32 | Ultimatum

2.4K 162 9
                                        


Langit mendengarkan dengan seksama cerita dari Syaikh Mehmet. Dia sekarang sedikit demi sedikit mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini, juga yang terjadi dengan dirinya. Ternyata permasalahan yang dia hadapi tak sesederhana yang selama ini dipikirkannya. Kekuatan Truth dan Kekuatan Antithesis. Dua kekuatan yang sekarang ini akan menjadi penentu dari arah dunia ini mau kemana ternyata salah satunya ia yang membawanya. Dia masih tak mengerti bagaimana mengeluarkan kekuatan yang ada pada dirinya. Bagaimana ia bisa menang melawan Alexis kalau kekuatannya sendiri tidak ia ketahui.

"Kalau memang aku adalah pemilik kekuatan Antithesis lalu bagaimana cara aku mengendalikan kekuatan ini, aku sendiri bahkan tak tahu cara menggunakannya," ujar Langit.

"Sekarang kedua sayapmu sudah kembali, lambat laun kau akan mengerti bagaimana cara menggunakannya," kata Syaikh Mehmet.

Kolonel Rendi menepuk pundak Langit. "Sekarang, kau akan aman bersamaku. Aku akan melindungimu."

"Sekarang sebaiknya kau beristirahat," usul Leila.

Sekali lagi kedua mata Langit bertemu dengan Leila. Ada sebuah perasaan yang menyesal dan kecewa dari dalam diri Langit. Hal itu terlihat dari raut wajah Langit yang serasa tidak senang melihat Leila. Leila tak mengerti apa maksudnya.

"Seharusnya aku bertemu denganmu lebih dulu agar bisa menyembuhkan Maggie, seharusnya kau menyembuhkannya bukan aku," ujar Langit.

"Tapi aku tak bisa menyembuhkan mereka yang sudah mati," kata Leila.

Langit menghela nafas. "Rasanya perjalananku selama ini sia-sia belaka."

"Bro, kau tak perlu seperti itu," kata Robinson. "Aku juga kehilangan Maggie. Tapi, ini sudah menjadi takdir. Kau tak bisa berbuat apa-apa untuk itu."

Langit menghampiri Robinson. Pemuda itu pun kemudian langsung memeluk sahabatnya. Langit menangis di dalam pelukan Robinson. Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa termenung melihat kedukaan Langit. Tentunya kedukaan yang berbeda dengan yang dirasakan oleh Alexis. Kedukaan Langit lebih kepada menerima apa yang telah terjadi, sedangkan Alexis tidak pernah menerima apa yang sudah terjadi kepadanya. Mungkin karena Langit telah merasakan bagaimana kehidupannya yang pahit sejak kecil, sedangkan Alexis telah mendapatkan kehidupan yang dia inginkan.

Keesokan harinya Langit bersama Robinson mengubur jasad Maggie. Jasad tersebut dimasukkan ke dalam sebuah peti yang kemudian dikubur. Yang hadir di pemakaman itu Langit, Robinson, Kolonel Rendi, Leila, Jean dan Bobi. Leila masih merasa tak percaya bahwa dirinya merupakan orang yang penting di dalam perang ini. Seandainya ia tahu apa yang terjadi dari awal, mungkin ia tak akan protes terhadap apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya. Dan dia juga tak akan membahayakan nyawa orang-orang yang ada di dekatnya. Apalagi lawan mereka sekarang adalah seorang Seraphim terkuat yang pernah ada.

Wajah Langit datar seperti sebuah perisai yang ditempa. Sekalipun dia kehilangan Maggie, dia merasa masih punya harapan untuk tetap hidup. Maggie tak akan pernah dia lupakan. Kenangannya akan sahabatnya itu akan abadi selamanya. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah perang yang sudah menantinya di depan mata. Tanah yang mengubur Maggie pun akhirnya menutup liang lahat dengan sempurna. Tak akan ada lagi Maggie, tak akan ada lagi orang yang selalu mensupport Langit.

"Kau bernama Langit bukan?" tanya Jean. "Kenalkan, aku Jean." Dia mengulurkan tangannya kepada Langit.

Langit menoleh kepadanya kemudian menyambut tangan tersebut dan berjabat tangan. Kemudian Bobi maju lalu mengulurkan tangannya. "Aku Bobi." Langit menjabat tangannya kemudian.

Robinson mendekat kepada keduanya. "Aku Robinson."

"Jean," ucap Jean sambil menjabat tangan Robinson.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang