Rosa dan Risa membawa sekawanan Seraphim kembali ke komunitas Seraphim. Tentu saja mereka disambut dengan suka cita oleh yang lainnya. Manusia-manusia bersayap ini pun saling berpelukan satu sama lain bersyukur karena mereka telah bebas. Mereka bersuka cita karena kebebasan yang telah mereka impian selama berhari-hari pun akhirnya mereka dapatkan.
Jundi tampak berang. Ia tak pernah menyangka kalau Raphael menugaskan Langit sebuah tugas yang berbahaya. Begitu melihat Rosa dan Risa mendarat segera Jundi menerjang kedua saudara kembar itu. Jundi mencengkram kedua leher saudara kembar tersebut.
"Dimana Raphael?" tanya Jundi.
"Ehk!" Rosa dan Risa berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jundi.
"Hei! Lepaskan!" Risa memberontak.
"Kenapa kalian mau menerima tugas seperti ini dari Raphael?" tanya Jundi. "Kalian berdua tega memperalat seorang anak kecil untuk tujuan kalian? Bedebah kalian ini!"
Tangan Risa mengeluarkan api. Dia ingin membakar Jundi. "Lepaskan! Atau aku akan membakarmu!"
Jundi kemudian mendorong keduanya hingga terhempas cukup jauh. Tenaganya cukup besar. Pertengkaran itu pun kemudian dilihat oleh sekawanan Seraphim yang barusan bebas. Mereka tak tahu apa yang terjadi tapi tak ada satupun yang melerainya. Jundi mendengus kesal. Dia menghampiri Rosa dan Risa.
"Di mana Raphael?" bentak Jundi.
"Dia ada di bukit," jawab Bishop dari kejauhan.
Jundi menoleh ke arah orang berbadan besar yang ada tak jauh dari mereka. Bishop berjalan menghampiri Rosa dan Risa. Dia kemudian menghampiri kedua saudara kembar tersebut untuk menolongnya berdiri.
"Ingatlah! Kita semua saudara. Tak boleh saling menyakiti," ujar Bishop. Suaranya yang berat membuat semua orang bergetar dada mereka. Dari sini sudah terlihat bahwa Bishop sebenarnya mempunyai wibawa yang kuat. Jundi saja sampai tak bisa melawan apa yang dikatakan oleh Bishop.
Jundi tak meminta maaf kepada Rosa dan Risa, ia segera mengepakkan sayapnya untuk terbang menuju ke tempat Raphael berada. Dari kawanan orang-orang yang dibebaskan itu ada seorang wanita yang dibebaskan oleh Langit. Ia sepertinya tahu kenapa Jundi marah. Segera ia mengikuti kemana Jundi pergi. Bishop yang bisa membaca situasi pun akhirnya tak ketinggalan. Dia segera mengikuti Jundi pergi ke atas bukit tempat di mana Raphael berada.
Malam itu gelap tanpa bintang. Angin malam yang sekering angin gurun mulai membawa hawa dingin yang menusuk. Tiga orang Seraphim terbang mendekat ke sebuah tebing yang tinggi, letaknya tak jauh dari kampung Seraphim. Jundi buru-buru untuk pergi ke sana sekali pun tahu bahwa bukit itu tak akan mungkin lari jauh. Dia ingin segera bertemu dengan orang yang ada di atas tebing itu. Seseorang yang memimpin komunitas ini dengan sayap besinya.
Melihat Jundi datang, Raphael tak terkejut. Ia tahu bahwa ada konsekuensi dari semua tindakannya selama ini. Mata orang ini tak pernah lepas dari sosok Jundi yang perlahan-lahan akan mendarat di atas bukit. Raphael hanya berdiri sambil menaruh tangannya di atas dadanya. Ia merasa tak ada keputusannya yang salah. Semuanya sudah sesuai dengan rencana, semuanya sudah sesuai dengan apa yang direncanakannya matang-matang dan penuh perhitungan. Adapun kesalahan yaitu Langit tertangkap maka itu di luar urusannya.
Ia cukup kagum ketika Langit bisa melukainya dengan Gauntlet itu. Tak salah bagi seorang Raphael memanfaatkan kekuatan Langit dengan alat anehnya itu. Raphael juga bisa membaca bahwa bocah itu bisa terbang dengan cepat, itu bisa dilihatnya ketika ia mengejar bocah itu untuk pertama kalinya. Ditambah dengan gesitnya bocah itu sudah pasti bisa masuk dan terbang di lorong-lorong sempit. Peta yang didapatkannya dari menyerang manusia-manusia itu merupakan keberuntungan yang tak akan mungkin datang kedua kalinya. Raphael membaca dan mempelajari peta itu selama beberapa hari ini hingga akhirnya ia mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Pertanyaan yang cukup menggelikan adalah kalau seandainya Langit nanti tertangkap kenapa ia harus peduli dengan itu semua? Toh selama ini Langit tak pernah ingin mengikuti kelompok mereka. Bocah itu berbuat semaunya, hampir saja ia menendang bocah itu keluar kalau saja tak melihat kegunaan dari bocah itu. Raphael hanya menganggap Langit sebagai alat untuk memuluskan tujuannya, tak ada yang bisa diharapkan dari bocah itu melainkan hasil penemuan-penemuan ajaibnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]
FantasyCerita untuk wattys2016. Langit tak pernah meminta dia dilahirkan dengan sepasang sayap di punggungnya. Namun sayapnya berbentuk aneh, sayap sebelah kanan seperti sayap seekor angsa, sayap sebelah kiri seperti sayap seekor kelelawar. Dia selalu me...
![Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/77738865-64-k134574.jpg)