi. Kalau sampai itu terjadi maka akan terjadi kekacauan di mana-mana. Alexis hidup dengan cara yang berbeda selama ini. Dia mengingkari tentang fantasi, tentang khayalan. Sebab ia tahu khayalan apapun kalau dia yang mengucapkannya akan menjadi kenyataan. Bagaimana kalau tiba-tiba ia membaca cerita fantasi tentang naga, kemudian dia mengucapkannya pasti seluruh dunia akan melihat naga itu. Oleh sebab itulah, selama dia ingin mengucapkan sesuatu tentang khayalan, maka ia selalu mendahuluinya tentang penentangan. "Apa yang aku ucapkan ini tidak akan menjadi sungguhan" cukup dengan itu maka apapun yang ia ucapkan setelah itu tak akan terjadi apa-apa. Orang-orang bisa hidup tenang karenanya. Berkat itu Alexis menjadi orang yang sangat teliti dan sangat berhati-hati dalam bertindak maupun berucap. Namun apakah ia akan mampu bertahan? Saatnya langit memberikan ujian yang paling berat untuknya.

Pagi itu cuaca sedikit berkabut. Kemarin hujan turun cukup deras. Orang-orang mulai mengeluh tentang cuaca di London ini sebab prakiraan cuaca pagi cerah sore hujan adalah hal yang biasa di Inggris. Maka dari itulah kata-kata sedia payung sebelum hujan amat cocok diterapkan untuk orang-orang tinggal di negara ini. Air embun lembut dengan ukuran sepersepuluh milimeter tampak berterbangan terbawa angin. Dari semua orang yang ada di dunia ini mungki hanya Claire yang punya pemikiran yang unik.

Pikirannya selalu terbuka dan bebas, lepas seperti tak terbatas oleh dinding penghalang apapun. Baginya apapun yang ada di dunia ini bisa dia fantasikan dengan sekehendak hatinya. Seperti misalnya ketika ditanya darimanakah datangnya kabut? Claire mengkhayalkan bahwa kabut ini berasal dari nafas seekor naga yang tertidur di bawah bumi. Kabut itu sering dijumpai di pagi hari karena pada pagi hari nafas naga sedang mengalami pendinginan. Oleh karena itulah kabut yang menyejukkan itu ibaratnya seperti uap es yang dingin.

"Aku pergi dulu mom!" ucap Claire kepada ibunya yang saat itu masih sibuk di dapur.

"Kau tidak sarapan terlebih dulu?" tanya ibunya.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang