***
Quick notes:
Cerita ini sebenernya sudah lama nongkrong di laptop, tapi banyak revisi yang mau dilakukan sendiri. Dengan padat merayapnya kerjaan dan tumpukan rasa malas jadinya belum sempat mempercantik (padahal mah ga ada efeknya) cerita ini.
Finally, here you go.
Hope you enjoy it.
Vomment needed.
-astrid-
***
Nayla menghempakanaskan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah dia melempar asal tasnya ke bangku yang ada di kamarnya. Rasa kesal masih menguasai hatinya.
Emangnya kenapa kalo gue main musik? Sebegitu pentingnyakah kenyataan itu buat kaum adam? Otak mereka pasti ga beres semua.
Nayla geram sendiri. Dia menarik bantal dan menutup kepalanya sendiri. Frustrasi terhadap rasa yang hinggap pada dirinya sekarang. Kejadian dengan teman Felix tadi mau tidak mau membuka luka lama Nayla. Mengingatkan dia pada sosok Mika yang lebih suka dengan kaum hawa yang pintar main musik. Perlu digarisbawahi bahwa Mika hanya tertarik dengan yang sudah pintar main musik, bukan pemula seperti dirinya. Jadi ketika Mika waktu itu tahu bahwa Nayla mendaftar kursus biola, dia tidak bereaksi spesial.
Nayla menarik napasnya beberapa kali sampai detak jantungnya kembali normal. Akhirnya dia duduk dan memeluk bantal yang tadi menutup kepalanya. Setelah cukup tenang, Nayla mengambil buku partitur dari tumpukan yang ada meja samping tempat tidurnya.
Matanya menatap kosong partitur yang akan dilatihnya. Mood-nya untuk bermain biola belum ada. Tapi bagaimanapun dia harus memaksakan dirinya untuk latihan karena besok pertama kalinya dia memulai lesnya lagi setelah sekian lama vakum. Dia tidak ingin menghabiskan waktu di tempat les hanya untuk belajar partitur yang sama berkali-kali.
Lalu mata Nayla beralih ke salah satu sudut di kamarnya. Ke tempat satu-satunya sumber semangat dia untuk belajar biola.
Gue akan buktiin klo gue juga bisa untuk main musik. Dan saat itu mungkin udah terlalu telat membuat lo sadar bahwa gue memang sayang banget sama lo, tapi hati gue udah terlampau sakit menanggung semuanya. Nayla menggeram dalam hati.
Nayla lalu mengambil biolanya, meletakkan benda itu di posisi siap bermain. Dia menghela napas lagi. Matanya menekuni partitur di depannya, sambil tangannya berkolaborasi menciptakan nada-nada indah.
Nayla melempar begitu saja kotak biola dan buku-buku lesnya ke bangku belakang mobilnya. Lalu dia sendiri naik ke mobilnya untuk segera pergi ke kampus. Tiga puluh menit perjalanan, Nayla mengisi waktunya dengan mendengarkan alunan musik klasik. Dia berusaha sekeras mungkin untuk membangun mood-nya supaya dia bisa berkonsentrasi di kelas biola pertamanya nanti.
Seusai kelas pertama, Sisqa sudah menunggunya di dekat lift.
"Hari ini lo mulai les ya, Nay?" kata Sisqa.
"Yup," kata Nayla. Sisqa mengamati Nayla dengan pandangan menilai.
"Kok biola sama buku-bukunya lo ga bawa?" kata Sisqa.
"Ada di mobil lah. Males bawa-bawa ke kelas," kata Nayla. "Ntar yang ada, pada norak minta gue mainin di kelas. Malu ah."
"Lo niat banget sih sampe lanjut les lagi segala? Trus kalo emang masih suka, kenapa dulu berhenti?" kata Sisqa.
"Gue ga suka sama biola. Lo sendiri tau kan kenapa gue pilih belajar biola. Dulu terpaksa berhenti karena baru masuk kuliah, gue mau adaptasi dulu. Sekarang kan udah bisa atur waktu. Jadi gue bisa atur waktu untuk latihan," kata Nayla. "Progress gw juga jadi lebih cepet." Sisqa mengangguk-angguk menanggapi jawaban Nayla.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Teen FictionHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
