15 | Pertempuran Tanpa Arti

2.5K 171 11
                                        

Kepakan sayap Langit dipercepat untuk mengejar Jundi. Sementara itu badai pasir makin buruk. Angin yang membawa debu pasir ini membuat pernafasan orang terganggu. Langit menutup hidung dan mulutnya dengan kain yang ada di bajunya. Ia lupa tak membawa kacamata pelindung sehingga mau tak mau ia harus menyipitkan matanya agar debu pasir tak masuk ke matanya. Ia sudah berusaha terbang dengan cepat namun rasanya sangat berat karena ia melawan angin. Langit terus berusaha untuk mengepakkan sayapnya melawan angin, berat sekali rasanya.

"JUNDIII!!" teriaknya. Tapi usahanya tak membuahkan hasil.

Jundi terbang menuju ke tempat laboratorium di mana kemarin Langit ditahan. Langit berusaha untuk menyusulnya dengan sekuat tenaga yang ia mampu.

"Tak bisa, tak bisa, aku tak bisa! Gyaaaahhhh!" pekik Langit. Akhirnya ia pun pasrah terkena angin. Angin badai pasir menghempaskan dia menjauh dari Jundi. Langit kemudian menghantam atap sebuah bangunan rumah penduduk hingga jebol. Bocah itu masuk dengan sukses ke dalam rumah penduduk. Dia mengerang karena kesakitan.

Bocah itu mengusap-usap kepalanya yang terbentur atap rumah tadi. Ia sekarang berada di dalam sebuah kamar. Tampak di hadapannya seorang penduduk yang ketakutan melihatnya. Langit menoleh kiri dan kanan. Di dalam kamar itu ada sebuah kacamata pelindung. Ia bisa menggunakan itu untuk melindungi matanya dari debu pasir yang berterbangan ini.

"Aku ambil ini ya!" ucap Langit sambil menyahut benda itu. "Maaf, aku mungkin tak bisa mengembalikannya." Dia tak mempedulikan orang itu mengijinkannya atau tidak. Dia buru-buru mengenakannya. Sekarang matanya bisa terlindungi, kemudian dia melompat dengan mengepakkan sayapnya. Satu kepakan ia sudah ada di atap rumah yang berlubang karena ulahnya.

Langit melihat ke arah Gauntletnya. Dia kan punya pengait di alat tersebut? Kenapa tak digunakan? Dia kemudian mengetok kepalanya sendiri. "Bego!"

Langit lalu membidik ke sebuah tiang listrik ia kemudian menembakkan pengaitnya. Sebuah jangkar kecil meluncur dengan menarik seutas kawat ke arah tiang listrik yang cukup tinggi itu. Jangkar kecil itu pun terkait di tiang listrik sehingga Langit bisa merasakan bahwa ia bisa memanfaatkannya untuk bergerak melawan angin. Dia kemudian menggulung kembali kawatnya, hal itu membuat daya tarik yang cukup kuat untuk melawan angin.

Setelah sampai di tiang listrik, Langit menembakkan lagi ke bangunan gedung yang agak jauh dari tempat dia sekarang. Ia lakukan lagi hal yang serupa. Satu per satu tempat ia lalui dengan cara seperti itu. Dia tak melihat di mana Jundi berada, tapi ia tahu kemana arahnya.

Jundi kemudian mendarat di halaman bangunan laboratorium. Dia bersama Angelica menengok kiri dan kanan. Tampak di depan mereka ada dua orang penjaga yang siap dengan senapan api mereka. Melihat kedatangan Jundi dan Angelica serta beberapa Seraphim lainnya, mereka pun menembakkan senjatanya.

Letusan senjata pun terdengar membuat Jundi dan Angelica segera menghindar. Dengan pasir yang cukup banyak Jundi membuat sebuah palu raksasa dari Langit. Dia memang Seraphim pengendali pasir yang sangat kuat. Dengan palu pasir raksasa itu dia menghantamkannya ke arah kedua orang penjaga itu hingga mereka terpental. Angelica pun segera berlari untuk masuk ke dalam laboratorium. Jundi pun mengikutinya dari belakang.

Mereka mendapati sebuah pintu yang tak bisa dibuka. Angelica tersenyum sambil memberi isyarat kepada Jundi dengan mengangkat Gauntlet yang ada di tangannya. "Mau mencoba buatan Langit?"

Jundi mengangguk, "Tentu saja"

Kedua Seraphim ini mengepalkan tinjunya. Gauntlet pun bekerja mengisi tenaga. Saat tenaga yang dibutuhkan terkumpul mereka menghantamkan tinjunya untuk menghantam pintu yang menghalangi. Daun pintu pun melayang karena efek kekuatan pukulan Gauntlet tersebut. Jundi dan Angelica seakan-akan tak percaya.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang