16 | Akademi Sains

2.4K 186 9
                                        


Maaf untuk update yang lama karena banyak yang harus saya selesaikan di Real World. Tapi 3 postingan berikut semoga bisa memuaskan rasa penasaran tentang Petualangan Langit. Perjalanannya masih panjang. Dan bakalan lebih seru lagi. Selamat membaca.

========

Langit terbangun dari tidurnya. Dia baru saja terbangun dari mimpi panjang di mana ia berada di sebuah taman bersama dengan bibinya. Sejauh matanya memandang yang ada hanyalah taman bunga. Langit gembira waktu itu menyaksikan pemandangan indah yang tak pernah ia bayangkan selama hidupnya. Dia juga bisa merasakan sayapnya kembali. Langit mengajak bibinya untuk terbang menembus awan namun tiba-tiba saja sayapnya lenyap dan gambaran wajah Raphael muncul di benaknya. Dia pun terjatuh bersama bibinya ke bawah. Langit berteriak keras, saat itulah ia pun terbangun.

"Kau sudah sadar?" sapa seseorang. Betapa terkejutnya Langit. Ia tak pernah mendapati dirinya seperti ini sebelumnya. Berada di sebuah kamar dan kondisi tubuhnya sedang diperban. Dia bertanya-tanya bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.

"Tenanglah, kau sekarang aman. Kau tak apa-apa," kata orang itu. Orang yang berada di dekatnya adalah seorang pria mungkin berusia 40-an dengan jambang yang tidak dicukur. Rambutnya rapi, kemeja putihnya juga, di dada kirinya ada sebuah tanda pengenal dengan tulisan Dr. Ibrahim.

"Di mana aku?" tanya Langit.

Lelaki yang bernama Dr. Ibrahim itu mengangguk dan tersenyum. "Syukurlah kau baik-baik saja. Selama dua minggu kau koma."

"D-dua minggu?" Langit terbelalak tak percaya.

"Kau boleh percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi," jawab Dr. Ibrahim. Dia kemudian memeriksa denyut nadi Langit di pergelangan tangannya. Lelaki itu kemudian mengangguk-angguk puas. "Kau sudah baikan sekarang. Kuharap setelah ini kau bisa jalan-jalan untuk menggerakkan seluruh otot-ototmu."

"Tu-tunggu, teman-temanku di mana? Aku di mana?" tanya Langit.

Dr. Ibrahim memberi isyarat agar Langit tenang. Hanya saja, Langit tak bisa setenang itu. Ia panik sekarang karena memori terakhirnya adalah Raphael mencabik-cabik kedua sayapnya.

"Sky, tenanglah! Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Sky?" tanya Dr. Ibrahim.

Langit mendengak. Ditatapnya mata Dr. Ibrahim yang tampaknya teduh. Langit mulai merasakan kenyamanan ketika pundaknya disentuh oleh tangan dokter ini. Setidaknya dirinya agak tenang sekarang daripada pertama kali tadi dia terbangun. Dr. Ibrahim kemudian merogok saku jasnya. Ada selembar amplop surat di tangannya.

"Ini dari Lukman," ucap Dr. Ibrahim.

"Luk-Lukman? Di mana dia?" tanya Langit.

"Lukman adalah cucuku. Kedatangannya kembali ke tempat ini sangat membuat kami terkejut," jelas Dr. Ibrahim. "Sky, kamu sekarang berada jauh dari tempatmu yang dulu. Sangat jauh. Hampir separuh bumi engkau lewati. Semua berkat Lukman. Dia memohonku dengan sangat agar aku bisa menolongmu. Sekarang engkau sudah berada di sini. Paling tidak engkau sudah selamat setelah koma selama dua minggu. Kau kehilangan banyak darah, yah agak sulit menemukan darah yang sesuai dengan darahmu, tapi kami akhirnya berhasil menolongmu dari masa kritis."

"Tepatnya aku berada di mana?" tanya Langit.

"Bacalah surat itu, maka kau akan mengerti!" ucap Dr. Ibrahim sambil menepuk pundak Langit. Setelah itu ia pun beranjak pergi meninggalkan kamar tempat Langit beristirahat.

Langit hanya terbengong-bengong melihat keadaan. Dia menyadari bahwa sekarang ia sedang berada di sebuah bilik seperti bilik rumah sakit. Sprei tempat tidurnya berwarna putih dengan selimut tebal. Sebuah tabung infus tampak tergantung di samping tempat tidurnya. Dia kemudian membuka amplop surat setelah itu mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalamnya. Langit menyadari bahwa isi surat itu ditulis oleh Lukman. Langit mulai membacanya.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang