Part 12 - Morning, Sunshine

522 85 15
                                        

Keesokan harinya, Nay terbangun karena cahaya yang masuk melalui jendela. Dia membuka selimutnya dan duduk. Dia lau tersadar bahwa dia tidak berada di kamar tidur, melainkan di atas sofa tempatnya menonton semalam. Nay melirik selimutnya.

"Pasti ini kerjaan Andre!" geram Nayla tertahan.

"Eh, Nay, lo udah bangun?" sapa Felix yang sedang duduk di meja makan menikmati sarapannya.

"Iya," jawab Nayla dengan nada ketus.

"Ya elah...pagi-pagi udah jutek," kata Felix.

"Kamarnya Andre yang mana?" tanya Nayla.

"Tuh," kata Felix. Dia menunjuk satu kamar yang letaknya dekat dengan kamar mandi. Mata Nayla mengikuti arah telunjuk Felix dan menatapnya dengan geram. "Andre masih tidur, Nay. Lo mau ngapain emangnya?"

"Ada perlu. Thanks ya!" kata Nayla. Dia berjalan ke arah kamar Andre.

Nayla mengetuk dengan keras pintu kamar Andre. Tidak ada jawaban dari dalam. Dengan nekad, Nayla membuka pintu kamar itu dan melihat Andre masih dalam posisi tidur meringkuk di dalam selimut.

Innocent banget, sumpah! rutuk Nayla pada sosok lelap Andre. Dia pun mendekat ke arah tempat tidur.

"Bangun lo sekarang!" kata Nayla sambil menyibakkan selimut Andre. Andre menggeliat, jelas merasa terganggu dengan hal yang dilakukan oleh Nayla.

"Lix, gue masih ngantuk. Ngapain sih?" kata Andre. Dia membalikkan tubuh dan membuka matanya; bersiap mengomeli orang yang dikiranya Felix itu.

Nayla menatap mata Andre yang baru terbuka itu. Kekagetan yang amat sangat berhasil ditangkap oleh Nayla.

"Bangun lo sekarang!" kata Nayla mengulangi ucapannya.

"N-nay?" Andre tergagap. Dia langsung mengambil posisi duduk di atas tempat tidurnya. Menatap Nayla dengan bingung. Nayla makin gemas melihat tingkahnya.

"Denger ya! Gue ga suka lo ngurusin urusan gue," kata Nay.

"Urusan lo?" kata Andre, sama sekali tidak bisa menangkap ke mana arah pembicaraan Nayla, bahkan dia sama sekali tidak tahu-menahu alasan Nayla membangunkannya sambil marah-marah.

"Berapa kali sih gue bilang ga usah ngurusin urusan gue?" kata Nayla. "Dan berapa kali juga lo selalu ngurusin urusan gue? Lo itu ga punya kerjaan lain ya?" Andre cuma bisa melongo dengan bodoh di depan Nayla.

"Nay, lo lagi ngomongin apa sih?" tanya Andre polos.

"Ya ngomongin lo lah," kata Nayla, nadanya semakin tinggi. "Siapa lagi?"

Andre tidak bersuara, bingung dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Dia hanya mengerjap-ngerjapkan mata, menunggu Nayla menjelaskan lebih spesifik. Nayla berdecak gemas.

"Semalem gue ketiduran di sofa," kata Nayla. "Pagi ini, gue bangun, ada selimut dan TV mati. Yang pasti bukan gue khan yang ngelakuinnya sendiri?"

Lah nanya sama gue? batin Andre. "Ya...ga tau," gumam Andre. Dia jadi semakin bingung.

"Ah, jangan pake bohong deh lo!" bentak Nayla. "Siapa lagi sih yang sok perhatian nyelimutin orang dan matiin TV; kalo bukan lo?"

"Enggak, Nay! Bukan gue. Sumpah! " kata Andre sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk 'peace'. "Bahkan, dari semalem gue ga bakalan bangun kalo bukan lo yang bangunin gue sekarang. Beneran." Nayla tidak terima penjelasan Andre.

"Rese lo ya!" kata Nay. "Dasar nyebelin! Lo yakin ga punya penyakit jalan sambil tidur yang sukanya ngurusin urusan orang?"

"Nay, sebenernya kenapa sih? Gue ga tau apa-apa," kata Andre. "Semalem gue cape banget. Udah gitu, penyakit jalan sambil tidur? Ga mungkin. Aneh."

Sementara itu, Felix yang sedang menunggui Sisqa yang baru bangun dan sedang membuat sarapan mulai mendengar sedikit keributan yang berasal dari kamar Andre.

"Itu siapa sih yang ada di kamar kamu?" tanya Sisqa.

"Nay," jawab Felix singkat. Mata Sisqa membulat.

"Ngapain?" tanya Sisqa terperanjat.

"Tau tuh, katanya ada urusan," kata Felix sambil mengangkat bahu.

"Urusan apa? Pagi-pagi gini?" kata Sisqa. "Aku mau lihat ah!"

"Ikut!" kata Felix yang sebenarnya juga penasaran dengan apa yang terjadi, hanya saja dia tidak berani untuk menginterupsi Nayla karena takut kena marah.

"Sorry guys! Interupsi sebentar ya? Klo boleh tau, ada apa ya?" kata Sisqa yang tanpa permisi masuk kamar Andre.

"Ga tau. Gue dibangunin sama Nayla, trus dia ngomel-ngomel gitu. Gue ga ngerti. Sama sekali ga ngerti," kata Andre sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Ah, lo pura-pura ga tau aja," kata Nayla. "Lo kan yang nyelimutin gue semalem?"

"Bukan," kata Andre.

"Hm...Nay, itu...gw, Nay," kata Sisqa pelan.

"What?" pekik Nayla tertahan. Dia langsung menoleh pada Sisqa dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan tidak percaya. Wajahnya memerah.

"Semalem, gue mau ambil minum, gue lihat lo ketiduran di depan TV. Karena gue ga mungkin ngangkat lo ke kamar, jadi ya gue selimutin aja biar lo ga kedinginan," jelas Sisqa.

Andre bernapas lega. Lalu dia menguap lebar.

"Udah jelas kan sekarang?" kata Andre kepada Nayla. Nayla hanya diam tidak menjawab; terlalu gengsi untuk meminta maaf.

Andre kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Sementara ketiga temannya tidak ada tanda-tanda untuk beranjak dari tempat mereka.

"Guys? Boleh gw balik tidur sejam atau dua jam lagi?" kata Andre. Felix yang tadinya hanyut dalam keadaan yang aneh itu kembali tersadar.

"Oh iya, sorry!" kata Felix. Dia keluar seraya menarik tangan Sisqa; sementara Nayla masih shock.

"Nay?" panggil Sisqa.

"Ya?" kata Nay sambil menoleh pada Sisqa.

"Andre mau tidur lagi, sebaiknya lo keluar," kata Sisqa. Nayla sudah sadar sepenuhnya dan kembali kepada kejutekannya.

"Iya, gue tau kok," kata Nayla.

"Atau lo mau tidur sama gue, gue ga keberatan kok," kata Andre sambil tersenyum mengantuk.

"Amit-amit!" seru Nayla spontan.

"Tolong tutup pintunya ya!" kata Andre.

Nayla tidak menjawab. Tetapi dia menutup pintu kamar Andre dengan sedikit bantingan yang membuat Andre yang berada di dalam menggeleng-gelengkan kepala.

"Lo kenapa ga bilang klo lo yang ngasih gue selimut?" kata Nay pelan pada Sisqa sambil terduduk lemas.

"Gw kan baru bangun," kata Sisqa. "Lagian pikiran lo cepet banget kalo mikir itu Andre?"

"Abisnya dia yang sering ngurusin yang ga penting," kata Nay.

"Lo sebenernya sedikit berharap juga ya?" kata Felix sambil senyum-senyum, tidak tahan untuk tidak menggoda Nayla.

"Ga sudi," semprot Nay.

***

Makin ga jelas ya ini ceritanya. Maaf ya. 

Tapi saya tetap maksa minta di vomment (dasar ga tau diri :v)

-astrid-

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang