Part 18 - For the Past

615 88 42
                                        

Hola...

Jadi saya lanjut dengan tanpa copas lagi cari file aslinya. Yup sekali melenceng, selamat mikir lagi alur barunya. Pada prinsipnya, ide ceritanya tetap sama. Hanya saja dipercepat dan diperindah? (anyway kalian kan ga tau betapa ancur cerita aslinya, hehe).

Maaf ya kalo kesannya buru-buru di cerita kali ini, karena saya sebenernya udah kepengen banget fokus buat mulai nulis cerita baru lagi yang teasernya udah ada tuh di sebelah (judulnya: Rest Area; kategorinya: chicklit; mungkin saya peruntukan usia 18++, ga bakalan terlalu vulgar kok)

Ah, malah jadi promosi cerita baru. Kita sama-sama fokus cerita ini dulu ya. Tetiba inget juga ngutang bonchap-nya When in Bali, kebetulan minggu depan dinas ke Bali, siapa tau ilham ngikut ke sana, tapi bayar sendiri dia. Hehe...

Anyway, please enjoy the story.

***

Sisqa menatap Nayla dengan tidak sabar. Kakinya tidak bisa diam dan lantas mengitari kamarnya sendiri untuk ke sekian kalinya. Sisqa sudah cukup kaget ketika Nayla tiba-tiba meneleponnya dan berkata dia akan ke rumahnya dan menginap. Ya, memang mereka sedang liburan. Tetapi biasanya Nayla lebih betah sembunyi di balik selimutnya sambil mendengarkan musik dan membaca novel. Kelakuan Nayla sangat aneh. Dan sekarang setelah setengah jam di dalam kamarnya, sahabatnya itu hanya duduk di tepi tempat tidur dan membolak-balik majalah, sambil sesekali berkomentar tentang isi majalah itu.

Sisqa merebut majalah itu dari tangan Nayla. Nayla mendongakkan kepala dan menatap Sisqa dengan pandangan protes sekaligus kecewa.

"Nay, sebenernya lo itu kenapa sih? Ga punya duit buat beli majalah sendiri?" tanya Sisqa dengan geram. "Sampe lo bela-belain ke rumah gue dan mau nginep segala."

"Bosen gue di rumah, Sis," jawab Nayla sekenanya. Jawaban itu terdengar aneh di telinga Sisqa. Matanya langsung mengamati Nayla dengan seksama.

"Di rumah lo lagi ga ada kumpul keluarga kan?" tanya Sisqa. Nayla menggeleng pelan.

"Ya, terus lo kenapa sih?" tanya Sisqa untuk kesekian kalinya.

"Gue...gue...hm Sis? Gue boleh ga bahas orang itu untuk terakhir kalinya?" Sisqa mengerutkan kening mendengarkan permintaan Nayla. Orang yang dimaksudkan Nayla pastinya Mika. Mereka memang sepakat untuk tidak menyebut namanya lagi karena itu membuat Nayla sedih dan hatinya sakit. Sisqa menghela napas.

Kenapa Nay suka banget menyakiti dirinya sendiri dengan kenangannya bersama Mika? Gue ga mau lihat dia nangis lagi karena Mika. Please, Nay, lo cuma butuh lebih rajin latihan musik aja supaya lo siap menghadapi Mika, ketika cowok itu kembali.

"Kasih gue alasan kenapa gue harus denger tentang dia lagi setelah sekian lama, setelah lo bersumpah untuk bikin dia menyesal," tegas Sisqa. Nayla menatap nanar Sisqa.

"Please, Sis. Gue akan kasih tau alasannya, tapi nanti setelah gue bahas dia," kata Nayla. "Gue janji ini yang terakhir."

"Lo aneh, Nay. Lo bilang lo udah ga menyimpan perasaan lagi sama orang itu. Kenapa sekarang lo malah mau bahas dia?" tanya Sisqa. "Atau jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?" tanya Nayla.

"Dia menghubungi lo? Lewat FB? Atau LINE? Kayak AADC gitu?" cerocos Sisqa tidak masuk akal. Nayla akhirnya tersenyum mendengar kalimat yang barusan diucapkan oleh Sisqa.

"Sumpah! Lo kebanyakan nonton drama," kata Nayla sambil menoyor pelan kepala Sisqa. Sisqa hanya meringis jengkel.

"AADC bukan drama, Nay. Tapi film bioskop," kata Sisqa.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang