Sore itu, sesuai dengan janji bahwa Nayla akan ke apartemennya, Andre memutuskan untuk menjemput Nayla dari kampus. Andre menunggu Nayla sambil mendengarkan lagu dari handphone-nya. Kepalanya bergerak mengikuti alunan lagu yang didengarnya. Kakinya menghentakkan irama yang sama. Bibirnya sesekali bergerak mengikuti lirik lagu. Hatinya begitu gembira karena hari ini adalah hari terakhir Nayla ujian dan mereka akan punya beberapa hari sebelum hasil ujian di-publish di web kampus mereka. Hati Andre semakin berbunga-bunga karena malam ini, Nayla sudah berjanji akan memasakkan makan malam untuk mereka. Lumayanlah, bisa sayang-sayangan di apartemen.
"Dre!"
Suara yang ditunggu-tunggu Andre sampai di telinganya. Andre langsung mencopot earphone-nya. Matanya langsung menuju ke gadis yang selama ini membuatnya bahagia.
"Hei!" balas Andre sambil berdiri.
"Hai, Dre!" sapa Sisqa sambil tersenyum . Andre membalas senyum itu. "Mau langsung cabut ya?"
"Iya, mau belanja dulu, nih," kata Andre. "Ada yang janji mau bikinin dinner." Ekor matanya melirik Nayla. Nayla membalas pandangan itu dengan wajah protes.
"Lho bukannya kamu yang belanja, tadi?" tanya Nayla. Andre tampak salah tingkah dan menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Wait! Aku-kamu?" celetuk Sisqa. Lalu dia tersenyum lebar dan tertawa-tawa tidak jelas. Dia menepuk-nepuk pundak Nayla. "Hubungan kalian akhirnya ada kemajuan juga, Gue percaya sama lo, Nay, percaya!"
Andre melempar pandangan aneh pada Sisqa, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh gadis itu. Lain dengan Nayla yang membalas ucapan Sisqa dengan sebuah anggukan malu-malu.
"Kalo gitu, gue duluan ya! Have fun, Nay!" kata Sisqa. Dia lalu tersenyum jenaka sambil mengedipkan matanya. "Jangan lupa saran gue ya, Nay." Andre semakin penasaran.
"Udah-udah sana!" usir Nayla tidak sopan. Sisqa melambai pada mereka lalu dengan cepat dia berlari menuruni tangga.
Andre menghadapkan tubuhnya pada Nayla dan menatap Nayla dengan rasa ingin tahu.
"Kalian ngomongin apa sih? Percaya apa maksudnya? Terus emang dia kasih saran apa?" cecar Andre. Nayla menatap kesal pada Andre. Tangannya terjulur untuk menjawil pucuk hidung Andre.
"Don't be nosy, Mister. None of your business. It's a girl-talk," jawab Nayla. Andre hanya mengangguk-angguk gusar.
"Ya, ya, ya. Kalo kamu udah ngomong gitu, aku bisa apa?" kata Andre. Nayla memutar bola matanya menanggapi Andre. Andre tersenyum dan merangkul Nayla. "Jalan sekarang yuk."
"Tadi kenapa nggak belanja dulu?" kata Nayla mengulang pertanyaan yang belum dijawab.
"Nggak seru belanja sendiri. Maunya ditemenin kamu," jawab Andre dengan nada manja. Nayla mencubit pelan pinggang Andre.
"Modus! Kamu 'kan udah biasa belanja sendiri," sanggah Nayla. "Alasan aja minta ditemenin."
Andre mengacak-acak rambut Nayla.
"Aku mah manjanya sama pacar sendiri, bukan sama pacar orang lain," ujar Andre. Nayla membalasnya dengan senyum, walaupun dalam hatinya dia merasa Andre menyindir seseorang. Yup, nama Mika muncul lagi dalam kepala Nayla.
***
Andre bersikap biasa saja sepanjang waktu. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia penasaran setengah mati dengan apa yang sedang terjadi pada Nayla sampai gadis itu menangis kemarin. Yang Andre bisa lakukan hanyalah membuat Nayla terus tersenyum di sampingnya sambil berharap apapun yang membuat Nayla menangis bisa terobati dengan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Teen FictionHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
