Part 31 - A Photograph

476 59 54
                                        

Halo, saya balik lagi, akhirnya. Klik bintangnya dulu ya sebelum baca jauh ya. Takut lupa hehe.

Maaf ya, lama banget! Semedinya jauh soalnya wkwkwk.  

Semoga kalian suka ya. Misalpun enggak, yang penting saya sudah merampungkan part ini.

Tolong dimaafkan typo dan ketidaklogisannya. Ga pake diedit dulu soalnya ini.

Happy reading, all! 

-Astrid-

***

Andre membuka pintu apartemennya yang sedari tadi diketuk dengan liar. Nyaris memaki yang mengetuk pintu, tetapi bibirnya menutup ketika tahu siapa yang ada di depan apartemennya. Nayla berdiri di sana dengan posisi tangan ingin mengetuk lagi. Rambutnya sedikit lepek karena keringat. Wajahnya pun terlihat lelah. Napasnya tersenggal-senggal.

"Kamu kenapa di sini? Ke sini sama siapa? Bukannya tadi bilang, Mika mau anterin kamu? Mikanya mana?"  Bertubi-tubi Andre bertanya pada Nayla. Nayla hanya menjawabnya dengan mengangkat tangannya, meminta Andre untuk tidak bertanya lagi. Dia mendorong Andre supaya memberi jalan padanya masuk ke dalam apartemen Andre.

Andre mempersilakan Nayla masuk ke dalam apartemennya. Gadis itu langsung menuju dapur Andre mengambil minum sendiri. Andre menutup pintu apartemennya dan duduk di sofa sambil menunggu Nayla menghampirinya.

Andre melirik jam dinding. Jam setengah tujuh malam. Belum terlalu malam tetapi langit pasti sudah gelap. Andre bergidik ngeri membayangkan Nayla entah dari mana berjalan kaki sendirian. Ke mana Mika? Bukankah harusnya dia sedang bersama Nayla saat ini?

Nayla menjatuhkan dirinya di sebelah Andre. Dia memejamkan matanya dan masih berusaha mengatur napasnya. Andre masih menunggu dalam diam sambil mengamati Nayla. Entah berapa lama lagi dia harus menunggu Nayla membuka mulutnya.

Andre mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Nayla dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di wajahnya.

"Kamu sebelumnya udah kenal Mika?" tanya Nayla. Andre terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia menjauhkan tangannya dari kepala Nayla, menciptakan jarak yang jelas di antara mereka. Dia sama sekali tidak punya maksud menyembunyikan fakta itu dari Nayla. Tidak ada gunanya juga apabila Nayla tahu bahwa dia mengenal Mika.

"Jawab aku, Dre!" Nayla menoleh pada Andre dan melihat wajah Andre pias. Dalam hati, Nayla sudah tahu jawaban Andre tanpa harus dijawab oleh Andre. "Kamu kenal sama Mika 'kan?" Ada nada gemas bercampur rasa kecewa di dalam suaranya. Dia tidak habis pikir mengapa Andre tidak jujur saja. Apa ini berarti semua kata-katanya Mika benar? Bahwa Andre selama ini hanya menganggapnya sesuatu yang bisa dimenangkan olehnya dari Mika, seperti kompetisi musik itu?

"Penting buat kamu kalo aku memang kenal sama Mika?" tanya Andre dengan suara bergetar.

"Oke, jadi kamu memang kenal sama Mika," kata Nayla mengambil kesimpulan dari pertanyaan  Andre barusan. "Kamu tahu siapa Mika 'kan? Kamu paham 'kan perasaan aku ke Mika seperti apa? Penting buat aku kalo kamu kenal sama Mika." Nayla menarik napas panjang dan dalam untuk meredakan emosi yang menggunung di dalam hatinya. Andre masih diam menunggu kelanjutan kata-kata Nayla.

"Apalagi karena kamu, Mika nolak aku. Buat apa, Andre? Kamu pikir aku barang yang bisa sembarangan kamu rebut dari orang lain?" Nayla merasakan matanya menghangat. Bendungan air matanya sudah berkumpul di sana, siap ditumpahkan kapan pun dia penuh.

"What? Maksud kamu apa?" 

"Kata Mika, karena kamu menang di kompetisi musik, kamu minta dia untuk memberikan aku ke kamu," kata Nayla. "Itu sebabnya dia nolak aku waktu aku bilang suka sama dia. Karena kamu, Andre, aku jadi benci sama Mika. Karena kamu, Andre, Mika terpaksa menahan perasaannya ke aku."

Tiba-tiba Andre tertawa keras seolah-olah dia baru saja mendengarkan hal paling lucu.

"Mika itu, Nay, nggak pernah punya perasaan sama kamu," kata Andre. "Aku yang suka sama kamu sejak SMA. Aku yang berusaha mati-matian latihan demi ikut kompetisi itu dan menang. Aku mau menunjukkan sama Mika, si brengsek itu, bahwa di atas langit masih ada langit. Bukan dia yang paling hebat sejagat raya. Orang yang cuma bakat tapi sombong akan kalah sama orang yang tulus dan mau bekerja keras. Aku memenangkan kompetisi itu karena usahaku sendiri. Dan kamu sendiri tahu, kita bersama sekarang juga karena kerja keras aku meluluhkan kamu. Walaupun aku kenal, walaupun aku menang dari Mika, nggak sedikitpun aku pakai alasan itu untuk mendekati kamu. Tanpa adanya Mika, aku akan tetap jatuh cinta dan mengejar kamu."

Nayla mulai terisak-isak. Dia bingung. Di satu sisi, dia yakin kalau tidak ada Andre hadir saat kompetisi sialan itu, dia bisa bersama Mika. Di sisi lain, Nayla sadar perasaannya pada Andre sudah tumbuh lebih besar melebihi apa yang dia rasakan pada Mika.

"Tapi, kalau kamu nggak minta Mika buat ngasih aku ke kamu, mungkin kita nggak pernah bersama karena Mika akan membalas perasaan aku." Entah mengapa malah kalimat itu yang keluar dari bibir Nayla. 

Di balik matanya yang bercucuran air mata, Nayla bisa melihat Andre hanya menatapnya dengan pandangan terluka, seolah Nayla baru saja menyakitinya. Dalam hati, Nayla ingin Andre memeluknya, membujuknya, dan menenangkannya. Namun, tangan Andre tidak bergerak sedikitpun untuk menggapainya.

Andre mengepalkan tangannya, menahan emosi yang menguasai dirinya. Andre menghela napas. Dia lalu berdiri dan masuk ke dalam studio musiknya, meninggalkan Nayla yang makin terisak karena Andre beranjak dari tempatnya.

Selang beberapa menit kemudian, Andre kembali ke ruang tamu dan mengulurkan selembar kertas foto lusuh pada Nayla. Nayla mengelap bekas air matanya dengan punggung tangannya sebelum dia mengambil kertas itu dari tangan Andre.

Nayla melihat dirinya di dalam foto tersebut dalam versi yang lebih muda dan masih dalam seragam SMA-nya. Dia tersenyum manis dan tatapannya penuh damba ke seseorang yang harusnya juga ada di dalam foto itu, tetapi sudah disobek.

"Bagian Mikanya udah aku sobek dan buang," kata Andre. "Ini bukti kalau aku memang kenal Mika dan aku suka kamu dari SMA. Foto itu aku ambil di tempat les. Waktu kamu dan Mika lagi jalan di koridor. Mika mau masuk kelas dan kamu menemaninya."

Tanpa diceritakan pun Nayla ingat. Dia selalu mengantar Mika ke kelasnya dan mendengarkan apa saja yang dicelotehkan oleh cowok itu padanya.

"Kamu menyukai Mika, tapi Mika enggak. Sedikit pun dia nggak suka. Tapi kenapa aku harus ngomong sama dia tentang perasaan aku ke kamu? Karena di mata dan hati kamu cuma ada Mika. Aku mau Mika juga tahu itu. Andai saat itu Mika bilang suka sama kamu, aku akan mundur, Nay. Karena kamu pasti bahagia sama dia. Tapi Mika bilang ambil aja kalau aku suka. And, that's what I've been doing til now. Mengambil kamu dan membuat kamu bahagia. Jadi, Nay, kalau sekarang kamu berpikir aku yang seenaknya minta-minta kamu, coba kamu pikir ulang."

"Tapi ... Mika?"

"Ya, kita berdua memang mengatakan sesuatu tentang hal ini. Terserah kamu mau percaya sama siapa. Tapi yang pasti, aku nggak akan semudah Mika melepaskan kamu, sekalipun kamu memilih untuk meragukan aku dan kembali pada Mika."

Nayla terdiam cukup lama setelah mendengar kata-kata Andre. Perkataannya tajam dan tegas. Nayla tahu Andre bersungguh-sungguh dengan kata-katanya barusan. 

Andre menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.

"Aku anter kamu pulang sekarang," kata Andre sambil menarik tangan Nayla. Nayla tidak memberontak sedikit pun. Dia hanya mengikuti langkah kaki Andre.

Itu perjalanan pulang yang sangat lama dan diselimuti keheningan sepanjang waktu. Pun tidak ada genggaman tangan dan celotehan ringan mereka.

Seperti inikah kisahnya dengan Andre akan berakhir? Nayla membatin sedih dalam hatinya.

***

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang