Part 10 - Semester Break (1)

561 94 18
                                        

Mobil Felix sudah siap menunggu di depan rumah Nayla. Sisqa juga ikut di dalamnya.

"Ma, Nay pergi dulu ya!" pamit Nayla.

"Iya, kamu hati-hati ya!" kata Mama Nayla.

"Sip!" kata Nayla.

"Felix, titip anak Tante ya!" kata mama Nayla.

"Tenang, Tante! Kita udah siapin orang yang tepat buat jagain Nay di sana," kata Felix sambil tersenyum. Nayla menangkap maksud Felix.

"Siapa? Baby sitter?" cibir Nay ketus. Felix hanya terkekeh tanpa menjawabnya.

"Kita berangkat dulu, ya, Tante!" pamit Sisqa.

Setelah dari rumah Nayla, Felix ke rumah Dimas dan menjemput Dimas, Kristi – pacar Dimas – dan Andre yang sudah menunggu di rumah Dimas.

"Ah, lo lama banget sih! Si Ari udah setengah jalan tuh ke Puncak," keluh Dimas pada Felix.

"Ye...jangan ngambek dulu. Kenalin dong pacar lo," kata Sisqa sambil menunjuk cewek yang sedang menggandeng Dimas sambil tersenyum malu-malu.

"Ini Kristi," kata Dimas. Kristi mengulurkan tangannya kepada Nayla dan Sisqa.

"Nayla"

"Sisqa"

"Lo tau dari mana Ari udah setengah jalan? Palingan juga dia masih mimpi," kata Felix. "Dia kan paling anti bangun pagi."

"Yah...lo kayak ga tau Ari aja. Mupeng banget kalo udah jalan sama Sandra," kata Dimas. "Cabut ah!"

"Ayo!" kata Andre.

"Lo ga pamit dulu sama orang rumah lo?" kata Felix.

"Udah," kata Dimas. "Tadi pagi, waktu mereka mau berangkat kerja."

"Oh, ya udah, yuk!" kata Felix.

Perjalanan panjang yang mereka tempuh cukup menyenangkan. Lagu-lagu yang mengalun dalam mobil Felix membuat mereka bernyanyi kecil sepanjang jalan.

Sesampainya di vila milik Ari, Felix berdecak kagum melihat Ari sudah asyik mojok di gazebo yang ada di depan villa itu.

"Nah, apa gue bilang tadi! Bener kan dia mupeng kalo ujungnya berduaan doang," kata Dimas. Ari bangun menyambut kedatangan mereka.

"Lama banget lo!" kata Ari pada Felix.

"Biasalah, banyak bawaan," kata Felix sambil menunjuk personil yang ikut di mobilnya.

"Oh iya, kenalin dulu, Sandra," kata Ari sambil menunjuk cewek yang ada di sampingnya. Para cewek bergantian menyalaminya.

"San, lama ga ketemu sama lo. Diumpetin Ari ya?" kata Andre menyapa Sandra yang memang sudah lama tidak bertemu. Ari, Sandra, dan Andre sudah saling kenal sejak SMP.

"Ga ke mana-mana kok. Kayaknya lo yang sering menghilang," kata Sandra. "Ngajar biola lagi kan?" Andre menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menangkap bayangan Nayla dengan ekor matanya.

"Cuma gantiin aja kok," kata Andre. "Ga pernah permanen."

"Oh gitu!" kata Sandra. "Itu cewek lo ya?" Sandra menunjuk Nayla. Nayla cuma menggeleng pelan pada Sandra. "Oh sorry!"

"Ga apa-apa kok," kata Nayla, tersenyum.

Ari cepat-cepat merangkul Sandra dan mengajaknya masuk.

"Bentar lagi juga jadian. Nay jutek sama Andre," kata Ari. "Sementara Andre cinta mati sama Nay." Sandra terkekeh.

Setelah menurunkan bawaan masing-masing, Ari mengantar mereka masuk ke dalam villanya. Villa itu cukup luas dengan empat kamar tidur yang cukup besar. Di sudut ruang tamu ada piano yang bermodel kuno.

"Itu dulu piano gue. Waktu udah ganti yang grand di rumah, yang lama dibawa ke sini. Sayang kalo dijual. Ikatan batin gue udah kuat banget sama tuh piano," kata Ari sambil menunjuk piano itu.

"Asyik, berarti nanti malem ada live music by Ari dong?" kata Sisqa. Ari memang sering perform di café-café lokal.

"Gue juga bawa gitar. Tuh!" Dimas tidak mau kalah dengan menunjuk tas gitarnya yang masih tergeletak di lantai.

Sore pertama itu mereka habiskan dengan bersantai di rumah sambil berlomba-lomba mendapatkan tempat yang nyaman.

"Eh, kita main tebak lagu yuk!" celetuk Andre. Dimas berdecak.

"Hidup lo tuh ya, Dre, ga bisa ya jauh dikit dari musik?" kata Dimas.

"Boleh juga tuh," kata Ari sambil memandang piano lamanya dengan pandangan damba. "Gue yang main piano deh. Sayang juga kalo piano itu nganggur."

"Ya udah, bagi dua kelompok," kata Felix. "Dim, loe bawa gitar khan? Alat musik kita gitar, mereka piano."

"Oke. Berarti kelompok gue, itu Felix, Sisqa, gue, dan Kristi," kata Dimas. Nay nampak keberatan. Dimas menyadari itu. "Ga apa-apa kan Nay?" Nayla tampak berpikir sebentar.

"Ya udahlah. Ga masalah. Toh cuma games," kata Nayla.

Kekuatan kelompok Ari adalah mereka banyak referensi lagu-lagu klasik. Sementara kelompok Dimas kuat mengaransemen lagu-lagu pop sehingga sulit dikenali.

"Nay, lo ga mau main piano?" tanya Andre. Ari menoleh pada Nayla.

"Mau, Nay?" kata Ari menawarkan tempatnya.

"Hm... lo apa-apaan sih, Dre?" kata Nayla, pelan tapi ketus.

"Gue cuma nawarin lo main piano kok," sahut Andre ringan. "Lo kan guru pianonya sepupu gue, pasti banyak referensi lagu yang pastinya ga mudah ditebak sama kelompok mereka."

"Eh, sorry, gue juga main klasik," kata Sisqa. "Cuma ga sejago Nay. Tapi referensi bagus juga. Ayo dong, Nay, udah lama gue juga ga denger lo main." Nayla makin sebal dengan kata-kata Sisqa.

"Ayo, Nay!" desak Ari.

"Hm..." Nay memandang ragu piano dan Ari bergantian. "Ga apa-apa nih gue mainin?" Ari tertawa pelan.

"Ga apa-apalah. Loe bisa kan maininnya?" kata Ari. Nayla mengangguk pelan. Ari tersenyum. "Klo gue kasih Andre atau Felix main mungkin itu salah langkah."

Nayla mendekati piano itu, lalu dia duduk di depan piano itu, menggantikan Ari yang sudah berdiri di samping Sandra sambil memeluk pinggang pacarnya itu. Sudah lama Nayla tidak memainkan komposisi klasik dengan pinao, biasanya dia banyak memainkan lagu-lagu pop atau beberapa potong music sheet baru untuk latihan biolanya hanya untuk sekedar tahu bagaimana melodinya. Nayla menghela napas pelan, lalu tangannya mulai menari indah di atas tuts piano, memperdengarkan sebuah melodi yang melintas di kepalanya.

Felix melongo menyaksikan apa yang baru saja dia lihat.

Shit! Si Andre ga bohong. Nay beneran jago main musik. Dengan kemampuan Mika pun, gue yakin dia ga bakalan kalah. Wah...gue harus tanya sama Nay, memastikan kalau dia beneran ga pacaran sama Mika, supaya Andre ga buang-buang waktu ngedeketin dia. Mika sih udah pasti ga bakalan ngelewatin skill musik yang dimiliki Nay.

***

Hola, I'm back.

I hope you guys enjoy the story. Maafin kalo ada typo bertebaran di mana-mana. Namanya juga manusia biasa.

Again, this is just another copy paste from the original file. Ceritanya masih panjaaaaang kok. Jadi saya berharap kalian ga bosen-bosen ya mampir dan tetap dukung saya (kok jadi kayak kampanye ya...)

Semoga suka.

-astrid-

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang