27 | Alexis

2.2K 150 7
                                        


Apabila ada orang yang merasa dunia ini kejam, mungkin hanya Alexis yang pantas mengatakannya. Dia adalah seorang pasien penderita kanker ganas yang sekarang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia telah divonis bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Obat-obatan dan kemoterapi hanya memperlambat kematiannya. Kedua orangtuanya sudah putus asa. Mereka awalnya orang yang mempunyai kekayaan yang banyak, hingga akhirnya harus merelakan kekayaannya satu per satu habis untuk biaya kesembuhan Alexis. Alexis sangat dicintai oleh kedua orangtuanya melebihi apapun di dunia ini. Kalau misalnya Alexis masih hidup sampai bertahun-tahun lagi, maka ia ingin bisa membalas kebaikan orangtuanya. Tapi keluarga Maxvile sudah menyerah dan kini Edward Maxvile sang ayah sudah tidak sanggup lagi melihat berbagai alat menancap di tubuh anaknya.

"Yang sabar ya," ucap Edward Maxvile sambil memijat pundak istrinya.

Di hadapan mereka tampak Alexis yang masih berusia belasan berbaring tak berdaya dengan mata terpejam. Sementara itu Rachel Maxvile tampak merana melihat keadaan putranya yang sekarang ini bernafas lembut.

Telepon berdering membuat Edward melihat layar ponselnya. "Aku harus mengangkat ini," ucapnya. Edward kemudian pergi meninggalkan kamar pasien.

Rachel menatap tubuh anaknya. Rasanya anaknya itu sudah tidak bisa tertolong lagi, tapi ia berharap sangat berharap bahwa anaknya bisa sembuh. Dia teringat bagaimana Alexis pertama kali lahir di dunia. Hal itu membuat seluruh keluarga sangat bahagia. Ketika tangan kecil itu menyentuh pipinya, ketika kaki kecil Alexis menendang lembut lengannya, kebahagiaan yang tiada tara. Sekarang Tuhan akan menjemput bocah lucu itu. Tatapan mata abu-abunya tak akan bisa dilihat lagi, kali ini bukan hanya sesaat tapi untuk selamanya. Bagaimanapun juga Rachel dan Edward tidak akan kuat menerima kenyataan itu.

Mata Alexis terbuka setengah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kedua orangtuanya. Setelah menemukan ibunya Alexis pun bangun dari tidurnya. Rachel melihat beberapa helai rambut tertinggal di bantal. Ia makin bersedih.

Alexis sepertinya mengetahui apa yang ibunya lihat. Ia segera menoleh ke arah bantalnya. Rambutnya rontok lagi. Dia mengambil rambut tersebut kemudian mengumpulkannya ke meja yang ada di sebelah kanan. Dia meraba rambutnya, segenggam rambut tiba-tiba ada di tangannya. Rambutnya mulai rontok.

"Apa sebaiknya aku cukur habis saja rambutku ya ma?" tanya Alexis.

Rachel tak mampu berkata apa-apa lagi. Bibirnya bergetar menahan tangis.

"Mama?" tanya Alexis lagi.

"Nanti papa yang akan mencukurnya," jawab Rachel.

Alexis tersenyum. Mencoba untuk bisa menghibur mamanya sekalipun itu sangat berat. Dia tahu hidupnya tinggal beberapa saat lagi. Dokter sudah menceritakan kepada kedua orangtuanya dan dia menguping. Ia tahu bahwa hampir setiap hari mamanya menangis, ayahnya pun sepertinya demikian, hanya saja sang ayah lebih bisa menyembunyikan kesedihannya. Alexis tak pernah menyangka penyakit itu tidak saja membuat dirinya bersedih tetapi juga orang-orang yang berada di sampingnya.

Rachel melihat Alexis melamun. Dia tahu bahwa Alexis sepertinya sedang memikirkan keadaan mereka. Rachel tahu bahwa Alexis ini termasuk anak yang perasa. Semua perangainya selalu mendahulukan orangtuanya daripada dirinya sendiri. Mungkin sedikit cerita akan menghibur bocah itu.

"Alexis, mama punya cerita. Mau dengar?" ujar Rachel.

Alexis menoleh ke mamanya. "Cerita apa ma?"

"Cerita tentang seekor ulat," jawab Rachel.

Alexis sepertinya tertarik. Ia belum pernah mendengar tentang cerita seperti itu sebelumnya. Bocah ini pun mengangguk.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang