Hola, saya kembali lagi *kibas-kibas pom-pom*
Sebelumnya saya mau berterima kasih untuk readers yang sudah membuat cerita ini 1k views. Wih, senengnya sampe ubun-ubun loh.
Nah buat yang sudah menunggu (ada ga ya? *wink*) kelanjutan cerita ini, silahkan dinikmati ya seperti saya menikmati proses pembuatannya dengan berganti-ganti nongkrong di coffee shop seharian demi kalian, hohoho.
Part ini adalah flashback ketika Andre mengantar Nayla pulang dari apartemennya sepulangnya mereka dari Puncak. Masih inget kan?
Please enjoy, comment, and votes. Okay?
-astrid-
***
Andre menekan tombol lift lalu kembali ke sisi Nayla untuk menunggu lift itu membawa mereka ke lantai lobby gedung apartemen Andre. Dia lalu merapatkan jaket berwarna biru yang dikenakannya. Penyejuk ruangan yang ada di lorong apartemennya memang dingin. Nayla langsung menatapnya dengan pandangan mencela begitu melihat gerakan Andre.
"Gue bisa turun sendiri ke lobby, Dre." Sudah kedua kalinya Nayla mengulang kalimat yang sama. "Ga usah dianter." Andre tersenyum menanggapi kata-kata Nayla.
"Ga apa-apa, Nay. Anggap aja gue membalas kebaikan lo yang merelakan diri nemenin gue yang lagi sakit," kata Andre.
"Tapi lo itu harusnya istirahat di bawah selimut yang hangat, bukannya kedinginan kayak gitu," kata Nayla. Matanya menatap angka di layar lift. Lift-nya lelet banget sih, batin Nayla.
"Oh, ini sih selalu begitu. Gue lagi sehat juga emang rasanya dingin AC-nya," kata Andre menjelaskan. Nayla memutar bola matanya, tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Andre.
Ting...
Pintu lift terbuka. Andre menahan pintu lift dan mempersilahkan Nayla memasuki lift itu.
"After you, Nay!" ucap Andre dengan gayanya yang gentleman. Nayla membalasnya dengan senyuman lalu masuk ke dalam lift tersebut.
Apartemen Andre berada di lantai 10 dan kecepatan lift itu memang perlu dipertanyakan karena Nayla mulai merasa sudah berabad-abad berada di dalam lift bersama dengan Andre dan keheningan yang meliputi mereka.
Ting...
Pintu lift akhirnya terbuka lagi dan lobby apartemen terlihat di depan mereka. Lagi-lagi Andre mempersilahkan Nayla keluar lift duluan.
"Adik lo nunggu di mana?" tanya Andre pada Nayla yang sedang mengecek ponselnya.
"Hm...katanya udah di lobby sih. Mana ya?" Nayla mengedarkan pandangannya ke seluruh lobby, tetapi hasilnya nihil.
"Duduk sana aja," kata Andre sambil menunjuk beberapa sofa yang ada di lounge lobby apartemennya. Mereka berjalan beriringan ke sana. Mata Nayla masih mencari-cari sosok Rio, adiknya.
"Lo balik aja ke kamar, Dre," kata Nayla.
"Ga ada kalimat yang kesannya ga ngusir gue gitu? Dari tadi loh, Nay, lo cuma bilang begitu terus." Andre berkata dengan sebal, tetapi dia tetap melengkungkan senyumnya. Ekor matanya melirik Nayla. Yang ditegur hanya cengengesan tidak jelas sambil masih mencari-cari sosok adiknya.
"Hm...Nay?" panggil Andre.
"Apa?" Nayla masih sibuk celingak-celinguk sambil sesekali mengecek ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Novela JuvenilHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
