Andre yakin dia melihat mata Nayla basah ketika dia melihat cewek itu berjalan tertatih-tatih di depannya. Nayla tentu saja tidak menyadari keberadaan Andre. Dia masih dipenuhi dengan kata-kata Felix padanya.
"Nay?" Andre menangkup tubuh Nayla yang hamper menabraknya dengan kedua tangan.
Nayla mendongak melihat siapa yang baru saja menghentikan usahanya menghilang dari ruang tamu. Matanya bertemu dengan pandangan Andre. Dilihatnya rambut Andre masih basah dan wangi sabun sangat kuat berasal dari tubuhnya. Handuk masih tersampir di pundak cowok itu.
Shit! Kenapa si Andre kelar mandi di waktu yang ga tepat begini sih?
Sadar bahwa airmata masih membasahi pelupuk matanya, Nayla segera menghapusnya dengan kasar.
"Lo kenapa?" tanya Andre.
"Bukan urusan lo," jawab Nayla. Suaranya bergetar. Lalu tanpa bisa ditahan, airmata meleleh di pipinya. Nayla menghapusnya lagi. Andre panik. Dia celingukan mencari bantuan. Tetapi tidak ada satupun temannya yang ada di dalam vila.
"Tapi lo nangis. Kenapa?" Andre tidak tega melihat wajah Nayla yang bersemu merah dan bekas airmata memenuhi pipinya. Nayla tidak menjawab. Hatinya masih penuh emosi, penuh dengan kenangannya bersama Mika. Tanpa sadar kedua tangannya memegang kedua lengan Andre yang menopang dirinya. Nayla menundukkan kepalanya, berusaha menetralkan perasannya.
"Nayla..." panggil Andre lembut dan dengan nada membujuk.
Ah, cuma Mika yang manggil gue kayak gitu. Damn, Mika lagi. Mika lagi.
Tiba-tiba Nayla sudah terisak-isak.
"Sakit..." keluh Nayla di sela-sela isakannya.
"Apa? Sakit?" ulang Andre. Dia bisa merasakan cengkraman jemari Nayla semakin kencang di lengannya. Andre meringis pelan.
"Sakit..."
"Yuk, kita duduk dulu." Andre langsung menuntun Nayla untuk masuk ke kamar di mana Nayla dan Sisqa tidur. Kebetulan kamar itu yang terdekat dari tempat mereka. Nayla masih terisak-isak. Tanpa membantah dia mengikuti Andre. Nayla masih terisak pelan ketika Andre berjongkok di depannya dan berusaha untuk melihat wajahnya. Beberapa saat kemudian, isakan itu sudah berhenti. Malu juga Nayla menangis di depan Andre.
Andre ragu-ragu menyentuh tangan Nayla yang kini sedang saling ditautkan di pangkuan cewek itu. Sentuhan Andre pada tangannya membuat Nayla mengangkat kepalanya dan menatap Andre.
"Sakit," ulang Nayla. Andre menatap Nayla kasihan.
"Gue pijitin ya?" tanya Andre.
"Hah?" Nayla melongo bingung. Jelas definisi sakit yang dirasakannya berbeda dari apa yang Andre pikirkan saat ini. Nayla mengerjapkan matanya. Andre membalasnya dengan senyum. Tangan Andre menyentuh kaki kanan Nayla yang agak bengkak dan membiru.
"Ini bakalan sakit." Andre memberitahu Nayla. "Tapi please, gue jangan ditendang ya. Lo nangis lagi juga boleh kok." Nayla mengangguk pasrah.
Yang Andre tau kan emang kaki gue yang sakit. Ga mungkin kan maksudnya Andre adalah sakit hati gue yang mau dipijit. Ya kali, sakit hati malah dipijit, Nayla bermonolog dalam hatinya.
Begitu mendapat anggukan setuju dari Nayla, Andre menekan pelan kaki kanan Nayla.
"Argh!" pekik Nayla tertahan. Andre langsung melepaskan tekanan jari jemarinya. Nayla menghela napas lega. Dia lalu menelan ludah. Matanya kini kembali berkaca-kaca karena menahan rasa sakit.
"Tahan dulu." Andre menasehatinya.
Tahan, tahan...enak banget kalo ngomong. Lo kan ga tau sakitnya kayak apa. Nayla masih sempat-sempatnya mengumpat dalam hati.
"Ambilin bantal itu," perintah Nayla tiba-tiba ketika Andre sudah ingin menekan kakinya lagi. Mata Andre mengikuti telunjuk Nayla yang mengarah pada sebuah bantal kecil yang ada di sofa. Andre bangun, mengambil bantal itu, dan memberikannya pada Nayla walaupun dia tidak tau mengapa Nayla membutuhkan benda itu.
Nayla membekap mulutnya sendiri, meredam rintihan sakit karena Andre memijat-mijat kakinya. Susah payah dia memerintahkan otaknya untuk fokus pada rasa sakit yang ada di kakinya bukan rasa sakit hati yang baru saja dibuka kembali oleh Felix.
Dasar Felix brengsek! Ngapain dia tiba-tiba bahas Mika? Ngerusak suasana aja. Pake suruh-suruh gue janji buka hati buat Andre segala. Emangnya gue bodoh, ga bisa ngerasain modusnya mereka nyeret-nyeret gue ke ajang pacaran mereka? Liburan kali ini udah salah satu cara dia supaya gue bisa luangin waktu lebih banyak sama Andre karena faktor kepepet ditinggal pacaran.
Nayla melihat ke arah Andre yang masih telaten memijat kakinya.
Ini juga satu. Cari masalah aja sama gue. Ga bisa apa pake cara yang lebih manusiawi buat deketin gue? Niatnya iseng malah bikin gue keseleo. Huh...bercandanya ga dipikir dulu!
Lalu mata mereka bertemu di udara. Tiba-tiba Nayla merasa reaksi aneh terjadi dalam dadanya. Jantungnya berdegup lebih kencang karena menyadari ada sedikit rasa khawatir dan lumuran rasa sayang dalam tatapan Andre padanya.
Andre beneran suka sama gue?
"Coba gerakin kaki lo, Nay!" pinta Andre.
"Hah?" Nayla melongo bodoh. Otaknya masih belum bisa mencerna dengan baik kata-kata Andre barusan, dia lebih fokus ke mata Andre yang ternyata berwarna cokelat muda, sama seperti mata Mika.
Serius nih, gue jadi inget Mika lagi?
"Gerakin. Ini." Andre mengulang perintahnya dan kali ini menambahkan tepukan pelan kaki Nayla yang keseleo itu.
"Damn!" Nayla memekik kesakitan, walaupun dia sadar sudah tidak sesakit sebelumnya. "Biasa aja dong lo nyuruhnya!"
"Habis lo cuma bengong doang," elak Andre. Nayla menggerak-gerakkan kakinya searah jarum jam. Masih sakit, tetapi jauh lebih nyaman.
"Better, thanks!" kata Nayla. Andre membalasnya dengan senyum. Dia lalu bangun dan duduk di samping Nayla.
"Gue bener-bener minta maaf ya, Nay. Gue ga bermaksud apa-apa kok. Harusnya gue lebih hati-hati lagi," ucap Andre sungguh-sungguh. Nayla melirik Andre yang sedang menunduk. Terlihat jelas kalau cowok itu sangat menyesal.
"Mau berapa kali lo minta maaf?" tanya Nayla dengan nada menyindir.
"Ya, sampe lo maafin gue lah," jawab Andre.
"Minta maaf berapa kalipun, kaki gue tetap aja sakit gara-gara lo," balas Nayla. Andre mengangguk-angguk.
"Kadang gue suka bingung kenapa gue betah ya deket-deket sama lo yang amit-amit juteknya?" Nayla langsung menoleh pada Andre. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Nayla bisa merasakan rasa kesalnya kepada Andre mulai muncul lagi.
"Eh, dari awal kan gue udah bilang sama lo, kalo lo ga usah deket-deket sama gue. Kalo ga suka, ya udah jauh-jauh sana!" Nayla misuh-misuh sendiri. Andre tiba-tiba mengerang pelan di sampingnya.
"Argh! Itu dia masalahnya, Nay! Gue suka sama lo."
Andre malah bikin pengakuan cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Teen FictionHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
