Tidak ada kegiatan berarti yang mereka lakukan di hari itu. Semuanya leyeh-leyeh di villa, berusaha untuk sabar menanti BBQ party nanti malam. Sore harinya, mereka memutuskan untuk jalan-jalan lagi di sekitar villa sebelum belanja keperluan BB Q. Mereka mengistirahatkan diri di lapangan rumput hijau sambil tidur-tiduran di sana. Sementara itu, Nayla memilih untuk duduk di batang pohon yang cukup rendah dan berteduh di bawahnya sambil menikmati bayang-bayang pegunungan yang ada di depannya dan mendengarkan lagu dari iPod-nya.
"Nay, Andre mana?" tanya Sisqa sambil celingukan. Tumben tuh anak ga gangguin Nay, batin Sisqa. "Kita udah mau balik nih." Nay menggeleng pelan sambil mengangkat bahu, terlalu malas untuk menjawab.
"Duh, dia ke mana sih?" kata Sisqa.
"Biarin aja sih, Sis. Kayak ga bisa pulang sendiri aja," sergah Nayla sebal.
"Halo, Nay? Ini kan di Puncak," kata Sisqa.
"Ga apa-apa, Sis. Kita duluan aja. Andre udah beberapa kali kok ke sini. Dia pasti tau jalan ke vilanya Ari. Atau jangan-jangan dia udah nunggu kita di sana," celetuk Felix.
"Ya udahlah!" kata Sisqa akhirnya. "Yuk!" Dia menarik tangan Nayla.
"Si Andre ga tau ada di mana. Mungkin dia udah ke vila duluan kali," lapor Felix kepada teman-temannya yang lain.
"Ga heran," kata Dimas. "Jadi? Kita langsung jalan?"
"Yup!" kata Ari. "Kita kan mau barbekyu-an malem ini."
Mereka berjalan bersama menuju ke vila Ari.
"Sis, lo mau jalan duluan sama Felix, ga apa-apa kok," kata Nayla. Dia merasa kasihan pada Sisqa yang sedari tadi bersikeras berjalan bersamanya dan mengabaikan Felix yang berjalan terlebih dahulu di depan mereka. "Gue bisa di belakang ikutin kalian." Sisqa merasa tidak enak hati.
"Enggak apa-apa kok, Nay," kata Sisqa.
"Beneran, Sis, ga apa-apa," kata Nayla.
"Hm...serius nih?" kata Sisqa.
"Iya, kapan lagi?" kata Nayla.
"Thanks ya, Nay!" kata Sisqa. Lalu dia menghampiri Felix yang berada tidak jauh di depan mereka dan langsung menggandeng lengan cowok itu.
Nayla sengaja berjalan agak jauh di belakang mereka sambil meniti pinggiran trotoar. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang dari belakang. Nay hampir terjatuh. Tapi orang itu sudah dengan sigap memegang sisi tubuhnya, mencegah Nayla untuk tidak jatuh. Tetapi salah satu kaki Nay terkilir karena sedikit terpeleset dan menapak dengan tidak sempurna.
Sambil menahan sakitnya, Nayla berbalik untuk mencari tahu siapa orang itu.
"Andre?" kata Nayla.
"Kaget ya?" kata Andre cengengesan.
"Becandaan lo itu ga lucu, tau!" pekik Nayla. Spontan keenam temannya yang berada di depan menoleh.
"Sorry, abisnya gue kasihan liat lo jalan sendirian sambil cemberut," kata Andre.
"Bukan urusan lo," kata Nayla.
"Nay, lo kenapa?" tanya Sisqa mendekat, agak sedikit kaget melihat Nayla dalam pelukan Andre.
"Ini nih, si Andre. Ngagetin! Kaki gue jadi sakit gara-gara kepeleset," kata Nayla. "Lepas!" Nay berseru kepada Andre yang masih saja menahan tubuhnya.
Spontan Andre melepaskan pegangannya. Nayla oleng seketika.
"Eh, Nay!" kata Sisqa sambil memegangi Nayla.
"Sakit!" kata Nayla.
"Duduk dulu!" kata Sisqa.
"Lo apa-apaan sih? Cari masalah aja," kata Felix berbisik pada Andre.
"Gue kan ga tau klo jadinya bakalan begini," kata Andre sama pelannya.
"Lo bisa jalan ga?" tanya Sisqa.
"Ga tau," kata Nayla.
"Eh, kalo keseleo jangan langsung jalan dulu," kata Andre.
"Iya! Gara-gara lo!" kata Nayla sengit.
"Digendong aja deh," kata Felix. "Udah kesorean nih, kita kan masih mau belanja buat barbekyu. Kalo Nay jalan pasti lama. Kasian dia juga."
"Ya udah. Kamu tolong dong," kata Sisqa.
"Aku?" kata Felix. "Enggak ah. Masa gendong cewek lain di depan kamu sih? Ga mau. Sorry, Nay, bukannya gue ga mau nolong tapi..."
"Iya, gue ngerti," kata Nay.
"Siapa ya? Dimas? Ari?" kata Sisqa.
"Idem sama Felix," kata Ari dan Dimas nyaris bersamaan.
"Uh...terus gimana dong?" kata Sisqa. Dia tidak berani meminta Andre, karena walaupun Sisqa yakin Andre pasti mau, tetapi Nayla pasti yang akan menolak habis-habisan.
"Andre aja. Tanggung jawablah, kan dia yang bikin Nay kayak gini," kata Ari.
"Ga mau!" kata Nayla. "Gue bisa kok jalan sendiri." Nayla mencoba berdiri. Walaupun kakinya terasa senut-senut tetapi dia mencoba untuk tidak merasakannya. "Tuh kan bisa. Yuk!"
Nayla berjalan pelan ditemani Sisqa dan Felix di sebelahnya. Sementara Andre berjalan sedikit di belakang Nayla.
"Duh...auh..."
"Nay, lo yakin?" kata Sisqa. "Daripada lo maksain diri, nanti bengkak dan makin parah, lebih baik..." Sisqa mengarahkan ekor matanya kepada Andre.
"Menurut lo begitu?" kata Nay. Walaupun dengan sedikit keberatan, tetapi kakinya begitu sakit dipaksa jalan. Sisqa mengangguk dengan pasti.
"Dre!" panggil Sisqa. "Bantuin Nay dong!" Andre dengan sigap memegang lengan Nayla, bersiap membantu menopang Nayla jalan. Sisqa menepis tangan Andre.
"Lo ngapain? Digendong, kali," kata Sisqa.
"APA?" kata Andre seakan tidak mempercayai pendengarannya.
"Iya, Dre! Kasihan Nay kalo jalan terus," kata Sisqa.
"Iya, iya," kata Andre salah tingkah.
Akhirnya, dengan amat sangat berat hati, Nayla merelakan dirinya untuk berada di atas punggung Andre selama beberapa saat.
"Sorry, ya, Nay!" kata Andre. "Gue ga bermaksud begini."
"Ga usah ngajak ngomong. Lo anter aja sampe di vilanya Ari," kata Nayla.
Andre menuruti kata-kata Nayla kali ini, karena dia merasa sangat bersalah dengan kejadian ini.
"Udah, udah, di sini aja!" kata Nayla ketika sampai di teras vila Ari. "Gue bisa masuk sendiri."
"Oke," kata Andre. Dia menurunkan Nayla dengan bantuan Dimas dan Kristi. Lalu Andre duduk di sebelah Nayla, merasa kecapaian.
"Kita masuk dulu ya! Mau siap-siap buat pergi belanja," kata Dimas sambil menggandeng tangan Kristi masuk.
"Hm, gue ga ikutan belanja deh. Cape banget. Ternyata Nay berat juga," kata Andre sambil mengatur napasnya. Dimas hanya tersenyum lalu menyusul yang lain ke dalam vila.
"Semuanya kan salah lo juga," kata Nayla kesal. Dia memijit-mijit kakinya sendiri sambil sesekali meringis kesakitan.
"Jangan asal pijit. Ntar malah salah, tambah parah loh," kata Andre. "Biar gue aja nanti. Gue bisa kok."
"Ga mau. Ga sudi gue lo pegang-pegang," kata Nayla. Andre tertawa pelan.
"Setengah badan lo itu udah pernah ada di atas gue kan? Lama, lagi. Sekarang gue cuma pegang kaki lo aja, lo keberatan?" kata Andre. Wajah Nay memerah. Andre mengangkat bahu. "Ya terserah lo sih." Dia kembali mengatur napasnya yang masih sedikit terengah-engah.
Dasar kampret nih cowok! maki Nayla dalam hati sambil melirik kesal cowok yang sedang duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
JugendliteraturHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
