Detik-detik pemberian ultimatum akan berakhir. Semua orang sudah siap untuk menerima apapun hal yang terburuk yang akan terjadi. Kelima Seraphim tertinggi yaitu Erika, Zerka, Yorta, Leneth dan Gardha telah bersiap di salah satu tembok raksasa. Mereka bisa melihat sejauh mata memandang bagaimana kota-kota terlindungi oleh tembok raksasa yang dibangung oleh Turki. Zerka kemudian bersiap dengan membuat perisai pelindung yang tidak terlihat oleh siapapun. Kedua tangannya membuka kemudian seluruh jarinya menggenggam seperti menarik sesuatu.
"Perisai telah aku pasang. Mereka tak akan bisa masuk begitu saja," ucap Zerka.
Erika kemudian menggerakkan kedua tangannya, sepasang sayapnya pun ikut mengembang. Awan tiba-tiba datang bergulung-gulung. Dia benar-benar membuat gumpalan awan hitam pekat yang sepertinya sangat mengerikan. Kemampuannya mengendalikan cuaca benar-benar akan membuat siapapun ketakutan. Petir pun menyambar-nyambar di langit udara Turki. Baru kali ini dalam sejarah bisa terlihat dari seluruh penjuru negeri awan hitam yang menggumpal sangat pekat. Hari seolah-olah sudah sore, padahal matahari baru saja terbit beberapa waktu lalu.
"Aku tak akan biarkan mereka menyentuh putriku," ucap Erika. "Awan datanglah lebih banyak! Lebih banyak lagi!"
Guntur pun menggelegar. Tak hanya sekali tapi berkali-kali. Orang-orang mendongak melihat awan. Mereka tahu bahwa kalau Erika sudah benar-benar serius maka tiada satu pun orang yang bisa mengalahkannya. Kolonel Rendi sampai begidik melihat awan yang terlihat sedang murka.
Melihat langit sudah mulai berubah Presiden Hasan tahu bahwa sebentar lagi waktunya. Semua rakyat Turki sudah bersiap siaga untuk segala kemungkinan. Mereka tahu tak ada tempat untuk meloloskan diri. Kali ini kekuatan mereka untuk bisa bertahan hidup dipertaruhkan. Keluarga, harta dan masa depan mereka adalah taruhannya. Jantung mereka berdebar-debar. Sebagai negara yang mengasingkan diri dari peperangan, memang tak mudah bagi mereka untuk memulai sesuatu yang baru. Tapi yang mereka perjuangkan ini bukan semata-mata untuk membela diri tapi juga memperjuangkan kelangsungan hidup umat manusia di masa depan.
Tiba-tiba alat komunikasi berbunyi. Presiden Hasan terkejut melihatnya. Dia tahu bahwa ini komunikasi dari luar tembok raksasa, artinya dari Sekjen PBB. Kolonel Rendi mengangguk. Ia sudah siap terhadap semua kemungkinan yang terjadi.
Presiden Hasan kemudian menerima komunikasi itu. Presiden Hasan membuka sebentar tutup kepalanya sehingga wajahnya terlihat semua. Sebuah layar yang berada di hadapannya pun menyala menampilkan sosok Raja. Sekjen PBB itu tampaknya berwajah masam. Dia tahu bahwa kalau Presiden Hasan berkata tidak maka selamanya akan berkata tidak.
"Hasan? Bagaimana?" tanya Raja. Lelaki itu sepertinya tak suka berbasa-basi, sebab ia tahu bagaimana keras kepalanya Hasan El Fahri.
"Aku tetap kepada keputusanku. Aku akan tetap melindungi Langit dan Leila. Silakan kalau kau mau menggempur negeriku, maka jangan salahkan kami kalau kami melawan balik," ucap Presiden Hasan.
"Baiklah. Sebenarnya, aku tak ingin kita bertemu dengan cara seperti ini," ucap Presiden Hasan.
"Aku juga. Maka dari itu sudahi perang ini karena kau tahu aku tak menginginkan perang," kata Presiden Hasan.
"Tapi kau tak mau menyerahkan Langit," ucap Raja.
"Sebab dia adalah satu-satunya harapan terakhir umat manusia," jawab Presiden Hasan.
"Apa maksudmu harapan terakhir umat manusia?"
"Seorang Seraphim bernama Alexis sedang berusaha untuk memusnahkan seluruh umat manusia. Dia akan menyerang kita tanpa kita prediksi sebelumnya," jelas Presiden Hasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]
FantasiCerita untuk wattys2016. Langit tak pernah meminta dia dilahirkan dengan sepasang sayap di punggungnya. Namun sayapnya berbentuk aneh, sayap sebelah kanan seperti sayap seekor angsa, sayap sebelah kiri seperti sayap seekor kelelawar. Dia selalu me...
![Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/77738865-64-k134574.jpg)