Part 8 - Semester Break's Plan

569 96 22
                                        

Minggu itu begitu cepat berlalu, minggu menjelang ujian akhir kampus. Nayla dan Sisqa sibuk menyiapkan ujian akhir dan ditambah ujian biola untuk Nayla. Felix, Dimas, Ari, dan Andre harus berkutat dengan partitur yang harus mereka mainkan dan mendengarkan lagu-lagu sebagai referensi. Ditambah pertemuan rutin yang dilakukan Andre dengan Reza untuk belajar lebih jauh mengenai komposisi lagu. Mella masih harus mengejar ketinggalannya.

Wajar saja dengan dua minggu dengan tekanan yang sangat tinggi, mereka dengan senang hati merencanakan liburan ketika hari terakhir sudah menyambut mereka.

Hari libur pertama, Nay sudah hang out bersama Sisqa di salah satu café langganan mereka.

"Nay, Felix ngajak jalan tuh," kata Sisqa setelah dia menyesap jus stroberinya.

"Ke mana?" kata Nayla.

"Puncak," kata Sisqa. "Nginep bareng-bareng gitu deh. Abis katanya dia bosen nginep di apartemennya Andre terus."

"Andre tinggal di apartemen?" tanya Nayla. Out of topic banget ya pertanyaan gue, Nayla menyadari kesalahannya. Tetapi sepertinya Sisqa tida menyadari hal itu.

"Iya, ortunya kan tinggal di Aussie sama keluarga kakaknya," kata Sisqa. "Makanya dia sering banget ngajak Dimas, Ari, sama Felix buat nginep di sana." Nayla mengangguk-angguk saja. "Lo mau ikut ga ke Puncak?" Sisqa kembali ke topik awal mereka.

"Loe ikut?" kata Nayla balik bertanya.

"Pastinya kalo lo ikut, gue ikut. Klo lo ga ikut, agak males juga sih. Soalnya katanya Dimas dan Ari pada mau ngajak ceweknya masing-masing," kata Sisqa. "Gue ga kenal mereka."

"Lah sama aja klo gue ikut, lo ayik berduaan sama Felix," kata Nayla.

"Kan ada Andre," kata Sisqa. "Seenggaknya dia pasti mau nemenin lo."

"Iya...buat bikin perang dunia," kata Nayla. Sisqa terkeheh-keheh.

"Ayo donk, Nay! Mau ya? Please..." kata Sisqa. "Kapan lagi jalan-jalan bareng?"

"Duh, lo ga ngerti sih. Gue tuh males berurusan sama Andre," kata Nayla.

"Andre kan baik. Toh dia juga ga bakalan macem-macem sama lo. Loe kan galak sama dia," kata Sisqa.

"Sial lo!" rutuk Nayla.

"Lagian gw ga bakalan ninggalin loe juga. Mau ya?" bujuk Sisqa lagi.

"Hm...ya udah deh. Gue butuh liburan anyway, kepala gue rasanya udah berasap sisa ujian kemarin," putus Nayla. Gue tinggal jaga jarak aja sama Andre di Puncak nanti. Itu pun kalau dia mau ikutan juga. Ge-er banget sih gue kalo dia bakalan ikut.

Sementara itu, di studio kecil di apartemen Andre, Felix juga sedang membujuk Andre untuk pergi.

"Ngapain sih gue ikutan? Itu kan ajang kalian pacaran," kata Andre. "Ga ah, gue di rumah aja."

"Hm...kalo Sisqa berhasil ngajak Nay, gimana? Lo ikut?" kata Felix melemparkan senjata terakhirnya.

"Ah, dia juga pasti males ikut," kata Andre.

"Sok tau," kata Felix. "Yah, terserah lo sih. Gue cuma bantuin buka jalan buat lo. Tapi kalo lo ga mau itu sih urusan lo."

"Ya udah deh. Kalo dia ikut, gue ikut," kata Andre. Kan gue ga bakalan sia-siain kesempatan deket-deket Nay, walaupun cuma kebagian marah-marahnya doang. Tapi eh, terakhir gw ketemu dia, dia ga marah-marah deh, malah bilang terima kasih sama gue. Jangan-jangan dia udah mulai luluh. Asyik. Andre jadi senyum-senyum sendiri. Felix hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Andre. Menurutnya, Sisqa pasti berhasil mengajak Nayla ikut.

***

Dikit dulu ya, next part-nya kurang cocok kalau dijadiin satu di sini.

Masih ditunggu kritik dan sarannya.

Makasih

-astrid-

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang