22 | Kita Berangkat

2.3K 147 4
                                        

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

 - 

Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Catatan dari penulis:

Saya perlu berpikir ulang sebelum memposting bab ini, karena bab ini dan kedepannya sudah memasuki inti cerita. Akan ada pertemuan, akan ada perpisahan, akan ada pengorbanan, akan ada darah yang tertumpah, akan ada kesedihan dan kejutan-kejutan lainnya. Tapi apa mau dikata saya tak mau berlama-lama menyimpan bab ini. 

Saya masih bersemangat sampai akhirnya nanti cerita ini tamat. Cerita ini sedikit banyak merupakan khayalan imajinasi saya, tentang cita-cita, persahabatan, petualangan, impian dan juga perjuangan tanpa kenal menyerah. Saya yakin masih banyak yang perlu dibenahi di cerita ini, tapi saya sudah berusaha memberikan yang terbaik. Saya berikan kutipan kata-kata dari Om Pram, sebagai penyemangat. Karena quote ini juga sangat pas dengan inti cerita ini. Tak usah banyak kata-kata, sekarang silakan membaca lanjutan cerita ini.


-o-


Langit menemui Maggie keesokan harinya. Melihat sahabatnya itu datang menemuinya membuat Maggie begitu bahagia. Terlihat senyuman yang selama ini dirindukan oleh Langit. Maggie telah sadar dan sekarang sedang ditemani oleh kedua orangtuanya. Nampak Dietrich tersenyum kepada Langit, hal itu membuat Langit merasa ada yang aneh dengannya. Irene kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia lalu mengusap pipi Langit sambil tersenyum. Langit keheranan dengan sikap mereka.

"Aku akan meninggalkan kalian," ucap Dietrich.

Langit tentu saja tak bertanya apa alasannya. Dia hanya keheranan dengan perubahan sikap Dietrich. Maggie tersenyum kepada sahabatnya sambil melambai-lambai, sepertinya tangannya sudah mulai bisa digerakkan. "Sky, sini!" ucap Maggie.

Langit berjalan mendekat ke arah Maggie, kemudian dia duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang. Maggie menepuk bagian kasur yang kosong agar Langit duduk di situ. Langit menggeleng.

"Nggak, aku di sini saja," ucap Langit.

"Tak apa, aku tak akan menggigitmu," kata Maggie.

Langit menghela nafas. Setelah itu ia pun duduk di dekat Maggie, lebih tepatnya di sebelahnya persis. Kemudian Maggie merapat ke Langit, ia menyandarkan kepalanya ke bahu bocah itu. Langit membiarkan Maggie melakukan hal tersebut. Sebenarnya hal ini terkesan biasa bagi seorang sahabat, tapi Langit tahu bagaimana perasaan Maggie kepadanya. Sebagaimana yang dulu pernah dikatakan Langit, perasaannya masih kosong.

"Terima kasih atas segalanya," ucap Maggie. "Aku tahu kalau kalian selalu menjagaku selama ini. Kalian masih tetap berharap kepadaku. Tapi sepertinya aku malah menyusahkan kalian."

"Kamu jangan bicara seperti itu!" tukas Langit. "Kita adalah sahabat. Tidak ada yang akan memisahkan kita dan wajar kalau seorang sahabat merasa khawatir."

"Kamu terlalu banyak bicara, sudahlah aku hanya ingin bilang terima kasih," kata Maggie.

Mereka kemudian terdiam. Suara yang terdengar setelah itu hanyalah bunyi deru angin yang ada di luar juga suara detik jam dinding yang terus bergerak. Nafas Langit dan Maggie sepertinya tercekat begitu saja. Mereka kini berada di dalam kesunyian. Dari dua orang ini hanya Maggie saja yang merasa nyaman, tidak dengan Langit. Akhirnya ia pun menyandarkan kepalanya.

Langit menatap jam dinding. Rasanya jam itu seperti menertawakan mereka. Pikiran Langit sekarang malah dihinggapi yang tidak-tidak. Berduaan dengan Maggie di kamar seperti ini biasanya akan timbul fitnah dan sesuatu yang tidak diinginkan. Masalahnya adalah Maggie jelas tidak akan mempermasalahkan itu karena memang itu maunya. Tapi bagi Langit, hal itu lain persoalan. Dia tak mau terlalu larut dalam urusan asmara. Apalagi ia masih berusia belasan tahun, belum punya pikiran ke sana.

Sayap-sayap Langit #wattys2016 [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang